Jang-won, kini dia menatap tajam ayahnya yang kini berada di meja makan. Orang tuanya sudah pulang dari luar negeri sejak beberapa hari lalu. Usai bekerja sekitar sebulan di sana.
Jang-won sungguh kesal sekarang. Ia menusukkan garpu dengan kuat pada roti panggang yang sedang ia makan itu. Dia sedang menahan amarahnya agar tidak membludak.
Ayahnya pun seolah tak peduli dengan tatapan putranya itu. Ayahnya hanya menatap datar putranya yang kini terlihat sangat kesal padanya.
"Kenapa?" Tanya datar sang ayah.
"Papa kenapa sih selalu ngatur hidup aku?!" Jang-won sangat kesal sekarang. Rasanya dia ingin sekali memaki-maki ayahnya ini, tapi dia tak bisa. Karena bagaimanapun yang duduk di depannya ini adalah ayahnya.
"Papa hanya ingin kamu hidup dengan baik. Papa kayak gini juga demi kamu. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang baik untuk hidup kamu." Jawab sang ayah.
"Pah! Ini hidup aku. Aku yang lebih tahu tentang hidup aku." Cetus Jang-won.
"Papa tahu ini hidup kamu. Tapi kamu putra papa satu-satunya, papa pengen yang terbaik buat kamu. Papa takut kamu salah pilih jalan."
"Tapi gak gini caranya! Dengan kayak gini, papa sama aja membatasi kebahagiaan aku! Papa membuat seolah hidup aku hanya bisa dikendalikan oleh papa!" Jang-won kini tak bisa sabar lagi. Sungguh, dia lelah menghadapi papanya ini.
"Kamu mau menuruti papa atau gak? Kalau kamu gak mau menuruti apa kata papa, papa bakal buat dia lebih jauh dari kamu." Ancam sang ayah.
"Papa? Please.. Kasih aku melakukan apapun yang aku mau. Kenapa begitu sulit? Aku juga pengen bahagia."
Sang ayah menghela nafas kasar. Ia menatap serius kearah putranya.
"Papa akan pindahkan kamu ke Australia."
Jang-won membelalakan matanya. Ia memukul keras meja makan itu.
"Papa!!" Teriak Jang-won.
Sang ayah tak menghiraukan teriakkan dari putranya. Membuat Jang-won semakin kesal. Jang-won pergi dari meja makan itu dengan kesal, seraya menggantungkan tas ransel hitamnya di pundak sebelah kanannya.
Ia menaiki motor ninja hitam miliknya yang terparkir di garasi rumahnya. Bergegas pergi menuju sekolah tanpa menyelesaikan sarapannya dahulu.
•••
Sementara itu, Hee-na berjalan memasuki kelasnya. Sedari tadi 3 sahabatnya sudah sampai duluan, karena mereka memang sering datang lebih pagi di banding Hee-na.
Di saat 3 sahabatnya yang sedang asik berbincang seraya tertawa, mereka langsung terdiam kala melihat Hee-na memasuki kelas.
Bagaimana tidak? Penampilan Hee-na sangat kacau. Jauh berbeda dari biasanya. Rambutnya yang biasanya selalu ia kuncir kuda rapih, kini hanya dicepol asal. Sehingga terlihat agak berantakan. Juga mata sembabnya yang terlihat jelas, seperti habis menangis semalaman.
Tidak hanya itu, dasi yang ia gunakan juga tampak berantakan dan tak rapih. Sungguh berbeda dengan hari sebelumnya, biasanya Hee-na selalu tampil rapih. Tak pernah berantakan bahkan jika ia datang terlambat. Tapi kini, ia sungguh berantakan.
Hee-na berjalan ke mejanya dan menarik kursinya. Lalu duduk dan langsung menaruh kepalanya di atas meja. Temannya semakin bingung, ada apa dengannya.
"Hee?" Panggil Yeon-he.
Tak ada jawaban. Hee-na bahkan tak menjawab atau bereaksi apapun. Mengangkat kepalanya saja rasanya dia begitu enggan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND
RomancePertemuan pertama memang menyebalkan. Pertemuan yang awalnya kupikir itu adalah penyesalan dalam hidupku. Tapi ternyata aku salah.. Aku merasa sangat beruntung, karena dengan pertemuan yang awalnya terasa menyebalkan, tapi sekarang menjadi kenangan...
