Keesokan harinya, pagi menyapa dengan cahaya yang terasa begitu asing, menusuk mata. Rumah Alexander diselimuti keheningan yang lebih berat dari biasanya, sebuah kesunyian yang sarat akan luka dan rahasia yang telah terbongkar. Aroma kopi yang biasa tercium, kini bercampur dengan sisa-sisa kesedihan yang mengendap di setiap sudut ruangan.
Arhan tak beranjak dari sisi Prilly. Ia semalaman menjaga istrinya yang masih terbaring lemah di ranjang, wajahnya pucat pasi, sisa-sisa air mata masih jelas terlihat di pelupuk matanya. Sesekali Prilly menggumam dalam tidurnya, memanggil nama ibunya, nama adiknya, dan nama Felix Maxwell. Setiap gumaman itu adalah pisau yang mengiris hati Arhan. Ia menatap wajah wanita yang dicintainya, kini bukan hanya sebagai istri, melainkan juga sebagai korban dari takdir yang kejam. Rasa marah yang sempat membara, perlahan berganti dengan belas kasihan yang mendalam.
Daniel, dengan mata sembap dan wajah lesu, duduk termenung di sofa ruang tamu. Ia tak bisa tidur semalaman. Kata-kata ibunya, jeritan pilu yang memohon untuk dibunuh, terus terngiang di telinganya. Rasa bersalah menghimpit dadanya, menyesali setiap ucapan kasarnya. Ia tak pernah tahu, tak pernah menyadari, betapa besar beban yang dipikul ibunya sendirian. Di benaknya, muncul pertanyaan demi pertanyaan: bagaimana ia bisa begitu buta? Bagaimana ia bisa tidak melihat kehancuran di balik senyum ibunya?
Sandra dan Keandrick, yang juga tak bisa memejamkan mata, duduk berdekatan di meja makan. Keheningan mereka lebih pekat dari kata-kata. Sandra masih sesekali terisak, sedangkan Keandrick hanya bisa menggenggam erat tangan istrinya, mencoba mencari kekuatan di tengah badai yang menerjang keluarga mereka. Kebenaran yang terungkap tentang Prilly, tentang Felix Maxwell, tentang masa lalu kelam yang saling terkait, telah mengubah segalanya. Mereka tahu, jalan di depan akan panjang dan berliku, penuh dengan penyembuhan yang menyakitkan.
Saat matahari mulai naik lebih tinggi, menyinari setiap sudut rumah yang terasa dingin, Arhan merasakan Prilly sedikit bergerak. Perlahan, kelopak matanya terbuka, menampakkan sepasang mata yang masih dipenuhi kehampaan dan kesedihan yang mendalam. Prilly menatap Arhan, tatapannya kosong, seolah jiwanya masih terjebak di suatu tempat yang jauh, di masa lalu yang penuh penderitaan.
"Arhan..." bisik Prilly lirih, suaranya serak dan nyaris tak terdengar, sebuah hembusan napas yang membawa seluruh beban penderitaan yang tak terhingga. Kelopak matanya perlahan terbuka, menampakkan sepasang mata yang masih dipenuhi kehampaan dan kesedihan yang sangat mendalam, seolah jiwanya masih terjebak di suatu tempat yang jauh, di masa lalu yang penuh dengan bayangan hitam. Matanya menatap Arhan, tatapannya kosong, tak ada secercah cahaya pun di sana, hanya kehampaan yang memilukan.
Arhan berusaha meraih tangannya, ingin mendekapnya, memberikan sedikit kehangatan, sedikit kenyamanan. Namun, begitu sentuhan Arhan mendarat di kulitnya, Prilly langsung menarik diri dengan cepat, seolah sentuhan itu adalah bara api yang membakar. Sebuah gerakan menolak yang begitu jelas, begitu menyakitkan, lebih dari seribu kata. Tubuhnya menegang, menolak setiap upaya Arhan untuk mendekat, seolah dinding tak kasat mata telah ia bangun di sekelilingnya, tak mengizinkan siapa pun masuk ke dalam jurang penderitaannya.
"Jangan sentuh aku," bisik Prilly, suaranya begitu rapuh, nyaris tak terdengar, namun mengandung kepedihan yang luar biasa.
Matanya kini menatap Arhan, bukan dengan benci, tapi dengan luka yang menganga, seolah Arhan adalah bagian dari mimpi buruk yang tak kunjung usai. "Aku kotor. Terlalu kotor untuk disentuh. Darah pembenci itu mengalir dalam diriku. Aku jijik pada diriku sendiri, Arhan. Sangat jijik." Setiap kata adalah cambukan yang menghantam hati Arhan, lebih perih daripada pukulan fisik mana pun.
Arhan mencoba lagi, tangannya terulur, wajahnya memancarkan kesedihan dan keputusasaan yang mendalam. "Prilly, kumohon... jangan bicara seperti itu. Kau tidak kotor. Kau korban..."
Namun Prilly menggelengkan kepala, air mata kembali membasahi pelipisnya. "Korban? Aku bukan korban. Aku adalah monster yang tumbuh dari dendam. Monster yang melahirkan anak dari orang yang kubenci, monster yang hampir menghancurkan keluargamu. Aku tidak pantas disentuh. Aku tidak pantas dicintai." Suaranya bergetar, berubah menjadi isak tangis yang tertahan, sebuah suara yang mengoyak jiwa Arhan. Dinding yang Prilly bangun di sekeliling dirinya terasa semakin tebal, semakin tak tertembus, mengurungnya dalam penjara kesendirian dan rasa bersalah yang tak berujung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi papa
Ficção AdolescenteTidak pernah berbayang di dalam hidupnya. Kenzie kalau dirinya akan menjadi seorang ayah antagonis dan protagonis pria di novel yang dibuat oleh temen perkantorannya. "Jadi duda nih? Belum juga esek esek udah jadi duda aja monyet" *** Kenzie Agustin...
