(Bahagianya kedua besan)
Suasana sedang sangat sibuk dirumah prabowo subianto. Hanya tinggal menghitung hari acara pernikahannya dengan putri orang nomor satu dinegeri ini akan dilangsungkan.
Banyak sekali prabowo mendengarkan wejangan-wejangan dari keluarganya dengan wejangan gaya barat ataupun kejawaan.
Sanak saudara berkumpul bergantian menemuinya hanya untuk sekedar memberikan wejangan-wejangan terbaik mereka kepada prabowo.
Disela-sela kesibukan itu prabowo ingin menelpon seseorang, namun bagaimana bisa? Semua sudut dirumahnya ramai sanak saudara.
Satu-satunya tempat yang mungkin kosong adalah ruang kerja ayahnya dan disana ada telpon yang bisa ia gunakan pikirnya.
Prabowo berjalan dengan santai saja. Namun bianti melihat tingkah adiknya itu. Tepat didepan pintu ruang kerja ayahnya ia memperhatikan sekeliling. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing saat dirasanya tidak ada yang melihat ia bersiap untuk masuk, namun Sesaat sebelum prabowo membuka pintu ruang kerja ayahnya suara bianti menghentikan langkahnya.
"Hayoo. . Mau ngapain?"
Prabowo sedikit terkejut namun dengan cepat berusaha mengatasi situasi "lagi nyari papi, ada dimana ya?"
"Halahh. . Nyari papi apa nyari papi?" Desak bianti.
"Itu mba, nyari papi"
Senyum menggodq bianti dengan mata mengancamnya membuat prabowo mengulum senyum dan beranjak pergi.
Kembali pada wejangan-wejangannya, setiap yang memberikannya wejangan memintanya untuk tidak gugup dan santai saja. Prabowo menyikapinya dengan santun.
"Abang santai saja bang tidak usah tegang" hashim yang duduk disamping prabowo ikut berkomentar.
"Siapa juga yang tegang, insyaallah lancar" jawab prabowo.
Malam harinya prabowo duduk berdua dengan ibunya.
"Bowo, kamu sudah menentukan pilihanmu. Besok kamu akan Menikahi wanita yang kamu cintai. Ingatlah bahwa kamu sendirilah yang dengan sadar telah memilihnya menjadi pendamping hidupmu, dalam susah dan senang, dalam bahagia dan duka kalian harus selalu bersama. Dalam sebuah pernikahan tidak akan selalu mudah, akan ada godaan yang menerpa, jadi jangan pernah berdo'a pada tuhan untuk tidak menemukan masalah dalam pernikahanmu tapi berdo'alah pada tuhan agar kamu selalu diberi kekuatan untuk melewati setiap cobaan yang akan tuhan berikan. ingatlah juga bahwa kamu dan titiek hanyalah manusia biasa yang sama-sama memiliki kekurangan, namun itu bukan masalah justru dari memahami setiap kekurangan itulah kalian harus saling melengkapi satu sama lain dan saling menyempurnakan. Bowo, Bertanggung jawablah dengan setiap pilihan yang kamu ambil, bertanggung jawablah atas keluargamu kelak"
"Iya mami, terimakasih saya tidak akan pernah melupakan apa yang sudah mami ajarkan selama ini" jawab prabowo dengan suara rendahnya namun tegas.
"Mami berdo'a semoga pernikahanmu dengan titiek akan bersama selamanya hingga maut yang memisahkan" Ucap mami dora dengan haru dan penuh kasih.
"Aamiin, allah humma aamiin" prabowo memeluk ibunya itu dengan hangat.
---
Sementara titiek dikediamannya begitu malu-malu dengan setiap wejangan yang diberikan sanak saudaranya.
Gadis bersuara lembut dengan senyum malu-malunya itu hanya bisa menjawab singkat saat mendapat godaan-godaan dari keluarganya.
"Aduhh udah berenti nih kelayapannya. .
"Jangan sampai kesiangan lagi loh, sudah ada yang harus di urusin. .
"Alah. .bisa-bisa mas bowo yang siapin sarapan. Mba titiek kesiangan" celetuk mamiek.
Pokoknya semua menggoda titiek.
Entah mengatakan calon suaminya ganteng atau hal lainnya yang hanya bisa dibalas titiek dengan senyum malu-malunya.
Malam harinya titiek meletakkan kepalanya dipangkuan ibunya didalam kamarnya yang sudah penuh dengan hiasan tirai-tirai indah didinding.
Ibu tien dengan lembut mengelus kepala putrinya itu.
"Kenapa kok melamun, gak sabar ketemu laki-laki tampannya?" Tanya ibu tien lembut yang membuat senyum diwajah putrinya itu.
"Ibuuu. . " Balas titiek dengan suara lembutnya penuh malu.
Pak harto mengetuk pintu sebelum masuk kekamar putrinya itu membuat titiek seketika bangun dari pangkuan ibunya. Pak harto mengambil tempat duduk tepat disamping putrinya itu.
Kini titiek duduk diapit oleh ibu dan bapaknya.
Pak harto tak bicara. Hanya duduk melamun saja. Melihat hal itu titiek menyenderkan kepalanya dibahu bapaknya sambil menggandeng lengan bapaknya itu.
"Bapak dan putrinya sama saja. . " Ucap ibu tien dengan senyumnya.
"Nduk. . " Panggil pak harto pada titiek.
"Daleem. . " Jawab titiek serius sambil mengangkap kepalanya dari bahu bapaknya itu.
"Mulai besok. Insyaallah kamu akan menjadi istri seseorang.. . Ubah kebiasaan burukmu. Harus bisa mengurus suami, telaten merawat suami. Terlebih lagi suaminya itu salah satu prajurit terbaik bangsa ini yang sudah teruji berani berkorban untuk bangsanya, untuk tanah airnya" ucap pak harto.
"Iyaa bapak. . " Jawab titiek sedikit cemburu lantaran bapaknya terlihat lebih memperhatikan calon suaminya daripada dirinya.
Pak harto mengelus kepala titiek. "Nduk. . Bagi bapak mas bowo dan kamu sama saja, sama-sama anak bapak. Untuk bowo tidak perlu bapak ragukan lagi. Dia pasti akan menjagamu dengan baik, tak ada keraguan sedikitpun dihati bapak padanya. Jadi bapak tidak khawatirkan kamu, bapak justru khawatirkan bowo bila mana kamu tidak telaten mengurusnya sebab bapak mengenal baik dirimu. " Jelas pak harto tersenyum sambil menyentuh hidung putrinya itu.
"Iyaa. . Bapak tidak percaya sekali sama titiek. . Titiek akan merawat mas bowo dengan baik, bakal urusin mas bowo dengan baik" balas titiek tersenyum.
"Lihat ibu mu itu dari tadi senyum-senyum saja. . Dari awal ibumu itu lihat mas bowo sudah suka, sudah cocok karna 'ganteng' katanya." Ucap pak harto.
Sontak saja titiek tertawa kecil mendengar hal itu.
"Loh! Ya memang betul toh, ganteng. . Penampilan yang utama dong, biar gak malu kalo dikenalin sama orang-orang" balas ibu tien.
Tawa titiek tambah pecah mendengar pujian-pujian sengit yang dilayangkan kedua orantuanya untuk calon suaminya itu.
Tak lama mamiek datang mengatakan ada panggilan telpon dari keluarga prabowo untuk titiek. Melihat reaksi pak harto dan ibu tien mamiek melanjutkan "sepertinya budenya mas bowo" ucapnya santai.
Pak harto maupun ibu tien tersenyum.
"Yasudah sana. . Boleh angkat telpon dulu barangkali ada hal penting yang mau disampaikan mas bowomu itu" goda pak harto seolah sudah bisa menebak pasti calon mantunya itu yang menelpon malam-malam begini.
Titiek tersenyum malu dan beranjak pergi untuk menerima telpon setelah mendapatkan izin.
KAMU SEDANG MEMBACA
KESETIAAN
FantasiKisah ini bukan tentang titiek dan prabowo, kisah ini tentang penyatuan dua keluarga yang besar, berpengaruh pada masanya. Dua keluarga yang sangat berbeda budaya dan latar belakangnya. Banyak yang berkata, kisah mereka berakhir dengan tragedi nan...
