Mendengar kabar bahwa salah satu anggota keluarga mereka diteror, darah seluruh keluarga besar Alexander serasa mendidih, mengalirkan amarah yang panas dan menggelegak dalam setiap denyut nadi. Ini bukan sekadar berita, ini adalah tamparan keras di wajah kehormatan mereka, ancaman yang mengguncang fondasi ketenangan yang selama ini mereka jaga dengan sangat rapat.
Kemarahan itu membara, merasuk ke setiap sudut hati, tidak bisa lagi ditahan.
Keandrick, sang kepala keluarga, dengan rahang mengeras dan mata menyala-nyala, tak membuang waktu sedetik pun. Ia segera mengerahkan setiap sumber daya yang ia miliki, setiap koneksi yang terjalin selama puluhan tahun, untuk mencari tahu siapa dalang di balik teror keji yang berani menyentuh keluarga anak bungsunya. Perintahnya singkat, namun mengandung bobot ancaman yang tak terhingga: temukan dia, seret dia ke hadapanku. Tak ada ampun bagi siapa pun yang berani mengusik kedamaian keluarganya.
Di sisi lain, Sandra, sang ibu, dilanda gelombang kecemasan yang menggulung. Hatinya mencelos, diselimuti ketakutan yang mencekik. Bayangan buruk berkelebat di benaknya, setiap skenario terburuk seakan nyata di hadapan mata. Setiap napas terasa berat, dipenuhi kekhawatiran yang tak terkira. Anaknyalah yang menjadi sasaran, buah hatinya yang tak bersalah, dan rasa sakit itu begitu perih, menusuk sampai ke tulang.
Suasana di ruang keluarga tiba-tiba berubah, diselimuti aura dingin dan mencekam. Manuel, dengan sorot mata setajam pisau dan nada suara yang membeku, memecah keheningan yang menyesakkan. “Ayah, sepertinya di dalam keluarga kita memiliki seorang pengkhianat,” ucapnya, setiap kata terucap dengan penekanan yang sarat makna, seolah menunjuk ke arah hantu tak kasatmata di antara mereka.
Sandra, dengan jantung berdebar kencang, menoleh ke arah putranya. “Maksudmu sayang? Apa maksudmu dengan penghianat?” tanyanya, suara bergetar dipenuhi kebingungan dan ketidakpercayaan yang mendalam. Ia mencoba mencerna, mencari celah dalam logika Manuel, namun pikiran itu terlalu absurd untuk bisa diterima.
Arhan, dengan seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya—sebuah seringai pahit yang hanya menyiratkan rasa muak—melengkapi ucapan Manuel. “Maksud Abang adalah salah satu dari kita merupakan seorang penghianat, Ma. Dia ada di sekitar kita, berdiri di dekat kita bertahun-tahun lamanya, berpura-pura setia, berpura-pura peduli, tanpa sedikit pun kita ketahui wajah aslinya.” Setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah racun yang merayap, melumpuhkan setiap harapan akan keutuhan keluarga.
Tawa renyah, namun penuh sinisme, tiba-tiba memecah kekakuan. Dominic, dengan mata berbinar-binar penuh kemarahan yang tersembunyi, ikut menimpali. “Hahahahaha, benar Nek! Di sini, waktu ini, dia juga mengikuti pembicaraan ini bersama kita sekarang! Mendengarkan setiap kata, setiap rencana, setiap keluh kesah, seolah-olah dia adalah bagian dari kita. Sungguh ironi yang memuakkan!” Ucapannya menggema, memperkuat tuduhan yang semakin menganga.
Daniel, dengan suara yang dipenuhi jijik dan kebencian yang mendalam, tak kalah pedas. “Bertahun-tahun kita tak mengetahuinya, betapa bodohnya kita ini! Cikcikcik. Dan sialnya, darahnya mengalir dalam diriku, cih.” Ia meludah ke samping, seolah ingin membuang setiap jejak kotoran yang menempel pada dirinya, rasa jijik terhadap darah yang sama mengalir di nadinya begitu nyata. Itu adalah pengkhianatan yang paling pribadi, yang paling menyakitkan, menusuk hingga ke inti jiwa.
“A-apa…?” Sandra tergagap, napasnya tercekat, mata membulat sempurna. Ia menatap satu per satu wajah anak-anaknya, mencoba mencari jawaban, mencari penolakan, namun yang ia temukan hanyalah kemarahan dan kekecewaan yang membakar. Otaknya berusaha keras memproses informasi yang baru saja ia dengar, namun rasanya terlalu berat, terlalu tidak masuk akal. Ini adalah mimpi buruk yang paling mengerikan yang pernah ia alami.
Dengan nada dingin yang mengiris, Arhan menatap lurus ke arah Sandra, tatapannya tak berkedip, penuh kepastian yang menyakitkan. “Ya, Mom. Menantumu adalah pengkhianat itu, yang merangkak menjadi istriku selama puluhan tahun. Dia hidup di antara kita, menipu kita semua, memainkan peran sebagai bagian dari keluarga ini, sementara di baliknya, dia adalah duri, racun yang perlahan membunuh kita dari dalam.” Kalimat itu menghantam seperti palu godam, menghancurkan setiap ilusi yang tersisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi papa
Ficção AdolescenteTidak pernah berbayang di dalam hidupnya. Kenzie kalau dirinya akan menjadi seorang ayah antagonis dan protagonis pria di novel yang dibuat oleh temen perkantorannya. "Jadi duda nih? Belum juga esek esek udah jadi duda aja monyet" *** Kenzie Agustin...
