bab 14

877 69 13
                                        

Harusnya segala pikiran yang membuat riuh isi kepalanya saat ini sudah lenyap, karena setau Heeseung olahraga bisa mengalihkan semuanya. Sesi latihanya sudah sangat padat dan sengaja di buat berat. Tapi Jaeyun dengan ketengilnya masih saja muncul dan berkeliaran bebas di kepala Heeseung.

Lihat saja sekarang, bahkan Jaeyun bisa muncul di belakang pelatihnya sambil mengerling jahil pada Heeseung.

" sialan"

" kamu ngomong sama saya?" Sang pelatih menoleh kebelakangnya dan menatap Heeseung bergantian. Memastikan kepada siapa kliennya ini bicara.

Dan pada detik berikutnya Jaeyun menghilang entah kemana. Heeseung perlu mengerjapkan matanya beberapa kali hanya untuk memastikan jika Jeayun yang dilihat itu asli atau hanya halusinasinya saja.

" anu- bukan gitu maksud saya"

" set nya keberatan? Masnya mau stop dulu?" Tawar pelatihnya.

Jaeyun lagi lagi muncul dan mengejeknya secara terang-terangan didepan wajahnya. Berkata kalau Heeseung itu lemah, kurus, cungkring dan cupu. Membuat Heeseung di rundung rasa kesal dan sekali lagi mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengusir sosok menyebalkan Jaeyun di depan wajahnya.

Dan selanjutnya malah muncul bayangan ketika si anak osis itu menarik Jaeyun darinya dan mendorong Heeseung menjauh.

" si bangke" umpat Heeseung sekali lagi tanpa sadar. Kali ini membuat pelatihnya mengerutkan kening.

Menyadari perubahan raut pelatihnya membuat Heeseung buru buru minta maaf dan menyelesaikan sesi latihanya dengan lebih fokus serta sekeras mungkin mengabaikan setiap bayangan yang muncul di kepalanya, terutama jika itu menyangkut Shim sialan Jaeyun.

" hari ini kerja bagus. List menu kamu untuk besok sudah saya kirim. Usahakan kalo sempat kamu ambil lari besok pagi sebelum sekolah. Sebentar aja sekitar 30 menit. Paham kamu?"

Heeseung hanya mengangguk, tubuhnya sudah luar biasa lelah padahal pelatihnya sudah repot repot untuk membantunya pada sesi pendinginan dengan menekuk kaki dan memijat lengannya sedangkan Heeseung hanya duduk disalah satu alat angkat beban yang ia gunakan sebelumnya tanpa melakukan apapun.

Sampai ketika sopirnya datang dan Heeseung bisa beristirahat lebih lama di dalam mobil selama perjalanan. Melalui jalanan ramai di jam malam untuk menjemput adiknya dari les menari di sekolahnya.

" abang sakit?"

Heeseung bisa merasakan telapak tangan hinggap di keningnya dan dia baru tesadar jika sedari tadi ia tertidur. Ketika Heeseung terbangun sudah ada wajah Ni-ki didepannya.

" bang Heeseung? "

"Hm?" Heeseung menyaut lalu mengup. Dia memperbaiki posisinya lalu membatu Ni-ki menyimpan tasnya. "Gimana latihannya?"

"Seruu bang. Ni-ki suka banget. Tapi Ni-ki takut kalo mama sama ayah tau mereka bakal marah"

" gampang nanti biar abang yang urus. Di bolehin pasti. Kamu tenang aja" dengan khas Heeseung mengusap gemas kepala adiknya lalu terhekeh melihat senyum adiknya menguar begitu senang.

" tapi latihan yang bener kamu"

"Iyaaa"

Mobil hitam itu keluar dari pekarangan sekolah dan kembali menyusuri jalanan sebelumnya. Membiarkan dua kakak beradik yang hubunganya mulai menghangat bercakap cakap ringan diiringi gelak tawa.

Heeseung tidak pernah mengira jika adiknya punya selerah humor yang mirip denganya. Ni-ki tidak seburuk yang dia pikirkan dulu. Selain lucu, adiknya ini bisa sangat penurut dan patuh padanya.

Return (Antagonis) || HEEJAKETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang