Jang-won terbelalak kaget melihatnya.
"Hee-na? Siapa dia?" Tanyanya dengan emosi yang tertahan.
Jelas, pria lancang itu langsung melepaskan genggaman tangannya dari lengan Hee-na.
Hee-na menggeleng kuat.
"D-dia.. Aku juga gatau, aku gak kenal!" Jelas Hee-na.
"Gak kenal? Terus ngapain pegangan tangan!?"
"Dia yang lancang Won! Aku gak mungkin megang tangan cowok lain.."
Jang-won terdiam sebentar. Mencoba mencerna kata-kata yang di ucapkan Hee-na. Apa ini maksudnya?
"Kamu gak bohong kan?" Tanya Jang-won memastikan. Ia masih ragu dengan kata-kata Hee-na.
Hee-na menggeleng. "Gak, aku gak mungkin bohong sama kamu"
Jang-won mencoba untuk tetap percaya. Dia melihat ekspresi Hee-na yang matanya menyorot melas. Seperti memintanya untuk mempercayainya.
"Lo pacarnya?" Tanya pria itu memecahkan keheningan.
"Iya! Kenapa? Berani banget lo lancang megang cewe gua!!" Omel Jang-won.
"Terserah gue lah mau ngapain!" Jawabnya.
"Lancang ya lo!?" Kesal Jang-won.
Hee-na yang merasa suasana disini mulai ribut pun memutuskan untuk menenangkan Jang-won agar tidak membuat keributan di cafe tersebut. Terlebih lagi orang-orang disana mulai memperhatikan mereka dan merasa terganggu.
"Udah! Gausah berantem. Ayo kita pulang aja ya?" Ujarnya.
"Loh, gabisa gitu dong! Dia udah lancang sama kamu, dia mancing emosi aku tau gak?" Jawab Jang-won.
Pria itu hanya tersenyum licik kepada Jang-won. Ayolah, itu membuat Jang-won semakin kesal dan rasanya ingin memukulnya sampai ia tak bisa tersenyum seperti itu lagi.
Hee-na yang sadar akan kemarahan Jang-won pun segera menariknya keluar dari cafe tersebut. Yaa..untuk mencari aman saja. Karena akan menjadi keributan jika dibiarkan.
Jang-won tak merespon lebih jelas, ia hanya berjalan ke arah motornya yang terparkir. Mereka memutuskan untuk pulang, dan berharap kejadian seperti itu tak akan pernah terjadi lagi. Sungguh membuat Jang-won tak mood.
Di perjalanan sangat sunyi sekali. Sedari tadi Jang-won tak ada mengeluarkan suara apa pun. Hee-na merasa tak enak pada Jang-won, ia pun mencoba membuka topik untuk memecahkan keheningan.
"Sayang, mau makan dulu gak?" Tanya Hee-na.
"Gak usah, kenyang" Jawabnya singkat tapi jelas.
"Mau jalan-jalan dulu gak??" Hee-na mencari topik lain lagi.
"Gak, udah malem" Lagi-lagi hanya 3 kata yang keluar dari mulut Jang-won.
"Kamu marah ya?" Hee-na menaruh dagunya di pundak Jang-won dan memeluk pinggang Jang-won.
"Gak" Hanya satu kata, iya satu kata doang yang keluar dari mulutnya.
"Itu kamu jawabnya singkat banget, berarti marah"
"Diem, bisa gak!?" Jang-won malah menaikkan nada bicaranya. Membuat Hee-na kaget.
"Ihh, kok kamu ngegas sih"
"Lo gak bisa diem!" Bukannya menjawab dengan nada lembut, Jang-won malah semakin membentaknya.
Lama-lama Hee-na geram juga. Udah sabar dia dari tadi sama respon Jang-won, tapi sekarang gak bisa lagi. Dia udah bener-bener gak tahan sama emosinya.
"HEH LO TUH UDAH DI BAIKIN MALAH NGELUNJAK!" tegas Hee-na.
"Kok malah kamu yang marah?" Jang-won ikutan kaget.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND
RomancePertemuan pertama memang menyebalkan. Pertemuan yang awalnya kupikir itu adalah penyesalan dalam hidupku. Tapi ternyata aku salah.. Aku merasa sangat beruntung, karena dengan pertemuan yang awalnya terasa menyebalkan, tapi sekarang menjadi kenangan...
