Langit kampus siang itu cerah, tapi tidak dengan hati Nadia dan Aro. Sejak pagi, bisik-bisik aneh beredar di sekitar mereka. Beberapa mahasiswa terlihat saling berbisik, mengirimkan pandangan penuh tanya pada satu sama lain.
"Aro... kamu denger nggak sih gosip yang beredar?" bisik Nadia pelan saat mereka duduk di kantin, menghadap dua gelas es teh manis yang kini tak lagi semanis suasana hati mereka.
Aro mengangguk singkat. “Yang tentang Salsa?”
Nadia menghela napas. “Iya. Ada yang bilang dia jadi istri simpanan seorang guru. Bahkan ada yang bilang dia hamil...”
Aro memalingkan wajah, matanya menatap lurus ke arah taman kecil di tengah kampus. “Itu nggak mungkin, Nad. Salsa itu bukan tipe orang yang... kamu tahu lah.”
"Aku juga nggak percaya. Tapi akhir-akhir ini dia makin jarang masuk kuliah. Bahkan kalau datang pun, mukanya pucat dan gampang capek. Terus... kenapa dia nggak cerita ke kita? Kita sahabatnya, kan?"
Aro mengangguk pelan. Ia pun sudah merasa ada yang berubah. Salsa bukan lagi gadis ceria yang dulu suka ribut kalau telat kelas. Sekarang... ia lebih pendiam, menghindar, dan sering kali terlihat gelisah.
"Aku mau tahu kebenarannya, Ro. Kalau dia dalam masalah, kita harus bantu."
Aro menatap Nadia, dan untuk pertama kalinya ia benar-benar serius. “Kita cari tahu. Tapi hati-hati, jangan sampai Salsa merasa disudutkan.”
Nadia tersenyum tipis. “Tenang aja. Aku cuma pengen tahu... siapa sebenarnya laki-laki itu.”
---
Hari-hari berikutnya, Aro dan Nadia mulai menyusun ‘penyelidikan kecil-kecilan’. Mereka coba mengingat kapan terakhir kali Salsa sering bolos, kapan perubahan sikapnya dimulai, dan siapa yang terakhir kali dekat dengannya.
Tanpa mereka sadari, benang merah mulai terbentuk. Salsa mulai berubah sejak akhir semester lalu. Sejak ia sibuk dengan penelitian. Dan... sejak lebih sering ke luar kampus.
Suatu hari, Aro secara tidak sengaja melihat Salsa dijemput oleh mobil hitam di depan gerbang kampus. Bukan mobil mewah, tapi jelas bukan mobil sewaan. Tidak ada logo taksi online. Mobil itu... seperti milik pribadi.
Ia catat plat nomornya diam-diam. Tidak memberitahu siapa pun, termasuk Nadia.
---
Sementara itu, Nadia menemukan hal lain. Ia mengorek informasi dari grup kampus—bukan yang biasa, tapi yang isinya mahasiswa tingkat akhir. Di sana ia menemukan kiriman anonim tentang dosen SMA yang konon sering berkeliaran dekat kampus. Disertai deskripsi yang samar, tapi cukup membuat Nadia mengernyit.
“Guru Matematika. Ganteng. Pendiam. Katanya udah nikah, tapi juga digosipin deket sama mahasiswa. Bahkan... kabarnya tinggal serumah.”
Nadia mencetak tangkapan layar itu. Ia simpan. Hatinya semakin cemas, bukan karena takut kehilangan sahabat, tapi takut Salsa sedang berada dalam bahaya tanpa ada yang tahu.
---
Akhir minggu itu, mereka berdua duduk di perpustakaan kosong. Tumpukan catatan, screenshot, dan ingatan mereka jadikan satu.
"Ro... kita harus tanya langsung ke Salsa," ucap Nadia dengan suara lirih.
Aro terdiam lama. Ia ingin, tapi ia tahu, mendekati Salsa sekarang sama saja seperti membongkar peti penuh rahasia.
Tapi mereka juga tahu, semakin lama didiamkan, semakin dalam luka itu bisa tumbuh.
“Besok. Kita ke rumahnya. Kita tanyain baik-baik.”
KAMU SEDANG MEMBACA
LANTAS
RomantikSeseorang yang bertemu dengan masalalu dan di kagetkan dengan fakta yang ngejutkan...akan kah bisa menyatu da hidup bersama lagi....
