Hari itu mendung, seperti suasana hati Salsa yang akhir-akhir ini terasa makin penuh tekanan. Di meja kantin kampus, ia duduk sendirian. Jus alpukat pesanannya dibiarkan mencair, tak disentuh. Biasanya, Namira sudah duduk di seberang, nyerocos tentang dosen killer, skripsi yang belum disentuh, atau cowok-cowok kece dari jurusan sebelah. Tapi sudah seminggu lebih, Namira tak seaktif biasanya. Bahkan sekadar chat pun terasa hambar.
“Kenapa sih dia berubah?” batin Salsa, menatap layar ponsel yang kosong dari notifikasi.
Tak lama kemudian, Nadia datang. Seperti biasa, wajahnya cerah meski hari mendung.
“Sal, lu sendiri aja? Biasanya sama Namira?” tanya Nadia sambil membuka bekal rotinya.
Salsa mengangguk. “Iya, dia gak bilang sih. Mungkin lagi sibuk.”
Nadia menghela napas dan mulai bicara dengan nada hati-hati. “Sal... gue bukan mau fitnah atau apa ya, tapi gue denger dari anak-anak—Namira belakangan sering banget bareng sama Kak Della dan Kak Rena, dua kakak tingkat yang hobi nyebar gosip. Bahkan katanya, mereka lagi heboh ngomongin soal... mahasiswa yang katanya hamil tapi disembunyiin.”
Salsa refleks menegakkan tubuh. Matanya membulat, tangannya mengepal di bawah meja. Tapi ia berusaha tetap tenang. “Oh ya? Terus, katanya siapa?”
“Gak tahu pasti, tapi... Nadira, anak DKV bilang sih, awalnya dari obrolan Namira di lorong belakang kampus waktu jam kosong,” jelas Nadia perlahan, matanya mengawasi ekspresi Salsa.
Salsa hanya terdiam. Tenggorokannya tercekat. Ia tidak pernah cerita pada siapa pun tentang kehamilannya—bahkan Nadia sekalipun. Tapi kalau gosip itu mulai menyebar... berarti seseorang sudah membocorkannya.
Seseorang yang sangat dekat.
Dan cuma satu orang yang tahu selain keluarga dan Lian—Namira.
---
Tiga hari berlalu. Gosip itu makin panas. Di ruang kelas, di koridor, bahkan di grup anonim kampus, kabar tentang seorang mahasiswi yang menikah diam-diam dan sedang mengandung makin ramai dibahas.
"Eh, lu denger nggak sih? Katanya ada mahasiswa yang nikah siri sama guru gitu. Terus hamil. Gila, parah banget," celetuk seorang mahasiswa di belakang Salsa.
"Serius? Gak salah tuh? Emang siapa sih?" tanya yang lain.
"Belum jelas. Tapi katanya sih jurusan Manajemen juga."
Salsa duduk terpaku. Kepalanya menunduk, telapak tangannya dingin. Nadia yang duduk di sebelahnya langsung menggenggam tangannya.
“Sal... lu harus kuat, ya,” bisik Nadia, matanya ikut memerah.
Salsa mengangguk pelan, tapi air matanya jatuh juga. Bukan karena malu—melainkan karena dikhianati. Oleh orang yang paling ia percaya.
---
Sementara itu, di sebuah kafe di dekat kampus, Namira sedang duduk bersama seorang perempuan muda yang wajahnya penuh dengan riasan dan kacamata hitam besar—Lidya.
“Jadi lu udah jalanin tugas lu?” tanya Lidya, menyedot kopinya dengan santai.
Namira menunduk pelan, lalu mengangguk. “Udah. Gosipnya udah mulai menyebar. Bahkan sekarang masuk grup anonim kampus.”
“Bagus.” Lidya tersenyum sinis. “Gue pengen semua orang tahu kalau Salsa itu perebut suami orang. Dia gak pantas jadi istri Lian. Cuma wanita murahan yang main belakang.”
“Lidya, tolong. Salsa sahabat gue. Gue cuma... ya, gue bantu lu karena lu keluarga gue. Tapi jangan terlalu jauh.”
Lidya menggebrak meja, membuat beberapa orang menoleh.
“Gak ada kata ‘jangan terlalu jauh’ kalau urusannya udah nyakitin harga diri gue, Mir! Dia rebut suami gue! Lian itu suami gue secara sah! Lu pikir gue diem aja?”
Namira menggigit bibir, hatinya mulai diliputi kegelisahan. Lidya memang sepupunya. Tapi Salsa... Salsa adalah sahabat yang selalu ada sejak semester awal kuliah, yang tahu kapan Namira patah hati, bahkan yang pernah bantu bayar UKT saat dia kekurangan.
Tapi sekarang, ia menjadi alat perusak hubungan sahabatnya sendiri.
---
Malamnya...
Di rumah sederhana mereka, Salsa bersikap seperti biasa. Ia menyambut Lian dengan senyuman, menyiapkan teh manis hangat, dan membiarkan pelukannya berlama-lama di dada Lian.
Tapi Lian tahu—ada yang berubah.
Salsa lebih diam. Senyumnya tetap manis, tapi matanya tak seteduh biasanya. Tidak ada cerita-cerita kampus, tidak ada canda khas Salsa yang biasanya membuat Lian betah duduk di meja makan lebih lama.
Saat mereka bersandar di sofa setelah makan malam, Lian mengusap perut Salsa yang mulai terasa mengeras.
“Baby-nya gimana hari ini? Aktif gak?” tanyanya lembut.
Salsa tersenyum sekilas. “Aktif banget. Tadi nendang waktu aku lagi dengerin dosen.”
“Mirip kamu berarti. Gak bisa diem.”
Salsa tertawa kecil, tapi cepat kembali diam.
Lian menarik napas panjang. “Sayang... kamu kenapa akhir-akhir ini?”
Salsa menggeleng. “Enggak, cuma capek.”
Lian menatap lekat-lekat wajah istrinya. Ia tahu, ada yang disembunyikan Salsa. Dan ia bersumpah akan mencari tahu.
Karena siapapun yang sudah menyakiti perempuan yang ia cintai... akan ia hadapi sendiri.
***
Di sebuah rumah sederhana yang hangat, Ayah duduk termenung di ruang tamu sambil menatap ponselnya. Sudah beberapa hari ini, hatinya terasa tidak tenang. Salsa, putrinya yang biasa ceria dan aktif, tiba-tiba berubah menjadi lebih pendiam dan jarang membalas pesan. Bahkan saat di telepon, suaranya terdengar lelah dan agak jauh.
Mamah, istrinya, juga merasa hal yang sama. Ia sering memperhatikan Nadila, adik Salsa, yang mulai terlihat gelisah dan sering bertanya tentang kakaknya. “Mamah juga khawatir sama Salsa. Sepertinya ada yang nggak beres,” ujar Ayah sambil menghela napas.
Mamah mengangguk. “Iya, aku juga merasa begitu. Padahal mereka sudah tinggal di rumah sendiri, tapi kabar dari Salsa makin jarang. Nadila juga jadi sering tanya terus.”
Nadila duduk di dekat mereka, wajahnya tampak cemas. “Ayah, Mamah, aku pengen ikut ke rumah Kak Salsa. Aku kangen dan pengen tahu apakah Kakak baik-baik saja,” ucapnya pelan.
Ayah mengusap kepala Nadila dengan lembut. “Tenang ya, Nak. Ayah dan Mamah juga pengen yang terbaik buat Kakakmu. Mungkin kita harus cari cara supaya bisa tahu lebih banyak tentang keadaan dia di sana.”
Mamah kemudian berinisiatif menghubungi Nadia, sahabat dekat Salsa yang selama ini dikenal tulus dan perhatian. “Halo, Nadia. Ini Mamah dari Salsa. Kita mulai khawatir karena Salsa jarang kabar. Apa kamu bisa bantu beri tahu bagaimana keadaan Salsa?” tanyanya dengan nada lembut.
Nadia menjawab dengan cepat, “Mamah, saya juga sebenarnya sedang memperhatikan kondisi Salsa. Dia memang sedang banyak tekanan, tapi saya selalu berusaha mendukungnya. Kalau Mamah mau, saya bisa sering memberi kabar dan mengajaknya bicara.”
Percakapan itu membuat hati Ayah dan Mamah sedikit lega, namun tetap saja rasa khawatir itu belum hilang. Mereka berharap Salsa dan Lian bisa melewati semua masalah dengan baik, apalagi mengingat kondisi Salsa yang sedang mengandung anak mereka.
Malam harinya, Ayah duduk bersama Mamah, mendoakan putrinya agar kuat dan selalu dalam perlindungan Tuhan. “Semoga Salsa dan bayinya selalu sehat. Kita harus terus mendukung dia, walau dari jauh,” bisik Ayah.
Mamah menggenggam tangan suaminya erat. “Iya, kita keluarga. Kita harus kuat dan sabar. Semoga semuanya segera membaik.”
Di rumah baru Salsa dan Lian, tekanan dan rahasia yang mereka hadapi masih belum selesai, tapi dukungan dari keluarga menjadi harapan kecil yang terus mereka genggam.
----------------------------------------------
Guys vote vote vote yaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
LANTAS
RomansaSeseorang yang bertemu dengan masalalu dan di kagetkan dengan fakta yang ngejutkan...akan kah bisa menyatu da hidup bersama lagi....
