18. Sebuah Jawaban

106 12 0
                                        

Tiba-tiba saja lampu utama cafe itu dimatikan dan menyala lampu kelap-kelip yang terlihat indah. Lampu itu berwarna pink bercampur dengan warna biru.

Sontak Hee-na menengok kearah belakang dan mendapati sosok pria jangkung yang tengah berdiri sembari membawa buket bunga beserta tote bag.

Hee-na semakin dibuat bingung oleh Jang-won. Apa maksud semua ini? Hee-na tidak mengerti.

"Jang-won?" tanya Hee-na bingung tak mengerti.

"Do you want to be my girlfriend?"

Hee-na terdiam memikirkan jawaban yang pasti. Hee-na sangat bingung sekali.

"Jang-won.."

Terima or Tolak?

***

Jang-won masih menatap Hee-na dengan senyuman, menunggu jawaban yang tak pasti. Kapan jawaban akan keluar dari mulut Hee-na?

"A-aku.." ucap Hee-na terbata-bata.

"It's okay kalo kamu gamau jawab sekarang, bisa besok atau kapan pun saat kamu udah bisa ngejawab sesuai dengan isi hati kamu.." balas Jang-won lembut.

Hee-na hanya mengangguk. Sebenarnya ia merasa tak enak pada Jang-won, karena harus menunggu jawaban darinya yang entah kapan bisa ia jawab.

"Ini buat kamu, disimpen ya jangan ditinggalin kaya kemarin!" ledek Jang-won terkekeh kecil.

"Iya aku rawat.."

"Ini juga hadiah buat kamu" Jang-won memberikan tote bag yang ia siapkan untuk Hee-na.

"Hadiah untuk apa? Aku lagi gak ulang tahun loh.." ujar Hee-na.

"Emang kalo kasih hadiah harus nunggu ulang tahun dulu ya?"

"Engga sih"

"Yaudah terima aja, ini spesial untuk kamu!"

Hee-na menerimanya dengan senyuman yang muncul diwajah cantiknya. Ayolah, Jang-won paling tidak bisa melihat Hee-na tersenyum secerah itu, rasanya jantung Jang-won kembali berdebar lebih kencang.

"Jang-won? Kamu kenapa kok liatin aku kayak gitu?" tanya Hee-na yang bingung dengan tatapan yang diberikan Jang-won padanya.

"E-eh..gapapa kok" Jang-won kembali tersadar.

"Kamu gak makan? Udah aku pesenin masa gak dimakan? Makan dulu yuk!" lanjut Jang-won mengalihkan topik pembicaraan.
Hee-na hanya mengangguk patuh.

"Btw, sekarang kamu manggilnya 'aku kamu' nih? Biasanya pake 'lo gue', tumben" ucap Hee-na.

"Ya gapapa, biar lebih enak aja! Kamu juga manggilnya 'aku kamu' tuh" jawab Jang-won.

"Ikutin kamu" balas Hee-na yang membuat Jang-won terkekeh gemas.

Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang saja. Bang-won mengantar Hee-na pulang.

-
Dimalam hari, Hee-na masih sibuk memikirkan jawaban untuk Jang-won. Haruskah ia menerimanya?

"Terima gak ya? Tapi masih bingung perasaan gue sebenernya tuh gimana!" ujar Hee-na entah pada siapa.

"Apa gue coba tanya Eun-ji? Kalo nanya ke Won-hae pasti ga bakal dikasih saran, dia aja orangnya dingin gak pernah bergaul sama cowok! Kalo Yeon-he...gimana ya, saran dia gaada yang bener!" lanjut Hee-na.

Hee-na kemudian mengambil ponselnya yang kini berada diatas meja belajarnya. Ia membuka kontak salah satu sahabatnya, Eun-ji. Lalu Hee-na menelepon Eun-ji.

"Hallo? Tumben lo nelfon gue!" ucap seseorang dari seberang telefon sana.

"Ji! Lo lagi sibuk gak? Kalo engga gue mau nanya!" balas Hee-na

MY HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang