Jaeyun menaiki anak tangga menuju lantai dua kediaman keluarga Shim. Malam itu tidak ada yang tersisa selain sang ibu yang menanti mereka pulang- lebih tepanya menanti Tuan Shim pulang. Dan tidak butuh banyak kata, Jaeyun langsung membungkuk pamit dan segera pergi ke kamarnya.
Heeseung tadi cerita, jika mungkin mereka akan sering bertemu dalam keadaan seperti tadi untuk kedepannya. Ayah mereka punya urusan pekerjaan yang mungkin akan berada dalam masa yang panjang. Dan itu cukup membuat Jaeyun merasa gelisah. Bahkan hanya untuk punya ketenangan malam ini saja.
Ruangan itu gelap dan Jaeyun tetap enggan menyalakan lampunya. Hanya ada cahaya remang rembulan yang masuk dari jendela kamarnya. Tumpukan buku di bawah ranjangnya masih berantakan- tercecer dan beberapa terbuka dengan coretan rumus. Didindingnya penuh gambar dan foto keluarga. Salah satu sudutnya terdapat foto anak kecil diatas podium dengan mendali emas dan disisi lain lagi ada foto dirinya dengan sang kakak memegang piala.
Jaeyun menjatuhkan dirinya keatas kasur. Hari ini otaknya dipakai berfikir terus hingga membuatnya sangat lelah. Biasanya butuh 1 hari full terjun ke arena dan mendapat beberapa pukulan untuk bisa kembali membuatnya berfikir jernih dan lepas dari perasaan tidak nyaman. Artinya besok Jaeyun butuh bolos dan menemui Bangchan.
Sialnya, ancaman Heeseung tadi tiba-tiba terlintas dipikirannya.
Demi tuhan
Jaeyun berdecak. Dengan malas dia bangun dari tidurnya dan segera melepas seragam sekolahnya sebelum melangkah memasuki kamar mandi.
Dalam temaram malam, ruangan Jaeyun tampak berantakan, dingin, suram, dan mati. Sampai sebuah cahaya kecil tiba tiba muncul dengan getaran lembut.
Sebuah pesan masuk.
" besok gw tunggu lo di depan gerbang sekolah. Jangan bolos. Ngerti?"
Dari Lee Heeseung.
....
.
.
.
Return (Antagonis)
By Js
Mungkin karena ujian akhir semester sebentar lagi akan di mulai. Makanya sepanjang jalan jadi banyak siswa sekolahnya yang terlihat membaca buku sambil berjalan, nonton video tutor, bahkan mengerjakan soal di ponsel mereka. Untuk anak juru kunci seperti Jaeyun ini melihat hal seperti itu jelas bukan gayanya sekali. Lihat rumus saja, Dia mau muntah.
Pagi ini dengan berat hati Jaeyun melangkahkan kakinya menuju sekolah. Masih dalam kegelisaan semalam yang belum kunjung reda. Dan bersaman dengan itu Heeseung muncul dalam pandangannya. Heeseung berdiri menghadap kearanya dengan kedua tangan terlipat dan senyum menyebalkan diwajahnya.
" udah kayak sikopat lo senyum begitu, ayok dah masuk" sarkas Jaeyun, dia menarik pipi Heeseung sebelum merangkulnya masuk.
" gw kira lo bakal bolos lagi"
" dengan lo yang suka ngamcem mau ngadu ke bokap gw? "
" setakut itu? lo percaya banget gw bakal ngadu?"
" e... engga sih-" Jaeyun menimang, dia berfikir ingin menjawab apa. Namun matanya tiba tiba menagkap raut sinis dari seseorang yang berada di tengah segerombolan anak basket disana.
Jaeyun tersenyum muak membalasnya, dan secepat itu juga senyuman itu berubah sangat manis dihadapan Heeseung.
" kan lo kemaren yang bilang kangen sama gw" Jaeyun mengerlingkan matanya jahil. Menggoda Heeseung yang sekarang mendadak berkedip kikuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
Fiksi PenggemarHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
