Heeseung hampir menangis melihat keadaan Jaeyun saat ini. Wajah penuh memar, mata basah bangkak, luka berdarah dan tangan yang masih gemetar. Terlebih bagian bawah Jaeyun yang hanya terbungkus kain sepray– Heeseung melilitnya buru buru tadi, bergegas menggendong Jaeyun untuk segera pergi. Darahnya sudah naik, persetan dengan semua.
Langkahnya berderap menuruni anak tangga. Tergesah, cemas, dan hampir gila. Mengabaikan semua suara bising dari pelayan pelayan di kediaman keluarga Shim yang ricuh melihatnya, bahkan teriakan Nyonya besarnya yang tiba tiba berlarian hebo menghampir Heeseung dengan kepanikan dalam suaranya.
"Ada apa ini? Jaeyun kenapa? Sayang, yaampun kamu kenapa bisa gini?" dan semua kata kata cemas terucap tanpa beraturan. Serat akan rasa khawatir yang sama gilanya seperti yang Heeseung rasakan.
Heeseung hanya diam, memanatap dalam gejolak yang membentur kepalanya. Tak berniat mengatakan apa apa.
Bibi Kim yang sejak tadi mengekor di belakang Heeseung buru buru menahan Nyonya Shim, mengabarkan jika keadaan sulung mereka sama parahnya di atas. Membuat Nyonya Shim seketika abai dan langsung meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.
Ada ke hampahan mendadak yang terngelam dalam lamunnya. Genggaman itu hilang begitu saja dari Jaeyun tepat di depaan mata Heeseung. Seperti menjelaskan sesuatu yang baru dia sendiri sadari.
Bahwa ada yang salah. Bahwa keadaan Jaeyun yang segini parahnya tidak lebih penting dari bajingan diatas sana yang sudah menghancurkannya.
Bahwa kehangatan yang dia tau sejak lama, tidak pernah benar benar nyata bagi Jaeyun.
Maka tanpa menoleh lagi, Heeseung kembali melangkah. Sunyi dan dingin. Membawa Jaeyun dalam dekapan paling nyata miliknya dan pergi dari neraka gila ini.
"Kita mau kemana?" Matanya masih terpejam lemah, suara itu begitu parau, serak, nyaris tidak terdengar. Namun Heeseung masih bisa mendengarnya, dia tau jika Jaeyun masih sadar. Dia bisa merasakan nafas pendek pemuda itu di lehernya sejak tadi.
Dia mendudukan Jaeyun di kursi depan untuk penumpang, memasangkan sabuk pengaman dan menurunkan sandaran kursi agar lebih nyaman. Heeseung melakukannya dengan hati hati, bahkan untuk melepaskan genggaman Jaeyun pada bajunya.
"Kita kerumah sakit, oke " Heeseung berujar lembut. Dia mengusap tangan Jaeyun, meletakannya hati hati di atas perut pemuda itu sebelum menutup pintu. Heeseung melaju segera setelahnya, membawa mobilnya buru buru.
Sepanjang jalan ponsel Heeseung berdering tanpa henti, dari Ayahnya, Om Shim, dan Ibunya. Entah masalah apa yang tengah melandanya. Jaeyun sendiri tidak henti merancu.
"Jangan, gw gk mau. Gw gk papa. Heeseung gw gk mau. Gk. Jangan kerumah sakit, please. Gw gk papa..." ucapnya tidak jelas. Suara ringisan lolos bersaman dengan rentetan kata lainnya. Begitu lemah. Tanganya berusaha menggapai Heeseung susah payah.
Kilasan itu datang seperti ombak di kepala Jaeyun, berdenyut. Mulai dari kemarahan Ayahnya, rasa malu, jijik, dan rasa mual yang meremas perutnya. Semua kejadian yang baru dia alami berputar ke kepalnya tanpa henti. Seperti momok. Membuatnya sesak dan tidak nyaman.
Dia bahakan tidak yakin bisa menyebut dirinya sendiri sebagai korban. Seperti apa yang Taehyung katakan, Jaeyun pantas menerimanya, semua ini terjadi karna dirinya. Salahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
Fiksi PenggemarHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
