Pagi hari ini, Jang-won telah bersiap-siap untuk pergi. Ya, dia akan pergi pagi ini. Ia sungguh di pindahkan oleh ayahnya ke negeri asing baginya.
Jang-won menghela nafas dan menaikkan kopernya ke dalam bagasi mobilnya. Juga beberapa barang lainnya yang di perlukan.
Setelah itu, bagasi mobil di tutup dan Jang-won masuk ke kursi belakang penumpang. Sedangkan yang menyetir adalah sopir keluarganya.
"Sudah, Tuan?" Tanya sopir itu.
Jang-won hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian mobil itu pun mulai melaju menuju tujuannya.
•••
Sedangkan itu, Hee-na tengah berada di kelasnya. Bahkan ia hanya bisa melamun saat guru menjelaskan. Ada suatu hal yang menganggunya. Sangat menganggunya. Ia tak melihat Jang-won sedari tadi. Kemana anak itu? Pikirnya. Tapi menolak memikirkannya, Hee-na mencoba fokus pada penjelasan guru.
Tapi tak bisa. Sungguh, ada aja yang membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.
"Kenapa gue harus mikirin Jang-won? Kenapa? Apa gunanya memikirkan pria tidak berperasaan itu?!" Batinnya.
Tapi tiba-tiba saja sebuah ketukan kencang dari meja guru menyadarkannya.
"Hee-na! Kamu tidak memperhatikan saya dari tadi? Apa yang kamu pikirin sampai tidak memperhatikan saya?!" Omel guru itu.
"Gaada, bu. Maaf.." Jawab Hee-na pelan.
"Berhenti melamun dan perhatikan apa yang saya jelaskan!" Tegas guru itu. Hee-na hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tapi semakin dia coba untuk memperhatikan. Semakin tak bisa juga ia fokus. Untung saja tak butuh waktu lama bel berbunyi. Menandakan pelajaran pertama itu telah selesai. Hee-na menghela nafas lega.
Namun, tak lama kemudian Seo-woo berlari menghampiri Hee-na yang tengah berada di kelasnya. Hee-na tersentak kaget dengan kedatangan pria itu yang tiba-tiba.
"Hee-na!! Gue mau bicara sama lo. Ini penting banget." Seo-woo berbicara dengan nafas ter engah-engah karena berlari tadi.
"Apa?" Jawab singkat Hee-na.
"Ini soal Jang-wo-" Belum selesai berbicara. Hee-na kembali menyela ucapannya.
"Gue gamau denger. Apapun tentang dia gue gamau denger!" Tukas Hee-na.
"Hee, please dengerin dulu. Gue gabisa jelasin lama-lama. Tapi yang pasti Jang-won mutusin lo bukan karena keinginannya."
"Terus karena apa? Dia sendiri yang ngomong dia emang mau mutusin gue!"
"Dia ngelakuin itu karena terpaksa. Gue sebenernya dilarang sama dia buat ngasih tau hal ini ke siapapun. Cuma karena mendesak, gue harus ngasih tau hal ini ke lo." Jeda Seo-woo sebentar.
"Jang-won mutusin lo karena di suruh papanya. Dia gak ada niat sekali pun buat putus hubungan sama lo. Tapi papanya yang paksa dia. Dan Jang-won takut papanya bakal ngelakuin hal bodoh ke lo, kalau semisalnya dia masih bersikeras menentang kemauan papanya. Jadi dia ga punya pilihan lain. Dan sekarang dia lagi di perjalanan menuju bandara. Dia bakal di pindahkan ke luar negeri sama papanya hari ini." Jelas Seo-woo panjang lebar.
Hee-na mematung di tempatnya. Mencoba mencerna semua penjelasan dari Seo-woo. Jadi itu semua terpaksa? Jadi sebenarnya Jang-won mutusin dia bukan karena dia ga punya perasaan lagi, kan? Pikirnya.
Hee-na segera tersadar dengan kalimat terakhir Seo-woo. "Jang-won bakal pergi.. Dia bakal-" Tak perlu menunggu ucapannya sendiri selesai, Hee-na segera bangkit dari kursinya dan berlari keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND
RomancePertemuan pertama memang menyebalkan. Pertemuan yang awalnya kupikir itu adalah penyesalan dalam hidupku. Tapi ternyata aku salah.. Aku merasa sangat beruntung, karena dengan pertemuan yang awalnya terasa menyebalkan, tapi sekarang menjadi kenangan...
