Sudah selama seminggu sejak Jang-won memutuskan untuk pergi hari itu. Selama itu juga Hee-na selalu mengiriminya pesan. Mereka selalu video call setiap malam. Bercerita tentang banyak hal mengenai hari di sekolah mereka.
Malam ini Hee-na berada di kamarnya. Sedari tadi ia hanya tersenyum menatap pesan dari Jang-won di ponselnya itu.
'Jangan lupa makan yang teratur. Jaga kesehatan, istirahat yang cukup, dan jangan terlalu mikirin aku. Aku disini bakal baik-baik aja kalau kamu disana juga baik-baik aja. Pokoknya kamu ga boleh sampe sakit. Nanti kalo kamu sakit aku menghiburnya jauh, soalnya gabisa nyamperin kamu. Aku bakal balas chat kamu. Jadi jangan ragu-ragu buat cerita keseharian kamu disana gimana. Aku juga pasti bakal sering ngirim foto, ngasih kabar, dan berbagi cerita aku selama tinggal di sini. Udah sana, kamu tidur. Good night, Hee-na.'
Itulah isi pesan dari Jang-won. Mungkin kelihatan hanya sebuah kata-kata, tapi perasaan tulus dan kasih sayang dari Jang-won begitu terasa dan itu membuat jantung Hee-na berdebar kencang.
Ia merindukan Jang-won, tapi disaat yang sama ia lega karena Jang-won masih sangat peduli padanya. Bahkan disaat ia tak berada di sampingnya.
Setelah membalas pesan dari Jang-won, ia menaruh ponselnya di meja nakas sebelah tempat tidurnya. Lalu ia mematikan lampu dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Memutuskan untuk tidur setelah hari-hari sebelumnya ia tak bisa tidur.
Hee-na ingin hari-hari begitu cepat berlalu. Ia ingin Jang-won segera kembali. Atau bahkan ia berharap bahwa semua ini hanyalah lelucon. Berharap bahwa saat ia terbangun, tiba-tiba Jang-won sudah berada di sampingnya. Tapi ia tahu, itu tak mungkin. Ini semua adalah hidup yang harus ia jalani sendiri.
Satu hal yang membuatnya tenang. Bahwa waktu terus berjalan. Tak peduli sesulit apapun untuk melalui segala permasalahan yang datang, pada akhirnya waktu itu akan berlalu tanpa ia sadari. Waktu tidak berhenti, waktu juga tidak melambat. Itu semua hanya tentang bagaimana ia melewati segala prosesnya.
Dan kini, Hee-na mencoba menjalaninya dengan hati yang rela. Ini bukan salah siapapun. Hanya saja takdir membawanya ke jalan yang saat ini ia sedang jalani. Dan ia harus menerimanya. Biarkan alur hidup membawanya kemana. Karena pasti akan ada masanya yang ia ingini dapat ia dapatkan. Mungkin saja bukan saat ini. Tapi bisa saja esok hari atau hari-hari selanjutnya.
•••
Ia terbangun di pagi hari yang sangat cerah. Matahari begitu bersinar, kali ini lebih cerah dari kemarin. Hee-na mengusap matanya guna menghilangkan rasa kantuknya. Ini masih pagi, dan kenapa ia harus pergi ke sekolah di saat ia masih sangat mengantuk. Pikirnya.
"Perasaan baru sebentar doang tidur." Keluh Hee-na dengan mata yang masih setengah tertidur. Ia menguap sebentar sebelum akhirnya memilih beranjak dari tempat tidurnya.
Berjalan dengan langkah malas menuju kamar mandi. Ia harus bersiap ke sekolah.
Setelah selesai bersiap, kini dia sudah menggunakan seragam sekolah lengkap dan juga rapih. Ia mengambil ponselnya dan tak lupa ransel sekolahnya. Ia keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga perlahan.
Ia memilih tak sarapan pagi ini. Karena saat ini dia sedang sendiri di rumah. Orang tuanya pergi dari pagi-pagi sekali. Dan Hee-na tak sempat memasak. Maka itu ia memilih untuk sarapan di kantin sekolah saja.
-
Ini sudah jam istirahat. Tapi entah kenapa Hee-na merasa sangat bosan. Padahal biasanya dia akan sangat senang jika jam pelajaran berakhir. Tapi rasanya kali ini entah kenapa begitu hampa, hampir terasa kesepian.
Baru kali ini Hee-na lebih ingin untuk belajar daripada istirahat. Karena di saat-saat membosankan ini lah pikirannya akan terfokuskan pada Jang-won. Jika ia belajar, setidaknya pikirannya akan lebih fokus pada pelajaran dan tak memberi ruang sedikitpun untuk memikirkan cowok itu.
"Hee, lo gak makan?" Tanya Yeon-he penasaran.
Hee-na menggeleng pelan. "Engga, lagian tadi pagi gue udah sarapan."
"Tumben. Biasanya kalo udah sarapan juga bakal laper lagi. Kangen Jang-won ya lu?" Ungkapnya blak-blakan.
Hee-na menatap sinis sahabatnya itu. "Diem." Kesalnya.
Yeon-he yang merasa ditatap seperti itu langsung menutup mulutnya dan berdehem pelan. "Spaghetti nya enak ya." Tentu saja itu hanya pengalihan topik.
"Gue udah kenyang. Gue balik ke kelas duluan." Ujar Won-hae lalu berdiri dari tempat duduk dan berjalan pergi. Bahkan sebelum sahabatnya itu memberi pertanyaan.
"Tumben. Jadi cuek gitu dia." Gumam Eun-ji heran.
"Dia kan emang cuek." Sahut Yeon-he tak heran.
Sedangkan Hee-na menatap mereka tak peduli dengan apa yang mereka bahas. Seolah tidak ada yang bisa membuatnya berhenti fokus pada pikirannya sendiri.
"Jang-won lagi apa ya.." Batinnya.
Perhatian dua sahabatnya itu lagi-lagi beralih pada Hee-na. Melihat Hee-na yang melamun tak jelas dengan bibir yang mengerucut tipis, sudah jelas dia pasti memikirkan pacarnya itu. Kedua sahabatnya hanya bisa menggeleng pelan tak habis pikir.
•••
"Huaamm..." Hee-na menguap pelan. Ia berbaring di kasurnya. Sungguh dia sangat mengantuk.
Ia mengambil ponselnya dan membukanya. Kemudian ia menekan salah satu nomor. Jelas nomor pacar yang sangat amat dia rindukan itu. Ia menekan tombol telepon. Menunggu jawaban dari seberang telepon sana.
Tutt...tutt...tutt-
"Halo?" Suara dari seberang telepon sana sungguh membuat Hee-na rasanya ingin jungkir balik sekarang juga.
"Kamu belum tidur, kan? Aku ganggu gak?" Tanya Hee-na.
"Belum. Kenapa, hm?" Suara cowok itu sungguh membuat Hee-na menahan untuk tidak berteriak.
"Gapapa.. Aku belum ngantuk aja." Bohong. Jelas ia bohong. Ia sudah sangat mengantuk sebenarnya. Tapi ia rela menahan rasa kantuknya demi bisa mendengar suara pacarnya itu.
Jang-won terkekeh pelan. "Masa? Biasanya jam segini kamu udah nguap. Ga percaya aku."
"Serius! Aku gak ngantuk kok." Sergahnya cepat.
"Tidur, sayang. Ini udah malem. Besok kamu kan ke sekolah lagi." Ucapnya. Terdengar ada kekhawatiran dalam suaranya.
Tanyain keadaan Hee-na sekarang! Dia udah gabisa diem banget. Dari tadi senyum-senyum gajelas sambil pukul-pukul bantal di pangkuannya.
"Iya-iya. Aku tidur dulu ya. Besok aku telepon lagi, jangan lupa di angkat. Awas aja kalo gak di angkat!" Katanya.
"Iya. Aku angkat, janji." Jawab Jang-won.
"I love you." Kata Hee-na.
"I love you too."
"I love you more." Balasnya tak mau kalah.
"Impossible. I love you most, Hee-na."
Setelah itu panggilan tertutup. Akhirnya, rasa rindunya sedikit berkurang. Meskipun ia masih ingin berlama-lama mengobrol dengan Jang-won.
-
Thank you and don't forget to vote and comment on this chapter!
-To be continued-
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND
RomancePertemuan pertama memang menyebalkan. Pertemuan yang awalnya kupikir itu adalah penyesalan dalam hidupku. Tapi ternyata aku salah.. Aku merasa sangat beruntung, karena dengan pertemuan yang awalnya terasa menyebalkan, tapi sekarang menjadi kenangan...
