Hari itu suasana kampus terasa berbeda. Gosip-gosip kecil mulai beredar di antara mahasiswa, meski belum ada yang tahu asalnya. Salsa duduk di bangku taman, berusaha fokus mengerjakan tugas kelompok sambil mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat membesar.
“Nah, kamu dengar nggak? Katanya si Salsa itu ada ‘rahasia’ yang dia sembunyikan dari kita semua,” bisik salah satu teman.
“Iya, jangan-jangan dia nggak jomblo seperti yang kita kira,” sahut yang lain dengan nada penasaran.
Salsa hanya tersenyum tipis, mencoba mengabaikan tatapan dan bisik-bisik itu. Hatinya berat, terutama karena ia harus menyembunyikan kabar kehamilannya yang sudah mulai sulit disembunyikan.
Di sisi lain, Namira duduk santai di kafetaria sambil mengamati Salsa dari jauh. Ia mulai menyebarkan gosip itu perlahan, tanpa menyebut nama Lian, suami Salsa yang tak dikenal oleh teman-teman kampus.
“Ini demi kebaikan Salsa juga,” gumam Namira dalam hati. Namun, sedikit rasa bersalah mulai menyelinap di hatinya karena harus mengkhianati sahabatnya sendiri.
Berbeda dengan Namira, Nadia sahabat sejati Salsa tetap berdiri di sampingnya tanpa ragu.
“Sal, jangan dengarkan omongan orang. Aku tahu kamu lagi susah, tapi aku di sini buat kamu,” kata Nadia penuh ketulusan sambil menggenggam tangan Salsa.
Salsa tersenyum, merasa sedikit lega. Meski dunia kampus mulai penuh dengan bisik-bisik, setidaknya ada satu orang yang benar-benar percaya dan mendukungnya
bisik-bisik di kampus makin menjadi. Namira makin lihai menyebar gosip tentang Salsa, dengan segala cara agar teman-teman Salsa mulai meragukan pribadinya. Tanpa menyebut nama Lian, Namira menyebut bahwa Salsa ternyata menyembunyikan sesuatu besar yang membuatnya sulit dipercaya.
Salsa yang tahu siapa dalang di balik semua ini hanya bisa pasrah. Ia merasa sakit hati tapi juga khawatir jika rahasianya terbongkar.
Suatu sore, Nadia datang menghampiri Salsa di perpustakaan.
“Salsa, aku sudah dengar gosip yang beredar. Kamu jangan terlalu dipikirin ya, aku di sini buat kamu,” ujar Nadia menenangkan.
Salsa menghela napas panjang. “Aku takut, Na. Aku takut kalau nanti semuanya tahu aku hamil, dan apalagi kalau mereka tahu aku sudah menikah. Aku takut semuanya akan berubah.”
Nadia menggenggam tangan Salsa erat. “Gue percaya kamu kuat, Sal. Jangan pernah merasa sendirian.”
Sementara itu, Namira mendapat pesan dari Lidya, sepupunya yang juga istri pertama Lian.
“Namira, teruskan rencanamu. Kita harus jaga rahasia ini tetap tersembunyi, dan pastikan Salsa makin jauh dari Lian,” bunyi pesan itu.
Namira menatap layar ponselnya, hatinya bergejolak. Ada bagian dari dirinya yang mulai meragukan apa yang sedang dilakukannya.
***
Salsa pulang ke rumah dengan wajah tenang, seolah tak terjadi apa-apa hari itu. Ia menyambut Lian dengan senyum biasa saat suaminya membuka pintu.
“Sayang, kamu sudah pulang,” sapaan Lian terdengar hangat, tapi matanya menyelidik lebih dalam ke wajah Salsa.
Salsa membalas senyum itu, “Iya, tadi kuliah biasa saja, nggak ada yang spesial.”
Namun, Lian merasa ada sesuatu yang berbeda. Cara Salsa menatapnya, sikapnya yang sedikit tertutup, membuat hatinya tidak tenang.
“Kenapa, Salsa? Ada yang mengganjal di hati Mas,” ucap Lian pelan sambil menyentuh tangan Salsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANTAS
RomansaSeseorang yang bertemu dengan masalalu dan di kagetkan dengan fakta yang ngejutkan...akan kah bisa menyatu da hidup bersama lagi....
