bab 29 -part 2

571 55 59
                                        

Tempat itu sangat ramai—penuh suara, gelak tawa, dan musik khas permainan. Game center pusat kota. Tempat yang asing bagi Jaeyun. Dia tidak pernah tahu tempat seperti apa ini, bagaimana cara kerja mesin-mesin itu, dan apa dulu yang harus dia coba.

Semuanya terlalu menarik, terlalu seru untuk tidak segera dia mainkan. Terutama shooting game di depan sana yang sudah mengunci perhatiannya sejak masuk tadi. Heeseung sampai harus repot-repot menyeret Jaeyun supaya tidak hilang darinya.

"Itu gimana cara mainnya? Gw mau main itu, Heeseung," Jaeyun menempel, bicara di dekat telinga Heeseung sambil menunjuk mesin mainan itu.

"Sebentar, kita beli kartu dulu. Lo emang gak pernah main beginian?" Heeseung mengeluarkan dompetnya, menepi ke meja kasir, dan memberikan beberapa lembar uang pada staf di sana.

Jaeyun menggeleng, mengundang tatapan tidak percaya dari Heeseung.

"Tapi, ke sini pasti pernah kan?" tanya Heeseung lagi. Kartu selesai dibuat dan diserahkan pada Heeseung.

"Pernah gak ya? Gw gak inget. Enggak deh kayaknya. Gw ke mall juga baru ini deh," jelas Jaeyun polos. Matanya melirik ke atas kiri, berusaha mengingat.

"Bohong," celetuk Heeseung langsung.

Wajah Jaeyun langsung merengut sebal.

"Serah lo dah," Jaeyun berucap malas. Tidak ingin ambil pusing dengan pertanyaan Heeseung. Dia hanya ingin segera mulai bermain.

"Buruan, ayok. Lama banget kata sambutannya. Gw mau main," ucapnya sambil menyeret Heeseung ke depan mesin permainan.

Heeseung terkekeh. Membawa Jaeyun ke tempat ini sepertinya pilihan tepat. Melihat betapa antusias bungsu Shim itu, Heeseung yakin dia menyukainya. Dan lucunya, Heeseung malah seperti membawa anak kecil yang baru pertama kali ke tempat bermain.

Jaeyun benar-benar tidak tahu cara kerjanya. Memegang alat tembak saja dia kaku, baru cukup luwes setelah Heeseung selesai menjelaskan dan permainan dimulai.

"Ini mulai?"

"Iya, tembakin zombi-zombinya cepet!"

Jaeyun mulai menembak. Namun karena belum terbiasa, tembakannya banyak meleset. Untunglah ada Heeseung, zombi-zombi yang mendekat ke arah Jaeyun semua berhasil ditembak mati.

"Mereka cepat banget. Mainnya keroyokan, anjir," semprot Jaeyun sebal begitu level pertama selesai. Skor Jaeyun sepuluh kali lipat lebih kecil dari Heeseung, membuatnya tidak terima.

"Ya emang gitu mainnya. Kalo gak mau keroyokan, main bebek-bebekan aja kita." Balas Heeseung, dia mengacak rambut Jaeyun gemas. Lucu sekali—selama permainan, Jaeyun lebih banyak teriak ketimbang menembak. Membuat Heeseung tertawa melihat kelakuan bocah Shim itu.

"Mati lo, anjing!" teriak Jaeyun ketika kerumunan zombi menyerbu ke arahnya. Dia menembak habis zombi-zombi di depan layar monitor itu.

"Seru gak?"

"Gak asik."

Kemenangan ada di tangan Heeseung, sedangkan Jaeyun menanggung kekalahan. Sebalnya lagi, senyum tengil Heeseung itu terpancar begitu pongah, membuat Jaeyun jadi ogah mengulang game ini lagi.

Akhirnya mereka pindah ke boxing strength tester. Setelah mendengar penjelasan Heeseung, game ini hanya perlu dipukul sekali untuk melihat seberapa besar kekuatan pukulan, dan itu yang akan menjadi skornya. Jelas Jaeyun percaya diri.

"Kalo lo bisa ngalahin gw, gw gendong lo sampe mobil," celetuk Jaeyun penuh percaya diri. Dia memasang sarung tinju di tangannya.

"Gak mau gw. Gak menarik," balas Heeseung sambil menempelkan kartu pada mesin. "Cium aja," sambungnya lagi.

Return (Antagonis) || HEEJAKETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang