Aroma opor ayam buatan Bu Linda memenuhi seluruh ruangan. Mamah Arum dan Bu Linda tertawa kecil di dapur, saling bertukar resep sambil sesekali mencicipi masakan. Di ruang tamu, Ayah Irwan sedang berbincang akrab dengan Lian, membahas perkembangan usaha kecil-kecilan yang mulai dirintis Irwan bersama beberapa rekannya di pabrik.
Sementara itu, Nadila duduk di lantai dekat kaki Salsa, memijat lembut betis kakaknya yang belakangan sering kram.
“Kak, kayaknya dedek di perut Kak Salsa suka banget kalo kamu makan jambu. Tadi aku liat kamu bahagia banget makan itu,” celetuk Nadila sambil terkekeh.
Salsa tersenyum lebar. “Emang aneh ya, dulu aku benci jambu, sekarang jadi ngidam berat.”
“Tapi jangan aneh-aneh lagi kayak semalam ya, Sayang,” timpal Lian dari sofa. “Mau es durian jam tiga pagi, terus marah karena es-nya nggak ada bijinya.”
Semua tertawa. Suasana yang terasa hangat itu untuk sesaat membuat semua kegelisahan tersisih. Tapi tidak dengan Lian. Tatapannya kadang melayang ke arah jam dinding, seolah ada sesuatu yang ditunggu, atau... dikhawatirkan.
Mamah Arum memperhatikan putranya dari dapur. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, namun pikirannya sibuk menafsirkan wajah Lian yang terlihat berpikir keras.
---
Setelah makan siang, mereka semua duduk di halaman belakang, menikmati semilir angin dan semangkuk rujak mangga pesanan ngidam Salsa. Sambil menyuap potongan mangga ke mulut istrinya, Lian sesekali mencuri pandang ke arah ibunya.
“Ayah belum kabarin lagi, Mah?” bisiknya ketika hanya berdua sebentar.
Mamah Arum menggeleng kecil, sorot matanya menyiratkan kekhawatiran yang belum reda. “Nomornya nggak bisa dihubungi.”
Sementara itu, Ayah Irwan menepuk bahu Lian. “Terima kasih ya, Mas Lian. Udah biayai Nadila. Ayah sama Mamah Salsa nggak bakal lupa.”
Lian tersenyum hangat. “Itu tanggung jawab saya juga, Yah. Salsa bukan cuma istri, dia bagian dari hidup saya. Apa yang penting buat dia, penting juga buat saya.”
Salsa hanya bisa menatap Lian, matanya sedikit berkaca. Ia tahu, di balik sikap tenang suaminya, ada banyak beban yang sedang dipikul. Tapi hari itu, ia memilih untuk menikmati waktu bersama orang-orang yang ia cintai.
Meski tak satu pun dari mereka tahu bahwa di balik hangatnya rujak, canda, dan pelukan—sebongkah rahasia besar sedang menunggu detik untuk meledak.
***
Salsa duduk di sofa ruang tamu dengan wajah sedikit pucat dan napasnya agak tersengal. Ia merasakan mual yang datang tiba-tiba, tanda-tanda ngidam hamil muda yang bikin badan jadi nggak nyaman.
“Mas, aku... aku pengen es krim sama kerupuk,” ucap Salsa pelan sambil menekan perutnya. “Tapi aneh ya, kok aku malah pengen yang nggak nyambung gini.”
Lian yang sedang menyapu lantai langsung berhenti dan mendekat, wajahnya penuh perhatian. “Sayang, kamu ngidam lagi ya? Jangan maksa makan yang aneh-aneh, nanti kamu tambah mual.”
Salsa mengangguk, tapi matanya sudah berbinar. “Aku janji, cuma pengen nyoba aja. Tolong ya, Mas.”
Di saat itu pintu rumah terbuka, mamah Arum masuk sambil bawa tas belanja. “Wah, sudah pada ngumpul di sini ya? Kenapa wajah Salsa nggak segar? Ngidam lagi, ya?”
“Iya, Mamah, ini masih awal, jadi sering mual,” jawab Lian sambil mengangkat tangan memberi isyarat untuk membantunya.
Tak lama kemudian, ayah Irwan dan ibu Linda, orang tua Salsa, datang menyusul. “Kita bawa buah dan minuman segar buat Salsa,” kata ayah Irwan sambil tersenyum penuh kekhawatiran.
Nadila, adik Salsa, juga ikut datang dengan semangat. “Aku siapin es krim dan kerupuk buat kakak!”
Salsa tersenyum lemah, tapi bahagia melihat semua keluarganya yang perhatian. Lian segera menyiapkan piring dan gelas, sementara Nadila bergegas ke dapur untuk mengambil es krim dan kerupuk.
Ketika makanan aneh itu disajikan, semua tertawa geli. Es krim dingin yang manis dipadukan dengan kerupuk yang renyah, membuat suasana jadi ceria meskipun Salsa harus melawan rasa mualnya.
“Semoga ini membantu, ya, sayang,” ucap Lian sambil mengusap punggung Salsa dengan lembut.
Salsa menatap Masnya dan keluarganya, merasa hangat dan kuat. Meski ngidam hamil muda menyebalkan, tapi cinta dan perhatian mereka membuatnya yakin bisa melewati semua dengan baik.
***
Pagi itu di kantin kampus, suasana ramai seperti biasa. Namira duduk bersama beberapa teman sekelasnya yang baru dikenal. Dengan senyum yang terencana, ia mulai membuka pembicaraan.
“Eh, kalian pernah dengar gak sih tentang cewek yang sering ketemu sama cowok yang katanya udah punya istri?” Namira menundukkan suaranya, tapi cukup keras untuk didengar oleh yang lain. “Katanya mereka ketemu diam-diam, terus banyak yang bilang cowok itu guru SMA, bukan mahasiswa.”
Teman-temannya saling berpandangan, ada yang penasaran, ada juga yang sedikit skeptis. Tapi tidak ada yang berani bertanya langsung siapa yang dimaksud.
Namira menambahkan, “Ya, aku juga gak yakin sih, cuma denger-denger aja. Tapi kok kayaknya udah tersebar sih di beberapa grup chat.”
Tak jauh dari meja Namira, Aro dan Nadia sedang berjalan menuju kantin. Mereka tidak sengaja mendengar sepenggal pembicaraan itu.
Aro menatap Nadia dan berkata pelan, “Gosip apaan itu? Kayaknya serius.”
Nadia menggeleng, “Gue juga gak tahu, tapi selama ini Salsa kelihatannya agak menghindar dari kita. Mungkin dia ada masalah.”
Aro mengernyit, “Iya, gue juga ngerasa ada yang aneh sama Salsa. Biasanya dia ceria, sekarang kayaknya susah diajak ngobrol.”
Nadia diam sejenak, lalu berkata, “Tapi kita belum tahu juga fakta sebenarnya. Yang jelas, kita harus tetap jadi teman yang support dia, apapun yang terjadi.”
Mereka berdua kemudian duduk di meja yang berdekatan, masih memikirkan gosip yang baru saja mereka dengar. Mereka belum tahu bahwa Salsa sebenarnya sudah menikah dan sedang hamil, rahasia yang sangat dijaga ketat oleh Salsa demi menjaga citranya dan menghindari gosip buruk.
Sementara itu, Namira tersenyum tipis, hatinya merasa puas. Rencana kecilnya untuk mengacaukan rumah tangga Salsa dan Lian mulai berjalan. Meski mereka berteman dulu, kedekatan itu kini mulai retak oleh kepentingan yang berbeda.
----------
Segini dulu nanti malem lanjut, aku mau balik dulu kerumah yaa
KAMU SEDANG MEMBACA
LANTAS
RomansaSeseorang yang bertemu dengan masalalu dan di kagetkan dengan fakta yang ngejutkan...akan kah bisa menyatu da hidup bersama lagi....
