22.

3.7K 179 0
                                        


Rafael melangkahkan kaki di koridor sekolah. Setiap langkahnya terasa berat, namun ada tujuan yang dingin membeku di dalam hatinya. Aroma buku-buku lama, desingan tawa para siswa, dan hiruk pikuk khas sekolah seolah tak mampu menembus selubung kegelapan yang menyelimutinya. Matanya menatap lurus ke depan, melewati teman-teman sekelasnya yang menyapa, melewati guru-guru yang berpapasan, seolah tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ada.

Pikirannya masih dipenuhi bayangan ibunya, bercampur aduk dengan wajah Anastasya. Setiap detik, skenario kejam yang ia rancang semalam semakin matang dalam benaknya. Rencananya untuk menghancurkan hidup Anastasya, membuatnya merasakan penderitaan yang ia alami, kini bukan lagi sekadar khayalan, melainkan tujuan nyata yang harus ia capai.

Ia tahu, ada tatapan-tatapan penasaran yang mengikutinya. Aura dingin dan misterius yang kini terpancar dari dirinya pasti terasa oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, ia tak peduli. Dunia seolah mengecil, hanya menyisakan dirinya dan dendam yang membara. Sekolah, yang dulu merupakan tempat ia bersosialisasi dan belajar, kini tak lebih dari panggung untuk melancarkan permainan keji yang telah ia siapkan.

.
.
.
.
.

Ketika bel istirahat berbunyi nyaring, menandakan jeda dari pelajaran, Rafael tidak bergerak dari kursinya. Pandangannya mengamati sekeliling kelas, mencari target. Bukan Anastasya yang menjadi sasarannya langsung, setidaknya belum. Rencananya adalah menghancurkan Anastasya dari dalam, menjadikannya kambing hitam, dan cara terbaik untuk itu adalah dengan menggunakan orang lain sebagai pion.

Matanya akhirnya berhenti pada seorang gadis pendiam yang duduk di barisan paling belakang, namanya Luna. Luna adalah siswa biasa, tidak menonjol, tidak memiliki banyak teman, dan jarang sekali menjadi pusat perhatian. Rafael menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya, penuh perhitungan. Luna adalah target yang sempurna: ia rapuh, mudah dimanipulasi, dan hampir tidak memiliki siapa pun yang akan membelanya.

Rafael bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju meja Luna. Langkahnya tenang, namun setiap gerakan memancarkan aura mengancam. Beberapa siswa yang melihatnya mendekati Luna berbisik-bisik, bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Luna, yang sedang asyik membaca buku, tidak menyadari kehadiran Rafael sampai bayangan tubuhnya menutupi halaman bukunya.

"Luna," suara Rafael datar, nyaris tanpa intonasi, namun cukup untuk membuat Luna terlonjak kaget. Gadis itu mendongak, matanya melebar karena terkejut melihat Rafael berdiri di depannya. Rafael adalah sosok yang disegani sekaligus ditakuti di sekolah, bukan karena kekerasan fisiknya, melainkan karena kecerdasan licik dan auranya yang dingin.

"I-iya, Rafael?" Luna tergagap, buku di tangannya sedikit bergetar.
Rafael tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, namun senyum itu sama sekali tidak ramah. "Aku membutuhkan bantuanmu." Nada suaranya bukan permintaan, melainkan sebuah perintah terselubung. "Ada sesuatu yang harus kau lakukan untukku." Ia kemudian membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Luna, dan membisikkan instruksinya dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh orang lain.

Kata-katanya adalah racun yang disuntikkan perlahan, janji palsu yang terdengar menggiurkan bagi Luna yang mendambakan pengakuan.
Wajah Luna berubah pucat pasi saat Rafael selesai berbisik. Matanya menunjukkan campuran ketakutan, kebingungan, dan sedikit godaan. Ia tahu apa yang diminta Rafael adalah sesuatu yang salah, namun aura dominan Rafael dan janji iming-iming yang diberikan terlalu sulit untuk ditolak oleh hatinya yang kesepian. Ia mengangguk lemah, tanpa daya, terperangkap dalam jaring yang baru saja ditebarkan Rafael.

Rafael menegakkan tubuhnya, senyum puas terukir di bibirnya. Pion pertamanya sudah bergerak. Sekarang tinggal menunggu waktunya. Permainan telah dimulai, dan ia akan memastikan Anastasya merasakan setiap tetes penderitaan yang ia rasakan.

Aksi Pertama Luna....

Beberapa hari setelah percakapan di bangku kelas itu, Luna mulai menunjukkan perubahan sikap yang mencolok. Gadis pendiam yang biasanya hanya duduk di pojok dan membaca buku kini terlihat lebih sering bergerak, kadang-kadang dengan tatapan gelisah, kadang-kadang dengan ekspresi kosong. Rafael mengamatinya dari jauh, senyum tipis puas sesekali tersungging di bibirnya setiap kali Luna menjalankan bagian dari rencananya.

Aksi pertama Luna tergolong kecil dan sepele, namun cukup untuk menabur benih keraguan. Saat jam pelajaran seni, di mana setiap siswa harus meninggalkan hasil karyanya untuk dinilai, Luna "secara tidak sengaja" menjatuhkan kuasnya di atas lukisan Anastasya, meninggalkan noda cat yang sulit dihilangkan. Itu terlihat seperti kecelakaan, dan Luna segera meminta maaf dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Anastasya, yang terkejut namun tidak curiga, hanya mengangguk dan mencoba membersihkan nodanya. Namun, beberapa teman di dekatnya berbisik-bisik, "Kok bisa pas di lukisan Anastasya, ya?"

Kemudian, di perpustakaan, saat Anastasya sedang mencari referensi untuk tugas kelompok, Luna terlihat "membantu" merapikan buku-buku di rak dekat Anastasya. Setelah Anastasya pergi, beberapa buku penting yang seharusnya tersedia untuk referensi tugas kelompoknya tiba-tiba menghilang, padahal Anastasya yakin ia melihatnya di sana. Ketika Anastasya kembali mencari, Luna lewat dengan cepat, menghindari tatapan Anastasya.

Benih Kecurigaan yang Tumbuh
Insiden-insiden kecil ini, yang awalnya tampak tidak disengaja, mulai membangun pola yang mengganggu. Anastasya mulai merasa ada yang aneh. Ia melihat bagaimana Luna tampak gugup setiap kali berada di dekatnya, atau bagaimana Luna sering terlihat di tempat-tempat di mana masalah-masalah kecil itu terjadi. Namun, Luna begitu pendiam dan tampak polos, sehingga Anastasya kesulitan menghubungkan titik-titik tersebut.

"Apa Luna benci padaku?" pikir Anastasya suatu sore, saat ia menemukan catatan kecil yang menyudutkannya tergeletak di mejanya, dengan tulisan tangan yang samar mirip Luna. Catatan itu mengklaim bahwa Anastasya telah menyebarkan gosip tentang seorang guru, sebuah tuduhan yang sama sekali tidak benar.

Anastasya mencoba berbicara dengan beberapa teman dekatnya, menceritakan kebingungannya. "Aku merasa ada yang mencoba menjebakku, tapi aku tidak tahu siapa atau kenapa," katanya, suaranya dipenuhi frustrasi. Teman-temannya mendengarkan dengan simpati, tetapi mereka juga sama bingungnya. Tidak ada yang bisa membayangkan siapa yang ingin menyakiti Anastasya, apalagi menggunakan cara yang licik.
Langkah Selanjutnya Rafael
Rafael, dari kejauhan, mengamati semuanya.

Ia melihat Luna yang semakin tertekan, Anastasya yang mulai menunjukkan tanda-tanda kebingungan dan frustrasi, serta bisikan-bisikan di antara siswa yang mulai bertanya-tanya. Ini semua berjalan sesuai rencana.

Kini, setelah benih kecurigaan dan kebingungan telah ditanam, Rafael tahu ini saatnya untuk meningkatkan taruhan. Ia tidak ingin Anastasya hanya merasa terganggu; ia ingin Anastasya benar-benar hancur dan menjadi paria di sekolah.

Senyum licik kembali menghiasi wajah Rafael. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, dan menatap foto-foto lama yang ia miliki tentang Anastasya. Foto-foto yang tampak tidak bersalah, namun dengan sedikit manipulasi, bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ia berencana membuat insiden yang lebih besar, yang akan menempatkan Anastasya dalam posisi yang sangat sulit, dan mungkin akan melibatkan lebih banyak orang. Sebuah insiden yang akan memaksa Anastasya untuk membela diri di hadapan seluruh sekolah, dan pada akhirnya, akan menjadikannya kambing hitam sempurna.

Transmigrasi papa Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang