37

517 17 0
                                        

Pagi itu udara terasa sedikit lembap. Jam baru menunjukkan pukul enam, namun di rumah kecil yang dihuni pasangan muda Salsa dan Lian, sudah terdengar suara gaduh dari kamar mandi.

“Uwekkk… uwekkk…”

Salsa terduduk lemas di lantai kamar mandi. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangannya menumpu di pinggir kloset, sementara wajahnya memucat karena mual hebat yang tiba-tiba menyerang.

Lian yang masih setengah sadar karena baru bangun tidur langsung terlonjak dari ranjang ketika mendengar suara itu. Ia bergegas menghampiri kamar mandi.

“Sayang! Kamu kenapa?” teriaknya cemas sambil membuka pintu.

Salsa hanya menggeleng pelan, tak sanggup bicara. Lian langsung berlutut di sampingnya, mengusap punggung istrinya perlahan.

“Mual lagi, ya? Ini gara-gara bayi kecil kita, ya?” Lian mencoba menenangkan, meski hatinya dipenuhi rasa khawatir.

Salsa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Iya, mas… pagi-pagi gini perutku langsung nggak enak. Maaf ya, mas, ganggu banget pasti…”

“Eh, nggak boleh ngomong gitu. Kamu nggak ganggu sama sekali, Sayang,” Lian menjawab sambil membantu Salsa berdiri. “Ayo kita ke kamar. Mas bikinin air hangat dulu, ya.”

Lian dengan sigap menggandeng Salsa kembali ke tempat tidur, lalu ke dapur untuk menyiapkan air jahe hangat. Ia tahu betul trimester pertama kehamilan memang berat, dan ia ingin jadi suami terbaik untuk Salsa.

Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan secangkir air jahe.

“Nih, sayang. Pelan-pelan minumnya. Biar mualnya reda dulu…”

Salsa menerima cangkir itu dengan senyum lemah. “Terima kasih, mas. Untung aku punya suami kayak kamu…”

Lian duduk di sampingnya, meraih tangan istrinya dan mengecupnya lembut.

“Mas juga beruntung, punya istri hebat kayak kamu. Sakit kayak gini pun kamu masih kuat. Mas janji bakal jagain kamu dan bayi kita terus…”

Salsa menunduk malu, hatinya menghangat meski tubuhnya masih lemah. Pagi yang dimulai dengan mual itu berubah jadi pagi penuh cinta.

Setelah meneguk beberapa sendok air jahe, rasa mual Salsa mulai mereda. Ia kembali bersandar di bahu Lian sambil mengelus pelan perutnya yang masih datar.

“Mas,” ucap Salsa pelan, “kira-kira nanti anak kita mirip siapa ya?”

Lian tersenyum sambil memeluknya dari samping. “Hmm… semoga mirip kamu, Sayang. Biar cantik atau ganteng kayak kamu.”

Salsa tertawa kecil. “Ah, Mas gombal.”

“Beneran dong. Tapi yang paling penting, anak kita sehat. Nggak rewel, kayak tadi pagi,” gurau Lian sambil mencubit pipi Salsa.

Salsa mengangguk pelan. Matanya masih sedikit sayu, tapi rona bahagia terpancar dari wajahnya. “Mas, hari ini aku nggak kuliah ya. Kayaknya aku mau istirahat dulu seharian.”

“Iya, Sayang. Mas juga kayaknya kerja dari rumah aja, nemenin kamu.”

“Loh, emang bisa?”

“Bisa dong, selama ada kamu dan calon anak kita di rumah, Mas pasti semangat.”

Salsa tersenyum. Di tengah rasa mual, ia bersyukur memiliki suami sepenyayang dan sepeduli Lian. Meski mereka menikah diam-diam, di rumah kecil ini mereka membangun cinta dengan tulus, perlahan-lahan menciptakan bahagia yang utuh.

Tak lama kemudian, ponsel Salsa bergetar di meja. Sebuah pesan dari Nadia masuk—sahabatnya yang tulus.

> “Sal, lu nggak masuk hari ini? Semoga baik-baik aja ya. Gue bawain roti favorit lu, nanti gue taro di loker.”

Salsa menatap pesan itu, merasa sedikit bersalah karena masih harus menyembunyikan begitu banyak hal dari Nadia. Tapi untuk saat ini, kebahagiaan kecil di rumah bersama Lian adalah tempat ternyaman.

“Mas…” panggil Salsa lagi.

“Ya, Sayang?”

“Terima kasih ya. Udah mau nemenin aku dari awal. Meski kita masih harus nyembunyiin semua ini…”

Lian mengecup kening Salsa lembut. “Selama kamu ada, Mas nggak takut sembunyi. Nanti waktunya pasti tiba… kita akan cerita ke semuanya.”

Salsa mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia berharap waktu itu datang sebelum semuanya terlanjur rumit.

***

Pagi itu, aroma sop buntut mengepul lembut dari dapur rumah sederhana namun nyaman yang ditempati Lian dan Salsa. Suasana rumah mereka yang biasanya tenang, berubah sedikit lebih sibuk sejak Salsa mengalami masa-masa awal kehamilan yang dipenuhi dengan rasa mual dan perubahan suasana hati.

Sementara itu, bel berbunyi pelan namun tegas. Salsa yang masih duduk di ruang tengah, memandangi bunga mawar dalam vas sambil sesekali mengelus perutnya yang masih rata, menoleh cepat. Ia memanggil pelan, "Mas, ada tamu."

Lian keluar dari kamar dengan kaus sederhana dan celana santai. Ia membuka pintu dan menemukan sosok yang sangat ia kenal—Mamah Arum, ibunya.

"Mamah?" ucap Lian kaget sekaligus senang. "Tumben pagi-pagi ke sini."

Mamah Arum tersenyum lebar, membawa dua tas belanja yang langsung ia sodorkan ke Lian. "Iya dong, masa cucu Mamah enggak dijenguk. Ini ada buah, susu, dan ayam kampung buat Salsa."

Salsa langsung berdiri, meski sedikit goyah, lalu menghampiri. "Mamah..." sapanya pelan, dipenuhi kehangatan.

"Sayang, duduk aja... jangan berdiri dulu," tegur Mamah Arum sambil meraih tangan menantunya dengan lembut. "Mamah kangen kamu. Gimana kabarnya calon cucu Mamah? Masih muntah-muntah?"

Salsa tersenyum malu. "Masih, Mah. Tapi sekarang lebih sering pagi."

Lian ikut duduk di dekat mereka. "Dokternya bilang itu normal. Masa-masa ngidam dan trimester awal emang begini."

Mamah Arum mengangguk paham. Namun raut wajahnya berubah, tak lagi semeriah awal ia datang.

"Mas..." panggilnya pelan pada Lian.

Lian menoleh, mengenali nada suara ibunya. “Kenapa, Mah?”

"Ayah kamu... udah dua minggu enggak pulang. Katanya sih dinas luar kota, tapi aku coba hubungi juga susah. Ditelepon cuma dibaca, ditelepon enggak diangkat. Biasanya, walau dinas juga, dia masih sempat kasih kabar.”

Salsa dan Lian saling pandang.

“Mamah khawatir, Mas. Bukan cuma soal keberadaannya. Tapi... Mamah ngerasa ada yang disembunyiin sama Ayah kamu.”

Lian menarik napas dalam. “Mamah tenang dulu ya. Kalau Ayah masih sibuk, mungkin emang lagi bener-bener padat.”

“Tapi feeling Mamah tuh enggak enak, Mas,” suara Mamah Arum mulai bergetar. “Udah lama Mamah curiga. Dia sering pulang malam, bawa baju wangi parfum perempuan. Mamah bukan orang bodoh, Mas.”

Salsa memegang tangan Mamah Arum dengan lembut. “Mamah istirahat dulu di sini ya, nanti kita cari tahu bareng-bareng.”

Mamah Arum menatap menantunya itu, hatinya sedikit tenang. “Kamu memang anak baik, Salsa. Mamah bersyukur Mas kamu menikahi kamu. Bukan... yang lain.”

Ucapan itu membuat Lian terdiam sejenak. Nama Lidya menggantung di udara, tak disebut, tapi terasa nyata.

Lian mengusap kepala ibunya. “Aku akan cari tahu, Mah. Janji.”

----------------------------------------------------------

Vote ya guys

LANTASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang