Pagi itu, suasana sekolah yang biasanya ramai dengan tawa dan obrolan berubah menjadi bisik-bisik dan tatapan menghakimi. Bukannya proyek Sejarah, Rafael ternyata memilih metode yang lebih langsung dan menghancurkan secara sosial. Foto-foto Anastasya yang "tidak senonoh" tiba-tiba tersebar luas, entah dari mana asalnya. Ponsel beredar dari tangan ke tangan,
menampilkan gambar-gambar yang membuat banyak siswa terperangah.
Gelombang kejutan dan cemoohan menyebar seperti api. Anastasya, yang baru saja tiba di sekolah, langsung merasakan perubahan atmosfer.
Orang-orang yang biasanya menyapanya kini menghindar, atau lebih buruk lagi, menatapnya dengan pandangan jijik dan mengejek. Bisikan "Lihat Anastasya," dan "Tidak menyangka dia seperti itu," terdengar jelas di telinganya.
Anastasya sendiri belum tahu apa yang terjadi. Ia berjalan ke lokernya, merasa ada yang tidak beres. Saat ia membuka lokernya, sebuah tempelan kertas kecil menempel di dalamnya, bertuliskan "Lihat media sosial sekolah." Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka platform media sosial sekolah. Dan di sanalah, terpampang jelas, foto-foto yang entah bagaimana telah dimanipulasi atau diambil di luar konteks, menampilkan dirinya dalam pose yang memalukan dan tidak pantas.
Darah Anastasya seolah mengering. Wajahnya memucat pasi. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Foto-foto itu... itu bukan dirinya yang sebenarnya. Tapi bagaimana bisa? Siapa yang melakukan ini? Dan mengapa?
Reaksi dan Cemoohan
Para siswa yang sebelumnya hanya berbisik-bisik kini semakin berani mencemooh.
Beberapa gadis menatapnya dengan jijik dan membuang muka, sementara beberapa siswa laki-laki menyeringai dan tertawa sinis. Label "muka lugu tapi kelakuan bejat" mulai tersemat padanya. Reputasinya yang selama ini bersih hancur dalam hitungan menit.
Luna, yang mengamati dari kejauhan, terlihat semakin gelisah. Tangannya meremas ujung roknya. Ada kilatan rasa bersalah di matanya, namun ketakutan akan Rafael jauh lebih besar. Ia tahu persis bagaimana foto-foto itu bisa tersebar, karena Rafael lah yang memberinya instruksi.
Rafael sendiri, di tengah keramaian, berdiri menyandar di dinding koridor, senyum puas terukir di wajahnya. Matanya yang dingin mengamati setiap reaksi, menikmati kehancuran yang telah ia ciptakan. Ini jauh lebih efektif daripada tuduhan plagiarisme. Ini langsung menghantam harga diri dan status sosial Anastasya, membuatnya menjadi paria di mata semua orang.
Anastasya merasa dunia di sekitarnya runtuh. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka yang mencemoohnya. Namun, rasa sakit dan kebingungan itu terlalu besar. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, atau bagaimana menghadapi badai ini.
Anastasya Menemukan Titik Terang
Di tengah badai cemoohan dan tatapan jijik yang menghantamnya, saat dunia seolah runtuh di sekitar Anastasya, otaknya berputar keras mencari penjelasan. Siapa yang bisa melakukan ini? Mengapa? Ia mencoba mengingat kembali setiap kejadian aneh belakangan ini. Lukisannya yang dinodai cat, buku-buku yang menghilang di perpustakaan, catatan anonim yang menuduhnya menyebarkan gosip. Pola itu, yang tadinya samar, kini tiba-tiba menjadi jelas.
Hingga satu nama terlintas di benak Anastasya: Luna. Ya, Luna. Gadis pendiam yang beberapa hari ini selalu kelihatan aneh. Luna yang tampak gelisah setiap kali berada di dekatnya. Luna yang selalu muncul di sekitar tempat insiden-insiden kecil itu terjadi. Luna yang terlihat menghindari tatapannya.
Meskipun Luna adalah gadis yang tidak menonjol dan tampaknya tidak berbahaya, Anastasya ingat bagaimana Luna selalu terlihat di lokasi "kecelakaan" kecil itu. Ditambah lagi, catatan yang menuduhnya menyebarkan gosip memiliki tulisan tangan yang samar-samar mirip Luna. Sebuah koneksi yang sebelumnya terasa tidak mungkin, kini terasa begitu dingin dan nyata.
Rasa kaget bercampur amarah menjalari tubuh Anastasya.
Mungkinkah Luna adalah dalang di balik semua ini? Tapi untuk apa? Luna tidak pernah punya masalah dengannya, tidak pernah terlihat menunjukkan rasa benci. Luna terlalu pendiam dan pemalu untuk melakukan hal sekejam ini, apalagi menyebarkan foto-foto memalukan seperti itu. Kecurigaan itu terasa ganjil, namun tak bisa dihapuskan.
Anastasya tahu ia tidak bisa diam saja. Ia tidak akan membiarkan dirinya dihancurkan oleh kebohongan dan manipulasi. Dengan tekad yang menguat di tengah kehancuran perasaannya, ia mulai mencari Luna.
Ia menemukan Luna di sudut lorong yang agak sepi, tampak gelisah, sesekali melirik ke arahnya dengan pandangan penuh rasa bersalah dan ketakutan.
Tanpa ragu, Anastasya melangkah mendekat. Suasana di antara mereka menegang. Luna yang melihat Anastasya mendekat, tubuhnya langsung menegang, matanya membelalak kaget bercampur ngeri. Ia tahu waktunya telah tiba.
"Luna," suara Anastasya terdengar serak, namun dengan nada yang jelas dan tegas, jauh dari sifat lugunya yang biasa. Ia menahan gejolak emosi di dadanya. "Apa ini semua ulahmu?"
Luna tidak menjawab. Wajahnya semakin pucat, tangannya gemetar hebat. Ia tidak berani menatap mata Anastasya, seolah kebenaran akan terpancar dari sana.
Dilema dan Tekanan
Anastasya tahu Luna tidak sendiri. Kebijakan dan kecerdasan di balik semua ini terlalu kompleks untuk Luna yang pendiam. Pasti ada dalang di balik Luna. Namun, Luna adalah satu-satunya petunjuk yang ia miliki saat ini.
Situasi menjadi sangat kritis. Reputasi Anastasya hancur, dan ia butuh kebenaran. Luna terperangkap antara ketakutan pada Rafael dan rasa bersalahnya. Sementara itu, pihak sekolah pasti akan segera turun tangan karena kehebohan yang terjadi.
Di hadapan Anastasya yang menuntut jawaban, Luna hanya bisa terdiam. Wajahnya yang pucat kini semakin memucat, matanya kosong menatap lantai, seolah mencari celah untuk menghilang. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena ketakutan pada kemarahan Anastasya, tetapi juga karena bayangan Rafael yang jauh lebih menakutkan. Ancaman Rafael, janji palsu yang mengikatnya, dan rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya telah merantai lidahnya.
Anastasya menunggu, napasnya tertahan. Ia bisa melihat ketakutan yang jelas di mata Luna. Kebisuan itu, ditambah dengan kegelisahan Luna, justru semakin menguatkan dugaan Anastasya. Luna memang terlibat.
Namun, ekspresi ketakutan yang begitu dalam itu juga memberi Anastasya petunjuk lain: Luna bukan dalang utamanya. Ada kekuatan yang lebih besar di balik gadis pendiam ini.
"Luna, tolong katakan padaku," desak Anastasya, suaranya sedikit melunak karena menyadari ketakutan Luna. "Siapa yang menyuruhmu? Apa yang terjadi sebenarnya?"
Namun, Luna hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin berbicara, ingin melepaskan beban yang menghimpitnya, tetapi teror dari Rafael begitu mencekik. Kata-kata yang seharusnya keluar justru tertahan di tenggorokannya, membentuk gumpalan tak terlihat.
Perhatian Guru dan Pihak Sekolah
Kehebohan di pagi hari akibat foto-foto yang tersebar sudah mencapai telinga para guru dan kepala sekolah. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari keseriusan situasi ini. Kerumunan siswa di koridor yang berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk Anastasya menjadi pemandangan yang tidak bisa diabaikan.
Tak lama setelah Anastasya mencoba mengonfrontasi Luna, seorang guru Bimbingan Konseling (BK), Bu Ratna, muncul di koridor. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan Anastasya yang pucat dan Luna yang gemetar. Bu Ratna telah mendengar desas-desus tentang foto-foto tersebut dan kini menyaksikan langsung ketegangan antara dua siswanya.
"Anastasya, Luna! Ada apa ini?" Bu Ratna bertanya dengan suara tegas, namun ada nada keprihatinan di dalamnya. "Ikut Ibu ke ruang BK sekarang."
Anastasya menatap Luna sekali lagi, seharap-harap cemas Luna akan bicara. Tapi Luna hanya menunduk, matanya terpejam erat. Rafael, yang mungkin masih mengawasi dari kejauhan, pasti merasa puas. Pionnya tetap bungkam, memastikan rencana besarnya terus berjalan.
Kini, nasib Anastasya akan ditentukan di ruang BK, di mana ia harus menghadapi tuduhan dan membela diri tanpa bukti, dan dengan Luna yang membisu di sisinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi papa
Novela JuvenilTidak pernah berbayang di dalam hidupnya. Kenzie kalau dirinya akan menjadi seorang ayah antagonis dan protagonis pria di novel yang dibuat oleh temen perkantorannya. "Jadi duda nih? Belum juga esek esek udah jadi duda aja monyet" *** Kenzie Agustin...
