Cerita Masa Lalu

2.7K 172 41
                                        

September, 1994

Ruangan terasa gerah saat pembahasan soal negeri, kritikan dari berbagai sudut yang prabowo dengarkan juga membuatnya sulit membantah. Di dalam ruangan itu dengan 6 orang lainnya mereka duduk mengeliligi meja persegi panjang dengan sofa nyaman.
(Kelak mereka adalah orang-orang yang dikenal sebagai Penggerak Reformasi).

Prabowo hanyut dalam lamunannya sendiri, ia juga mengingat tentang pidatonya seminggu lalu di UI. Dimana disitu dia juga mengkritik pemerintahan presiden soeharto di depan ratusan mahasiswa.
Lamunannya buyar saat salah seorang memanggil nama "Bagaimana menurut mas bowo?"

"Ya tentu saja, beberapa kebijakan memang tidak memihak rakyat. Seperti yang sering pak mitro kemukakan beberapa hal memang tidak sejalan dengan. . ." Jawaban prabowo terputus.

Melihat hal itu salah seorang bertanya lagi "kamu disini memposisikan diri sebagai seorang menantu,prajurit atau sebagai seorang warga negara yang menginginkan kemajuan untuk bangsanya?"

"Tentu saya ingin kemajuan untuk bangsa, saya memang berpendapat beberapa hal harus berubah. . Mungkin presiden mau mendengar jika pihak sebrang mau berdialog dengan beliau"

Salah seorang bersuara membahas soal kinerja prabowo dikesatuan dan membandingkan dengan wiranto, mereka juga membahas soal isu-isu kemungkinan keberpihakan ABRI.

Suasana makin panas, selesai pertemuan itu larut malam prabowo pulang menggunakan mobil hitamnya didampingi edy dan dua ajudannya.

"

Suara mobil membangunkan titiek yang tertidur diruang tengah. Jam di dinding menunjukkan pukul 01.26 dini hari.

Titiek melihat beberapa ajudan lalu lalang,
"Bapak sudah pulang?" Tanya titiek lembut.

"Siap. Iya bu"

Mendengar jawaban itu perasaan lega menyelimuti hatinya. Titiek sempat khawatir karna prabowo hanya menelpon sore hari mengatakan ia akan pulang malam karna ada urusan tampa memberitahu lebih jauh akan pulang jam berapa padahal biasanya prabowo akan mengatakan dengan tepat jam berapa ia akan pulang. Hal itu membuat titiek sedikit khawatri.
Ia melangkah cepat melihat prabowo memasuki ruang tamu.
"Assalamualaikum" ucap prabowo melihat titiek yang mendekat.

"Walaikumsalam" sambut titiek sambil menyambut jaket suaminya itu dari tangan ajudan lain.

"Tas kerja saya letakkan di ruangan saya, habis mandi saya mau kesana" perintah prabowo pada ajudannya.

"Siap"

Tidak ada obrolan lanjut, prabowo yang tampak lelah berjalan lurus kedalam kamarnya. Sementara titiek hanya mengikutinya dari belakang.

Titiek menutup pintu saat keduanya sudah didalam kamar.
Prabowo melepas segala perlengkapannya dengan cepat.

"Titiek siapkan air hangat ya mas? Sudah tengah malam mandinya" ucap titiek sambil menyodorkan handuk.

"Tidak. Mandinya cepat saja, banyak pekerjaan yang belum selesai" jawab prabowo sambil berlalu kekamar mandi.

Titiek mengambil semua pakaian suaminya itu dan menaruhnya dibelakang dibantu asisten rumah tangganya.

Titiek melihat makanan dimeja makan yang sudah dingin, ia meminta untuk dihangatkan lagi. Titiek juga ikut membantu. belum semua makanan disajikan diatas meja makan terdengar suara prabowo yang sudah keluar kamar berbicara dengan asprinya.

Titiek mendekat saat prabowo akan ke ruang kerjanya.
"Mas, makan dulu yaa. . Sudah dihangatkan" ucap titiek lembut.

"Tidak usah. Tadi sudah makan diluar" jawab prabowo sambil melangkah keruang kerjanya.
"Oh iya, kalian makan saja dulu. . Itu ibu sudah siapkan" ucap prabowo pada supir dan dua ajudannya.

KESETIAANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang