26.

3.4K 153 0
                                        


Pintu kantor Kepala Sekolah tertutup rapat di belakang Anastasya, mengunci di dalamnya keputusan yang menghancurkan. Ia berjalan keluar dengan langkah gontai, pandangannya kabur karena air mata yang tak henti mengalir. Setiap tatapan siswa yang ia temui di koridor terasa seperti cambuk, setiap bisikan bagai sayatan pisau. Rasa malu, sakit hati, dan pengkhianatan meluap-luap di dadanya.

Ia tidak langsung pulang. Sebaliknya, ia menuju bangku taman sekolah yang agak tersembunyi, di mana sang ibu telah menunggunya dengan cemas setelah panggilan dari sekolah. Saat melihat putrinya keluar dari gedung dengan wajah sembap dan mata bengkak, hati sang ibu langsung mencelos.

"Anastasya, sayangku, ada apa?" tanya Ibu dengan nada khawatir, segera menghampiri dan merengkuh putrinya.

Saat itulah, bendungan air mata Anastasya jebol. Ia ambruk dalam pelukan ibunya, menangis tersedu-sedu. Semua beban, semua rasa sakit, semua ketidakadilan yang ia rasakan tumpah ruah dalam isakan pilu. Ia menceritakan segalanya: tentang foto-foto yang tersebar, tentang tuduhan palsu, tentang kesaksian Luna yang mengkhianatinya, dan tentang keputusan skorsing yang terasa begitu tidak adil.

Sang ibu mendengarkan dengan hati teriris. Ia memeluk erat Anastasya, mengelus rambut putrinya, membiarkan Anastasya menumpahkan segala yang ada di hatinya. Air mata juga mulai membasahi pipinya, merasakan kepedihan yang sama. Ia mengenal putrinya, tahu betul Anastasya bukan tipe gadis yang akan melakukan hal memalukan seperti itu. Ada sesuatu yang tidak beres.

"Itu tidak benar, Bu! Aku tidak pernah melakukan itu! Aku tidak tahu kenapa Luna... kenapa dia bilang seperti itu," isak Anastasya di bahu ibunya. "Semua orang percaya mereka. Aku tidak punya siapa-siapa, Bu..."

Sang ibu menangkup wajah Anastasya. "Ibu tahu, Nak. Ibu percaya padamu. Ibu tahu putri Ibu tidak akan pernah melakukan hal seperti itu." Tatapan matanya penuh kasih sayang, namun juga mengandung tekad yang kuat. "Kita tidak akan diam saja. Kita akan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini dan membersihkan namamu."

Rafael, yang mengamati adegan pilu itu dari balik pepohonan di sudut taman, menyunggingkan senyum miring. Ia melihat air mata Anastasya, mendengar isakan pilunya, dan menyaksikan kehangatan pelukan sang ibu. Baginya, itu bukan pemandangan yang menyentuh, melainkan konfirmasi bahwa rencananya berjalan sempurna. Ia telah berhasil menjatuhkan Anastasya secara sosial, membuatnya kehilangan reputasi dan kepercayaan teman-temannya.

Namun, senyum Rafael tidak berhenti di sana. Rasa dendamnya tidak terpuaskan hanya dengan penderitaan sosial. Dalam benaknya, sebuah rencana baru, jauh lebih kejam dan gelap, mulai terbentuk. Ia teringat kembali pada motif awalnya: membuat Anastasya merasakan penderitaan yang sama dengan yang ia alami, penderitaan kehilangan dan kehancuran keluarga.

.
.
.
.
.

Beberapa hari setelah Anastasya diskors,  Rafael mulai menjalankan rencana paling kejamnya.

Rafael telah mengamati rutinitas keluarga Anastasya. Ia tahu bahwa ibu Anastasya sering kali menyirami tanaman di taman belakang rumah pada sore menjelang malam. Ia juga tahu bahwa Anastasya, dalam keadaan tertekan dan marah, terkadang menjadi ceroboh atau impulsif.

Pada malam yang gelap dan sepi, ketika bintang-bintang hanya samar terlihat, Rafael menyelinap ke lingkungan rumah Anastasya. Dengan sarung tangan dan perlengkapan seadanya, ia mulai mempersiapkan "kecelakaan" itu. Ia memanipulasi instalasi listrik di sekitar area taman tempat ibu Anastasya biasa menyiram tanaman. Secara khusus, ia merusak isolasi kabel lampu taman yang agak tersembunyi, dekat dengan jalur air, memastikan kabel itu akan terekspos dan menjadi sangat berbahaya ketika bersentuhan dengan air. Ia juga menempatkan alat-alat kebun yang tajam atau benda keras di dekat area itu, seolah-olah baru saja digunakan dan ditinggalkan begitu saja.

Namun, bagian paling mengerikan dari rencananya adalah menghubungkan ini dengan Anastasya. Rafael tahu bahwa Anastasya sering membantu ibunya, atau bahkan kadang lupa merapikan peralatan kebun setelah memakainya. Dengan keahliannya memanipulasi, ia akan meninggalkan jejak samar yang mengarah pada Anastasya.

.
.
.
.
.

Teriakan Anastasya memecah keheningan malam, menusuk kegelapan seperti pisau. Ia berlari keluar rumah, mencari ibunya yang tak kunjung masuk setelah menyiram tanaman.

Pemandangan di taman belakang membekukan darahnya: tubuh sang ibu tergeletak tak bergerak di tanah, selang air masih tergegeletak tak jauh, dan aroma hangus samar tercium di udara. Sebuah lampu taman di dekatnya terlihat sedikit miring, dengan kabel yang terkelupas jelas terlihat.

"Ibu! Ibu!" teriak Anastasya histeris, menjatuhkan diri di samping tubuh ibunya yang dingin. Ia mengguncang bahu sang ibu, memanggil namanya berulang kali, namun tidak ada respons. Panik dan takut melumpuhkannya. Air mata bercampur dengan gerimis malam, membasahi wajahnya. Ia tahu ada yang salah, sangat salah.

Ponsel di tangannya bergetar hebat saat ia berusaha menghubungi ayahnya dan nomor darurat. Suara napasnya tak beraturan, tangisannya pecah. Di tengah kepanikan itu, matanya menangkap sesuatu di dekat tubuh ibunya: sebuah gunting tanaman yang biasa ia pakai, tergeletak di rumput. Dan tak jauh dari situ, di antara tanaman, ada sarung tangan kebun miliknya yang terjatuh. Pikirannya kosong. Bagaimana ini bisa terjadi?
.
.
.
.
.

Tak lama kemudian, sirene mobil polisi dan ambulans memecah kesunyian malam. Lampu biru dan merah berputar, menyinari setiap sudut rumah dan taman. Tetangga-tetangga mulai berdatangan, mata mereka penuh rasa ingin tahu dan prihatin. Ayah Anastasya tiba tak lama kemudian, wajahnya pucat pasi saat melihat keramaian di rumahnya dan istrinya yang tergeletak di tangan paramedis.

Polisi memeriksa lokasi kejadian, mengambil foto, dan menanyai Anastasya yang masih syok. Ia berusaha menjelaskan, tetapi kata-katanya keluar dengan kacau balau, terputus-putus oleh isakan.
"Saya... saya tidak tahu, Pak... Ibu cuma mau siram tanaman... lalu saya dengar suara... dan saya lihat Ibu sudah..." Anastasya tak mampu melanjutkan kalimatnya.

Para petugas mencatat setiap detail, termasuk penemuan gunting dan sarung tangan milik Anastasya di dekat lokasi kejadian. Mata mereka saling berpandangan. Kecelakaan? Atau ada kelalaian?

Keesokan harinya, kabar kematian ibu Anastasya menyebar cepat, dan tidak butuh waktu lama bagi desas-desus mengerikan untuk ikut beredar. Di sekolah, para siswa mulai berbisik-bisik. "Katanya ibunya Anastasya meninggal karena dia sendiri ceroboh." "Aku dengar Anastasya lagi stres berat gara-gara kasus foto, makanya dia lalai."
"Jangan-jangan dia yang nggak sengaja ninggalin alat-alat itu."

Ayah Anastasya, yang sedang diliputi kesedihan mendalam, mendengar bisikan-bisikan itu dari sana-sini. Ia juga dihadapkan pada laporan awal polisi yang menyebutkan kemungkinan adanya kelalaian.

Ketika ia melihat gunting dan sarung tangan yang ditemukan di lokasi, ia teringat bahwa Anastasya memang sering membantu ibunya berkebun, dan kadang lupa merapikan peralatan.

Transmigrasi papa Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang