Bel istirahat berbunyi, waktu yang paling ditunggu-tunggu semua murid. Tentu saja, guru akan menghentikan jam pelajaran karena saatnya istirahat.
Walaupun istirahat hanya 20 menit, namun menurut para siswa-siswi itu adalah waktu yang sangat berharga. Karena diwaktu itu mereka bisa mengistirahatkan otak dan pikiran dari kerasnya pelajaran yang terus memutar otak mereka.
Mereka mengistirahatkan diri dengan makan, tidur, dan bermain bersama temannya.
Hari ini Hee-na tak makan karena ia tak membawa bekal, dan sialnya dia juga tak membawa uang untuk membeli makanan dikantin.
Hee-na hanya pasrah dan tak punya pilihan lain selain berdiam diri dikelas. Sedari tadi ia hanya meminum air, guna menghilangkan rasa lapar di perutnya. Memang rasa lapar itu hilang, namun tergantikan oleh kembung diperutnya.
Bagaimana tidak kembung? Sedari tadi ia terus menerus minum air karena jujur saja ia merasa lapar. Jika dihitung-hitung mungkin sudah 2 liter air yang dia habiskan.
Hee-na juga tak bisa meminjam uang pada sahabatnya. Karena 3 sahabatnya tidak ada dikelas. Eun-ji tidak masuk sekolah hari ini karena sakit, sedangkan Yeon-he dan Won-hae sedang latihan pidato bahasa inggris untuk acara yang akan digelar besok.
Karena itu Yeon-he dan Won-hae tidak ikut istirahat karena tengah sibuk latihan untuk menampilkan yang terbaik besok.
Jadi, agar Hee-na tak merasa lapar, ia memutuskan untuk tidur saja dan menahan rasa laparnya. Baru saja ia memejamkan matanya, ada seseorang yang menoel tangannya.
Sontak gak tersebut membuat Hee-na kembali membuka matanya dan menengok kearah orang tersebut. Terlihat dari wajahnya, dia adalah seseorang yang Hee-na kenal.
Pria jangkung yang tengah berdiri tegap sembari menatap Hee-na pun akhirnya membuka suaranya.
"Gak makan?" tanya lembut pria itu. Dia adalah Jang-won.
"Gak bawa bekel" jawab singkat Hee-na
"Gak kekantin?" tanya Jang-won lagi.
"Gak bawa duit"
"Terus gak makan dong?"
"Ya mau gimana lagi?"
"Yaudah sama gue aja yuk ke kantin!" ajak Jang-won
"Gak ah males"
"Jangan males, nanti sakit kalo gak makan!" ucap Jang-won yang terlihat perhatian.
"Gue sakit juga bukan urusan Lo"
"Jelas urusan gue lah! Lo lupa? Gue kan udah jadi temen Lo"
"Cih!" Hee-na berdecih
Tanpa berbicara apapun Jang-won langsung mencekal tangan Hee-na dan menariknya keluar kelas menuju kantin.
Sesampainya dikantin Jang-won dan Hee-na duduk di salah satu meja dikantin dan segera memesan makanan. Jang-won mentraktir Hee-na agar Hee-na bisa makan.
Mereka sudah berteman sekitar seminggu ini. Jadi tak perlu diragukan lagi, Hee-na sudah tak ada perasaan tak enak lagi pada Jang-won.
Mungkin Hee-na menganggap Jang-won hanya sebatas teman. Namun, berbeda dengan Jang-won yang menganggapnya lebih dari kata teman.
Perhatian yang diberikan oleh Jang-won mungkin hanya terlihat sebagai perhatian pada teman menurut Hee-na. Tapi sebenarnya, perhatian yang disalurkan Jang-won pada Hee-na itu terlihat lebih dari perhatian pada teman.
Semenjak Jang-won menyukai Hee-na, Jang-won merasa perhatiannya hanya diarahkan kepada Hee-na. Jang-won benar-benar mencintainya.
Namun, Jang-won meragukan perasaan Hee-na padanya. Jang-won berpikir Hee-na tak menyukainya sama sekali, bahkan hanya menganggap sebagai teman saja, tak lebih dari itu. Selalu muncul pertanyaan dipikiran Jang-won yang selalu ia pertanyakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND
RomansaPertemuan pertama memang menyebalkan. Pertemuan yang awalnya kupikir itu adalah penyesalan dalam hidupku. Tapi ternyata aku salah.. Aku merasa sangat beruntung, karena dengan pertemuan yang awalnya terasa menyebalkan, tapi sekarang menjadi kenangan...
