32. I miss him

45 4 0
                                        

Malam ini Hee-na tengah duduk di sebuah cafe. Aroma kopi yang begitu terasa dalam ruangan itu membuat suasana hati menjadi lebih tenang.

Hee-na memesan segelas Americano untuk menenangkan suasana hatinya yang saat ini sedang kacau. Awalnya suasana hati Hee-na mulai lebih baik dan tenang. Namun, ia jadi teringat masa-masa dimana dia dan Jang-won minum kopi bersama di cafe.

Hee-na menghela nafas pelan. Mencoba mengaburkan semuanya, meskipun sulit. Ia mengecek ponselnya lagi, mencari notifikasi yang sangat ia nantikan itu. Kosong. Tidak ada apapun.

Hal itu membuktikan bahwa Jang-won tak pernah membalas chatnya atau sekedar mengabari dan meneleponnya sebentar. Tidak ada. Kemana lelaki itu pergi?

Sungguh, Hee-na bingung. Ia menjadi berpikiran buruk. Bagaimana jika Jang-won melupakannya? Tidak, pikiran itu tak tertahankan.

Ia mengingat janji Jang-won sebelum pergi. Lelaki itu mengatakan akan mengabarinya kan? Mengangkat teleponnya dan membiarkan Hee-na bercerita. Tapi mengapa sekarang Jang-won tak ada kabar? Seolah sungguh menghilang bak ditelan waktu.

Tidak mau menyerah. Hee-na menekan tombol telepon di kontak kesayangannya itu. Menunggu ada yang menjawab. Setidaknya memastikan Jang-won masih ada di sana. Namun, sama. Tak ada jawaban apapun.

"Jang-won kemana.." lirih Hee-na.

Ia mencoba mengirim pesan. Tapi lagi-lagi hanya keheningan. Ratusan pesan yang ia kirim entah dari kapan, tak ada satupun yang terbalas. Bahkan dibaca pun tidak. Kemana dia? Kenapa dia menghilang meninggalkan Hee-na?

Tak tertahan lagi, setetes air mata yang Hee-na coba tahan mulai lolos. Menyakitkan. Ia hanya merindukan dan menginginkan kabarnya. Tidak menuntut banyak perhatiannya. Tapi kenapa tak ada satupun yang berbalas?

"Bohong.." gumamnya pelan di tengah Isak tangisnya yang tertahan.

•••

Sudah seminggu sejak terakhir kali ia mengirimi Jang-won pesan. Setelah hari itu Hee-na tak pernah mengirimi Jang-won pesan atau meneleponnya lagi. Ia berharap bahwa lelaki itu akan menyadari perubahannya dan akan mengabarinya. Tapi ternyata tak ada. Jang-won benar-benar tak pernah menghubunginya lagi. Hee-na kecewa tentu saja.

Tapi selama itu juga Hee-na selalu di hibur oleh teman-temannya. Tak jarang juga Seok-yi ikut berbaik hati membuat Hee-na tertawa. Meskipun jika Hee-na sendirian kesedihan itu akan kembali lagi.

Waktu libur sekolah sudah tiba. Siang ini Hee-na lagi-lagi hanya berdiam diri di kamarnya. Karena ia bahkan tak ada minat liburan kemanapun. Tapi lamunannya di hancurkan ketika Eun-ji membuka pintu kamarnya.

"HEE!! AYO KITA LIBURAN!" Ajak sahabatnya itu tiba-tiba. Bahkan karena suaranya yang nyaring, Hee-na sampai tersentak kaget.

Tapi belum sempat Hee-na menolak, sahabatnya yang satu itu malah membuka lemari pakaian Hee-na dan mengambil beberapa baju. Memasukkannya ke dalam

"Ji gue gamau-" baru mengucapkan beberapa kata, Eun-ji langsung memotongnya.

"Gaada penolakan."

Mendengar nada pemaksaan dari sahabatnya Hee-na akhirnya mau tak mau mengikuti sahabatnya itu.

Tapi melihat Hee-na yang hanya berdiri menatapnya, Eun-ji akhirnya buka suara. "Ngapain masih disini? Mandi! Lu mau liburan dengan penampilan acak-acakan?!" Ia melipat tangan di dada, menatap Hee-na dengan alis terangkat.

Dan untuk sesaat Hee-na menyadari bahwa ia masih memakai pakaian tidurnya, rambutnya berantakan, matanya bengkak karena menangis. Berbeda sekali dengan penampilan Hee-na yang biasanya rapih. Tapi tentu saja meski begitu kecantikan Hee-na masih terlihat di balik penampilan berantakannya itu.

Akhirnya dengan langkah tanpa semangat, Hee-na berjalan ke dalam kamar mandi yang berada di kamarnya. Menuruti perintah sahabatnya itu yang menyebalkan. Karena jika berbicara dengan Eun-ji, ia benar-benar tak bisa membantah. Karena sifat Eun-ji yang tak mau kalah akan selalu membuatnya menyerah lebih dulu.

-

Hee-na memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. Mereka tidak liburan berdua saja. Tentu saja akan ada Yeon-he, Won-hae, dan kakak perempuan Yeon-he yang ikut untuk dijadikan sebagai pendamping orang dewasa. Karena tiga remaja itu tak mungkin pergi tanpa pengawasan orang dewasa. Jadilah Yeon-he mengajak kakaknya itu.

Perjalanan saat itu terasa terlalu hening bagi Hee-na. Padahal sedari tadi Eun-ji sangat berisik. Entah cerita, teriak, marah-marah, pokoknya mobil itu terasa terlalu berisik hanya untuk suara Eun-ji saja.

"Ji, apaan sih!" Kesal Won-hae saat merasa temannya itu benar-benar tidak bisa hanya duduk diam. Ia malah menjadi korban kejahilan Eun-ji.

"Padahal gue ga ngapa-ngapain.." gumam Eun-ji.

Astaga..

Mendengarnya saja Won-hae sudah menahan diri untuk tidak mencekik gadis itu sekarang juga. Karena bagaimana bisa dia berkata begitu setelah ia baru saja membuat Won-hae naik darah?!

Sedangkan Yeon-he dan kakaknya itu hanya ikut tertawa saja. Menjadi pendengar sudah cukup, kan?

Tapi kemudian suasana tiba-tiba hening saat mereka semua merasakan ada satu orang yang tak bereaksi apapun. Seolah ia sudah tenggelam dalam pikirannya sendiri dalam waktu yang cukup lama.

"Hee?" Panggil Eun-ji seraya menyenggol lengan sahabatnya itu.

"Hah? Kenapa..?" Sadar Hee-na.

"Galau Lo?" Goda Yeon-he.

Hee-na hanya menggeleng pelan.
"Mikirin tugas aja."

Eun-ji berdecih tak percaya. "Tugas, ya? Perasaan kita gaada tugas apapun. Lagipula kalau ada pun lu gabakal mikirin. Biasanya juga gitu. Kalau mau bohong, minimal cari alasan yang masuk akal."

Hee-na terdiam. Ia bahkan tak tahu harus beralasan apalagi. Bagaimanapun sahabatnya sudah sangat mengenalnya. Sehingga akan tahu kapan ia terlihat baik-baik saja dan kapan tidak.

"Cowok itu lagi?" Tanya Won-hae. Walaupun ia sudah tahu jawabannya. Bahkan menyebut nama laki-laki itupun rasanya tidak sudi.

"Gue gatau.. Dia hilang tanpa kabar." Gumam Hee-na. Bahkan kalimat itu saja terasa tercekat di tenggorokannya.

"Udah coba lo telepon?" Yeon-he akhirnya bersuara.

"Udah. Tapi-" bahkan Hee-na tak mampu melanjutkan kata-katanya. Rasanya ia akan menangis kapan saja.

Sedangkan sahabatnya itu langsung panik. "Mungkin dia cuma sibuk.." kata Yeon-he mencoba menenangkan.

"Sibuk itu cuma alasan." Ceplos Eun-ji. Sehingga ia langsung dapat pukulan di lengannya dari Yeon-he.

"Lo diem." Tegas Won-hae. Membuat Eun-ji langsung menutup mulutnya.

"Udah gausah dipikirin dulu. Tenangin pikiran Lo." Ucap Won-hae seraya menepuk pelan punggung Hee-na guna menenangkannya.

"Itu, ada tissue." Kata kakak Yeon-he pada adiknya itu. Seolah mengisyaratkan untuk memberikan Hee-na tissue. Karena saat itu ia sedang menyetir, jadi tak bisa banyak membantu.

•~•~•

-To be continued-

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 07 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MY HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang