HAPPY READING
Di bawah tatapan lembut cahaya rembulan yang menyelimuti kegelapan malam, sebuah kamar sunyi menjadi saksi bisu kegelisahan seorang pria muda. Rafael, putra bungsu Keandra, tampak tenggelam dalam lautan buku-buku yang berserakan di meja belajarnya. Pikirannya kalut, dihantui oleh percakapan antara sang ayah dan kakeknya sore tadi.
"Aku... aku menemukan," suara ayahnya kembali terngiang jelas di benaknya, "kalau orang yang disukai Deran dan Rafael juga termasuk dalam empat orang yang aku sebut. Tapi Anastasya hanya pancingan bagi kita semua karena orang yang berdiri di belakang Anastasya adalah Keluarga Prasmanan. Aku tidak tahu apa hubungan mereka dengan ini."
Setiap kata itu menusuk relung hati Rafael, menghantamnya bagai palu godam. Gadis yang dicintainya,
Anastasya, ternyata terlibat dengan orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian ibunya. Hatinya mencelos, diselimuti rasa sakit dan pengkhianatan yang mendalam. Apa hubungan Anastasya dengan Keluarga Prasmanan? Apa motif mereka di balik semua kekacauan ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, menuntut jawaban yang tak kunjung datang.
Sorot mata Rafael memerah padam, nyalang dipenuhi amarah. Tangannya terkepal erat, mencengkeram udara kosong seolah ingin meremukkan sesuatu. Tatapannya menghunus tajam, setajam belati yang siap menusuk. Dalam benaknya, ia ingin menghancurkan siapa saja yang telah mengusik kedamaian keluarganya. Dendam membara, membakar seluruh jiwanya.
Nama Anastasya, yang tadinya terukir indah di hatinya, kini tercoreng. Ia akan memasukkannya ke dalam daftar hitam, daftar orang-orang yang harus disingkirkan. Rafael bersumpah tak sudi mencintai gadis yang terlibat dalam kehancuran keluarganya. Jika bisa, ia akan membuat hidup Anastasya bagaikan neraka. Ia akan memastikan gadis itu merasakan penderitaan yang sama, atau bahkan lebih parah, dari apa yang telah ia alami.
Tiba-tiba, tawa sinis pecah dari bibir Rafael, memenuhi kesunyian kamar. Tawa itu terdengar hampa, diwarnai kegilaan yang tak terbendung. "Mama masih hidup selama ini, hahahaha. Aku masih memiliki ibu, aku memiliki ibu. Bukankah itu hal yang sangat mengejutkan, dan juga membahagiakan?" Ia bergumam, suaranya bergetar antara kegembiraan dan kekejaman.
Tangannya terulur, mengelus bingkai foto seorang perempuan yang wajahnya kini penuh coretan tinta merah. Itu adalah foto ibunya, yang selama ini ia kira telah tiada. Fakta bahwa ibunya masih hidup telah memicu percikan kegilaan dalam dirinya, mengubahnya menjadi pribadi yang gelap dan penuh dendam.
"Untukmu, bajingan kecil," bisik Rafael, matanya terpaku pada foto itu, seolah berbicara pada sosok di baliknya. "Tunggu permainan yang kubuat untukmu."
Otaknya bekerja cepat, merangkai skenario-skenario keji. "Hmmmm, bagaimana kalau aku membuatmu merasakan apa yang kurasakan selama ini? Aku akan membunuh ibumu, tetapi menjadikanmu sebagai kambing hitamnya sehingga membuat ayahmu membencimu. Lalu, aku akan membuatmu dibully oleh seluruh siswa sekolah, dan dengan begitu aku akan menjadi seorang pahlawan yang akan menolongmu." Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang dingin dan mematikan.
Ia menjeda sejenak, meresapi ide-ide mengerikan itu. "Ahhh, itu sepertinya bukanlah pemikiran yang buruk. Dan bagaimana kalau aku menambah percikan api dalam drama itu? Hmm, sepertinya akan sangat menyenangkan."
Hanya satu kata yang mampu menggambarkan Rafael saat ini: gila. Siapa pun yang mendengar pemikirannya pasti akan menganggapnya tidak waras. Ia memandang manusia seolah-olah mereka adalah boneka, mainan semata yang bisa ia permainkan sesuka hati. Batas antara akal sehat dan kegilaan telah kabur, tergantikan oleh hasratnya untuk membalas dendam dan menghancurkan semua yang telah menyakitinya. Rafael kini adalah pribadi yang kejam, penuh intrik, dan siap melakukan apa saja demi mencapai tujuannya.
Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa mencekam. Keandra, yang merasakan ketegangan itu, hanya bisa diam membisu dan diliputi ketakutan. Udara di sekeliling mereka seolah menipis, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan, diwarnai oleh dentingan sendok dan garpu yang sesekali terdengar. Rafael duduk di kursinya, tatapannya kosong menatap piring di hadapannya, namun pikirannya berkelana jauh.
Bayangan ibunya, bercampur dengan wajah Anastasya yang kini penuh coretan tinta merah di dalam benaknya, terus berkelebat. Setiap gigitan sarapan terasa hambar di lidahnya, seperti makan kerikil.
Di sisi lain meja, Deran, kakak Rafael, sesekali melirik adiknya dengan raut khawatir. Ia merasakan aura gelap yang menyelimuti Rafael, sebuah kegelapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Keandra, sebagai kepala keluarga, mencoba memecah keheningan yang membebani. Ia berdeham pelan, mencoba mencari kata-kata yang tepat, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan putra bungsunya, tetapi ia tidak tahu bagaimana mendekati Rafael, apalagi setelah percakapannya dengan sang kakek tadi malam. Pikiran tentang "Keluarga Prasmanan" dan keterlibatan Anastasya membuat jantungnya berdebar kencang. Ia takut, sangat takut akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.
Masing-masing anggota keluarga terjebak dalam pikiran mereka sendiri, menciptakan tembok tak kasat mata yang memisahkan mereka. Rafael tiba-tiba mendorong kursinya ke belakang dengan suara berderit, memecah keheningan yang pekat. Suara itu cukup untuk membuat Keandra dan Deran tersentak. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rafael bangkit dari meja.
"Aku ada kelas pagi," katanya datar, suaranya tanpa emosi. Ia bahkan tidak repot-repot menatap orang tuanya atau kakaknya. Matanya tetap kosong, namun di dalamnya berkobar api dendam yang tak terlihat oleh siapa pun. Ia berbalik dan melangkah pergi, langkahnya terasa berat namun pasti, meninggalkan jejak ketegangan di belakangnya.
Setelah kepergian Rafael, Deran menghela napas panjang. Ia menatap Keandra yang masih terpaku, wajahnya pucat pasi. "Ayah, Rafael... dia tidak baik-baik saja," ucap Deran pelan, mencoba menyampaikan kekhawatirannya.
Keandra hanya mengangguk pelan, matanya menerawang jauh. "Ayah tahu, Nak," gumamnya. "Ayah tahu."
Deran, merasa tak ada lagi yang bisa ia lakukan, juga berdiri dari kursinya. "Aku juga harus pergi. Ada janji dengan teman-teman." Ia menepuk bahu Keandra singkat, lalu berjalan menuju pintu, meninggalkan Keandra sendirian di meja makan yang terasa semakin besar dan kosong.
Keandra tetap duduk di sana untuk beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya. Kegelisahan menggerogoti hatinya. Ia tahu bahwa badai akan datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi papa
Fiksi RemajaTidak pernah berbayang di dalam hidupnya. Kenzie kalau dirinya akan menjadi seorang ayah antagonis dan protagonis pria di novel yang dibuat oleh temen perkantorannya. "Jadi duda nih? Belum juga esek esek udah jadi duda aja monyet" *** Kenzie Agustin...
