[FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
⚠️ WARNING! CERITA INI MEMBUAT ANDA INGIN SELALU BERKATA KASAR, JADI HARUS SIAPKAN KESABARAN SEBELUM MEMBACANYA!⚠️
"Sampai saat ini kamu masih jadi alasaku untuk bertahan."_ Kiara Pemovie.
"Gue gak butuh elo. Mendingan lo pe...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
💙 💙 💙
🪸
Pendar cahaya yang berkilauan memaksa masuk ke dalam mata pemuda itu. Warna-warna yang asing menyelimuti sekelilingnya. Bunga-bunga krisan berhamparan, mawar, dan juga Kala Lily yang cantik mempesona. Pemandangan yang indah, saking indahnya terasa tidak nyata.
Atlantik berjalanan pelan. Menelusuri sungai yang beriak tenang. Ia tersenyum sejenak ketika menyadari di mana ia berada. Surga? Dengan langkah lebarnya, sedikit demi sedikit ia terasa menyusut, menjadi lebih kecil dari yang sebelumnya, dan benar-benar menjadi anak 10 tahun. Kulitnya yang lembut dan pipi yang chabi. Atlantik sudah lupa, apakah ia berpenampilan seperti ketika berusia 10 tahun waktu itu?
Yang jelas langkahnya terasa ringan tanpa beban. Hatinya tenang dan tidak ada ketakutan. Ia menambah kecepatan berlari, kebahagiaan meluap dalam hatinya sampai tiba-tiba ia berhenti. Matanya menangkap sesosok tak asing yang selama ini membayangi hidupnya. Bibir kecil itu gemetar namun tak ayal membentuk senyuman.
"Mama!" Ia benar-benar berubah menjadi anak-anak. Kaki kecilnya berlari menghampiri perempuan cantik berambut lurus panjang yang sedang menggendong anak perempuan.
Perempuan itu menurunkan putrinya dari gendongan, beralih memeluk Atlantik yang lebih pendek darinya, harusnya Atlantik jauh lebih tinggi dari ibunya, kan?
"Apa aku menyusul, kalian?" Dengan suara riang ia bertanya pada ibu yang masih membelai surai hitamnya.
Sang ibu hanya menggeleng membuat senyuman Atlantik leyap. "Tidak. Terlebih jangan buru-buru menyusul kami," ucap ibu Atlantik tenang, bibirnya tak pernah meninggalkan lengkungan indah yang Atlantik rindukan.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menyusul, kalian?" Atlantik melepaskan pelukannya. Ia menatap ibunya yang masih tampak sama seperti terakhir kali ia melihatnya. "Aku takut sendirian." Ia menumpahkan air matanya seolah meminta permen sepulang sekolah.
"Karena kami di sini untuk memberi hidup di sana." Atlantik merasakan tangan ibunya yang lembut membelai pipinya. "Jangan takut, jangan bersedih. Kami bahagia di sini, sayang. Jadi berbahagialah di dunia. Di sini menyenangkan, tapi kamu masih memiliki kewajiban. Aila juga merindukanmu tapi dia pasti bisa menahannya."
Atlantik beralih menatap anak kecil yang berdiri di samping ibunya. Rambutnya penuh dengan bunga-bunga yang dirangkai seperti Rapunzel. Ia berjongkok menyamai tinggi badan adik perempuannya. Lalu Aila mengulurkan kedua tangannya. Tangan mungil itu saling bertautan di belakang leher Atlantik, memeluknya erat karena mereka telah lama berpisah.
Kalau Aila masih hidup, ia pasti akan sebawel Kiara. Kiara? Kiara tunangannya? Atlantik terkesiap, ia ingat bahwa di alam yang berbeda Kiara sedang menunggunya. Ia secara spontan melepaskan pelukan adiknya. Atlantik menatap ibunya. Panik, ia mulai tidak nyaman di sini.