Seok-yi akan pergi ke supermarket pagi ini. Karena ada beberapa barang yang harus ia beli. Sebenarnya itu perintah ibunya, jadi mau tak mau Seok-yi harus menuruti.
Ia tak bisa membantah perintah ibunya, meskipun sebenarnya dia sangat malas keluar pagi. Biasanya dia hanya hobi main game terus-terusan. Hingga menatap layar komputer tak ada henti.
Ibunya sudah seringkali memarahinya. Tapi tentu saja, Seok-yi akan terus mengulangi kesalahannya itu. Dia memang anak yang keras kepala dan susah di bilangin. Kalo aja bukan anaknya, pasti udah digebukin habis-habisan.
Karena hari ini juga libur, jadi tak ada alasan untuk menolak perintah ibunya itu.
Seok-yi akan pergi naik motor yang biasa dia gunakan untuk pergi ke sekolah. Ya, memang biasanya dia pergi naik motor. Kemarin aja dia pulang naik transportasi umum, niatnya biar bisa barengan sama Hee-na. Cari kesempatan emang anaknya.
Saat sudah sampai di tempat tujuannya, supermarket. Seok-yi langsung memarkirkan motornya di tempat yang sudah disediakan. Seok-yi masuk ke dalam supermarket yang dibilang besar juga tidak, dibilang kecil juga tidak. Intinya supermarket yang tidak terlalu besar.
Dia membuka ponselnya, mencari list belanjaan yang di perintahkan ibunya untuk di beli. Dia mengecek satu persatu produk yang harus di beli. Memasukannya ke keranjang belanjaan.
Setelah selesai, ia segera mengarah ke meja kasir seraya membawa keranjang belanjaannya itu yang sudah penuh. Kemudian membayar semua total harga belanjaan tersebut. Tak lupa juga memasukannya ke dalam tas belanja yang sudah ia bawa dari rumah. Karena kalo pake plastik ga bagus buat lingkungan, katanya.
Setelah selesai, Seok-yi memutuskan untuk kembali ke rumah. Tapi, karena ini masih pagi, Seok-yi memutuskan untuk membeli kopi hangat di cafe. Memang menjadi sebuah rutinitas setiap harinya bagi Seok-yi untuk minum kopi di pagi hari. Biasanya dia buat sendiri di rumah, cuma mengingat kopinya habis dan dia lagi malas buat bikin sendiri. Jadi dia memutuskan untuk beli di cafe.
Baru saja membuka pintu cafe dan berniat memesan. Dia melihat pemandangan yang tak dia suka. Ada Jang-won dan Hee-na yang lagi mesra. Gimana gak sebel.
Seok-yi memutar bola matanya malas saat melihat Jang-won asik tertawa dengan Hee-na. Saat ini Seok-yi sedang tidak mood menganggu mereka. Dia lagi banyak pikiran akhir-akhir ini. Gatau dah mikirin apa.
Seok-yi langsung memesan pesanannya. Dan setelah pesanan kopi panasnya jadi dia segera pergi dari cafe itu. Tak berminat melihat lebih lama Jang-won dan Hee-na.
Setelah itu ia mengendarai motornya. Pulang membawa belanjaannya.
Saat sampai rumah ia langsung menaruh tas belanjaan itu di meja dapur. Saat itu juga ada ibunya yang sedang sibuk memasak di dapur.
Saat Seok-yi hendak pergi menuju kamarnya. Langkahnya terhenti saat ibunya berbicara.
"Kenapa? Keliatan murung" Ucap ibunya.
"Gak papa" Jawab singkatnya.
"Kamu ga suka mama suruh?" Tanya sang ibu agak tegas.
"Bukan gitu, aku emang lagi mikirin sesuatu aja."
"Apa? Ada masalah?"
"Gak papa, yaudah Seok-yi ke kamar dulu yah" Seok-yi segera pergi begitu saja, karena merasa jika ia tetap diam di sana maka akan ditanya terus menerus.
Sementara itu, Seok-yi di dalam kamar mengalihkan pikirannya dengan bermain game di komputernya itu. Sesekali merenung, tentang apa yang baru dia lihat tadi.
Tapi entah apa yang Seok-yi sedang hadapi, dia malas memikirkan Hee-na dan Jang-won. Jadi hari ini dia hanya main game seperti biasa.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND
Roman d'amourPertemuan pertama memang menyebalkan. Pertemuan yang awalnya kupikir itu adalah penyesalan dalam hidupku. Tapi ternyata aku salah.. Aku merasa sangat beruntung, karena dengan pertemuan yang awalnya terasa menyebalkan, tapi sekarang menjadi kenangan...
