Malam itu, udara terasa lebih berat dari biasanya. Meskipun tubuhnya tengah letih karena kehamilan yang mulai menuntut, pikiran Salsa justru tak berhenti bekerja. Ia duduk termenung di sisi ranjang, memandangi pantulan dirinya di cermin. Perutnya yang masih kecil disentuhnya dengan lembut.
“Maafin Mamah ya, Nak...”
Lian sudah tertidur, kelelahan setelah seharian mengurus pekerjaan dan memastikan kondisi Salsa baik-baik saja. Tapi hati Salsa justru tidak tenang. Ia memikirkan dua nama yang akhir-akhir ini terus mengisi relung hatinya dengan rasa bersalah: Nadia dan Aro.
“Aku jahat…” gumamnya lirih.
Tangannya meraih ponsel, membuka galeri. Ada foto bertiga mereka—Salsa di tengah, Nadia dan Aro di kiri-kanan, tertawa lepas saat merayakan ulang tahun Nadia tahun lalu. Bahagia, jujur, tanpa rahasia.
Sekarang semuanya terasa palsu. Salsa tak pernah mengira akan menyembunyikan hal sepenting ini dari dua orang yang selalu ada dalam hidupnya.
“Aku bohong... soal kuliah, soal suami, soal kehamilan...”
Sebuah air mata jatuh pelan di pipinya.
Bukan karena takut ketahuan. Tapi karena kehilangan momen untuk bercerita, berbagi, dan mendapatkan pelukan hangat saat dunia terasa kejam.
“Aku takut kalian pergi kalau tahu aku menikah dengan guru. Aku takut kalian ikut menjauh kayak yang lain. Tapi ternyata... justru dengan menyembunyikan semuanya, aku yang menjauh dari kalian.”
Salsa memeluk lututnya, duduk di lantai kamar dengan wajah yang kini basah oleh air mata.
“Maaf... Nad. Ro. Aku rindu kalian…”
Dalam diam, ia bertekad: kalau memang semuanya sudah terlanjur terbuka, maka ia harus jujur. Bukan untuk membela diri, tapi untuk menjaga dua hati yang pernah sangat mempercayainya.
Hari itu hujan turun pelan, menyapu dedaunan dan menyelimuti jalanan kecil di depan rumah Salsa. Suasana mendung di luar terasa seirama dengan suasana hatinya.
Salsa duduk di ruang tamu, mengenakan gamis longgar dan kerudung tipis. Perutnya yang mulai membuncit terlihat jelas. Sesekali, tangannya mengelusnya, seolah meminta kekuatan dari sang janin.
***
Langit sore tampak mendung, seolah ikut menyimpan rasa resah di hati Salsa. Di meja ruang tamu, dua gelas teh hangat mulai mendingin, disiapkan sejak satu jam lalu—semenjak Salsa memberanikan diri mengirim pesan kepada dua orang yang paling berarti dalam hidup kampusnya: Nadia dan Aro.
Ia duduk dengan lutut rapat, tangan gemetar memegang cangkir yang bahkan tak disentuh bibirnya. Nafasnya naik turun, perutnya yang mulai membuncit sesekali ia elus pelan, seperti sedang mencari ketenangan dari dalam diri.
Lonceng pintu akhirnya berbunyi. Salsa langsung bangkit, membuka pintu dengan jantung yang berdebar lebih kencang daripada biasanya.
Nadia dan Aro berdiri di sana. Tidak membawa senyum, tapi juga tidak membawa kemarahan. Hanya tatapan ingin tahu dan… sedikit luka.
“Makasih udah mau datang,” kata Salsa, suara pelan.
Mereka masuk. Duduk. Hening sesaat. Lalu, Salsa memulai.
“Aku minta maaf. Maaf karena nggak jujur. Maaf karena nyimpen semuanya sendiri,” ucapnya dengan nada menyesal.
Aro menatap lurus. “Kenapa kamu pilih diam, Sal? Bahkan waktu kita tanya-tanya soal gosip itu, kamu cuma menghindar.”
Salsa menunduk. “Karena aku takut... Takut kalau kalian tahu, kalian bakal menjauh. Karena aku tahu, posisi aku... rumit.”
Nadia menggenggam tangan Salsa. “Ceritain semuanya sekarang. Kita mau denger.”
Salsa mengangguk pelan, lalu mulai membuka semuanya.
Tentang pernikahannya yang terjadi diam-diam. Tentang alasannya menyembunyikan semua. Tentang fakta bahwa Lian bukan dosen di kampus mereka, melainkan guru adiknya. Tentang perasaan cinta yang dibalut dengan kenyataan pahit: Lian masih berstatus suami orang.
“Aku tahu ini salah. Tapi aku juga ngerasa… nggak semuanya sepenuhnya salah. Karena aku nggak merebut siapapun. Karena dia sendiri juga nggak pernah mencintai istrinya. Aku... aku cuma terjebak di antara kebenaran dan rahasia yang terlalu besar,” ujar Salsa, suaranya parau.
“Selama ini kamu nahan sendiri?” tanya Nadia pelan.
Salsa mengangguk, air matanya jatuh. “Setiap kali ngeliat kalian, aku ngerasa bersalah. Tapi aku juga takut. Karena kalian adalah sahabat terbaik yang aku punya.”
Aro akhirnya bersuara, nada suaranya lebih lembut. “Sal, kita ini trio yang udah bareng dari awal semester. Mau kamu salah atau benar, kita tetap sahabat kamu.”
“Dan mulai sekarang, kita yang akan bantu kamu lawan gosip itu di kampus,” sambung Nadia dengan mantap.
Salsa menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis pelan, tapi kali ini karena lega.
Hari itu, bukan hanya kejujuran yang akhirnya terucap, tapi juga pengampunan dan janji baru. Meski dunia luar mungkin terus memutar rumor, tapi Salsa tahu, di dalam rumah kecil ini, ia kembali memiliki sandaran.
---
Senja mulai turun, langit masih muram oleh sisa hujan. Di dapur, Nadia dan Aro tengah membantu Salsa menyiapkan camilan. Gelak tawa kecil mulai terdengar, mencairkan suasana yang sebelumnya beku oleh air mata.
Salsa berdiri di dekat kompor, memotong pisang untuk digoreng. Perutnya sudah mulai lelah berdiri lama, tapi hatinya terasa jauh lebih ringan. Ada kekuatan dalam kejujuran, rupanya. Dalam membagi beban.
Pintu depan terdengar dibuka.
Langkah berat dan suara pintu yang tertutup rapat membuat Salsa langsung menoleh.
“Mas...” panggilnya pelan.
Lian berdiri di ambang pintu ruang tamu, matanya langsung menatap dua orang asing—Aro dan Nadia. Ketegangan kembali terasa.
Nadia langsung berdiri, menatap pria yang selama ini jadi misteri itu.
Jantung Salsa berdetak tak karuan. “Mas, ini... Nadia sama Aro.”
Lian mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang. Ia menghampiri Salsa dulu, meraih tangan istrinya lalu mengusap pelan punggungnya.
“Kamu cerita ke mereka?” tanyanya lembut, tapi matanya menatap dalam.
Salsa mengangguk. “Aku harus, Mas. Mereka sahabat aku... dan mereka tahu semuanya sekarang.”
Lian menatap Aro dan Nadia. “Saya tahu situasi ini pasti mengejutkan kalian. Tapi terima kasih... karena kalian tetap datang ke rumah ini. Karena kalian dengar langsung dari Salsa, bukan dari gosip murahan di luar sana.”
Nadia menahan napas. “Jujur aja, aku nggak nyangka... Tapi setelah denger semuanya, aku ngerti kenapa Salsa diem.”
Aro menambahkan, “Dan dari cara lo liat dia, jelas banget lo serius sama dia. Itu udah cukup buat kami, Bang.”
Lian tersenyum kecil. “Terima kasih, Aro.”
Suasana mencair sedikit demi sedikit. Mereka akhirnya duduk bersama di ruang makan, menikmati pisang goreng hangat dan teh manis yang disuguhkan Salsa. Tawa kecil mulai muncul, meski semua tahu masih ada banyak misteri dan konflik yang mengintai dari luar rumah itu.
Namun, malam itu, di dalam rumah kecil itu, sebuah rahasia besar telah terbagi. Dan untuk pertama kalinya, Salsa tak lagi merasa sendiri.
--------
Nyambung gak sii guys?
KAMU SEDANG MEMBACA
LANTAS
RomansaSeseorang yang bertemu dengan masalalu dan di kagetkan dengan fakta yang ngejutkan...akan kah bisa menyatu da hidup bersama lagi....
