bab 30

607 56 19
                                        

Di tengah dingin dan sesaknya malam, Jaeyun menatap kepergian Heeseung dalam kepeningan yang hampir merenggut kesadaranya. Lorong itu sepi, minim cahaya, dan pengap. Dia menatap tangannya sendiri dalam kekacauan dan penyesalan yang dalam.

Suara riuh penonton pertandingan masih bisa terdengar jelas. Ramai, berisik, namun tetap tak mampu melepaskan Jaeyun dari pikirannya yang kalut.

Pukulan itu tidak seharusnya dia layangkan. Dan kata kata itu– Jaeyun terlalu sakit untuk mengulangnya. Dan lebih dari itu kehampaan yang memeluknya terlalu pekat seperti perginya pria itu bukanlah hal nyata yang dia harapkan.

Dan satu satunya yang tersisa dari bayangan Heeseung di sana hanya Jaket hitam yang tergeletak di bawah kakinya. Jaeyun menatapnya penuh sesal. Dan lebih dari itu– Jaeyun ragu. Dia takut. Bahkan saat ingin mengambilnya, dia ingin menyimpanya, satu satunya yang bisa dia miliki tanpa takut menentang isi dunianya.






































"Itu tadi Jaket lo, Jake?"

"Bukan"

"Keliatan sih, dari bentukannya itu pasti barang mahal. Ck, Erik.. Erik... Itu pasti hasil dia mungut  punya orang di arena tadi, ini bakal jadi koleksi Erik sih kata gw. Gk paham lagi gw, seberapa banyak barang yang mau dia tumpuk di loker sih? Clepto.. clepto..."









































Dan semua menjadi buram.

Saat genangan airmata Jaeyun kecil hampir menetes, Taehyung dengan cepat datang memeluknya. Mendamaikan hati adik kecil kesayangannya itu. Jaeyun tidak sengaja merusak mainan miliknya sendiri dan Taehyung memberikan mainannya sebagai ganti.

"Jangan nagis, nanti kakak bilang Ayah buat beli baru ya. Sekarang pakai punya kakak dulu" bujuknya. Taehyung mengusap lembut airmata di pipi tembam Jaeyun lalu tersenyum.

Jaeyun menurut, dia mengangguk lalu memeluk Taehyung lagi.

Bagi Jaeyun, Taehyung itu seperti pelangi. Warnanya selalu indah. Mencerahkan kelabu di hatinya. Dia tidak perna lupa betapa dalam rasa sayangnya pada sosok itu. Seorang Kakak dari keluarga yang dia tumpangi.

Dari sepanjang hidupnya, tidak ada yang lebih baik memperlakukan dan menyayangi Jaeyun lebih dari apa yang Taehyung lakukan. Dan nyatanya Taehyung itu seperti harta karun baginya. Ia ingin menjaganya, menyimpannya dan memilikinya selamanya.

Sampai hari itu tiba seperti badai. Kenyataan pahit itu membuat Taehyung berubah.

Mereka saudara satu Ayah. Itu membuat Taehyung marah. Dan sejak saat itu, hari hari bahagia Jaeyun berubah menjadi neraka.













































Pagi itu suasana mendadak mencekam ketika Taehyung masuk dan langsung mengacak acak isi kamar Jaeyun. Lemari di buka, laci dan semua tempat, tak terkecuali satupun.

Jaeyun yang baru masuk kamar mandi pun terpaksa keluar karena memdengar suara gaduh dari dalam kamarnya. Saat matanya menemukan sosok sang Kakak, kakinya mendadak berhenti bergerak, nyalinya ciut. Dan segala kekhawatiran muncul. Dia takut ketahuan.

Mata Jaeyun langsung melirik tumpukan bantal di salah satu sisi kasur. Tempat dia menyimpan bungkusan yang baru saja di antar Bangchan.

Sialnya tepat saat itu Taehyung menolah dan langsung mengikuti arah tatapan Jaeyun.

Return (Antagonis) || HEEJAKETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang