37.

4.5K 127 14
                                        

Deran melangkah memasuki lorong-lorong dingin penjara dengan langkah mantap. Raut wajahnya datar, tanpa menunjukkan gurat emosi, namun sorot matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Suara derit nyaring pintu besi berkarat terdengar memekakkan telinga saat sipir membuka sel untuknya, dan Deran melangkah masuk, sama sekali tanpa rasa gentar. Seolah tempat ini bukanlah sarang keputusasaan, melainkan arena yang harus ia taklukkan.

Di balik jeruji besi yang kusam dan dipenuhi karat, sosok misterius itu duduk termenung dalam keheningan yang menyesakkan. Wajahnya terlihat lelah, gurat kerutan yang dalam semakin kentara di dahinya, seiring dengan waktu yang telah ia habiskan di balik dinding-dinding penjara yang suram ini. Pandangannya meredup, kehilangan kilau yang dulu mungkin pernah ada. Namun, ketika ia merasakan kehadiran seseorang di hadapannya, perlahan kepalanya terangkat. Tatapan mereka bertemu, dan dalam sekejap, sosok misterius itu langsung mengenali siapa yang kini berdiri di hadapannya. Sebuah kejutan kecil melintas di matanya, sebelum kembali tertutup oleh lapisan ketidakpedulian yang pekat.

Deran berdiri tegak di depan sel, dengan tatapan dingin yang menusuk, seolah mampu menembus setiap lapis pertahanan. Kedua tangannya terlipat rapat di depan dada, menunjukkan sikap tak gentar. Bibirnya menyeringai tipis, sebuah senyuman sinis yang tidak mencapai matanya, membuat udara di sekitar mereka terasa semakin berat dan dipenuhi ketegangan yang pekat, seolah-olah waktu itu sendiri berhenti berdetak di antara mereka.

Keheningan menggantung tebal, hanya dipecahkan oleh suara napas mereka yang teratur dan desau angin samar yang entah dari mana. Sosok misterius itu membalas tatapan Deran, sebuah ekspresi tak terbaca melintas di wajahnya yang keriput. Ada sesuatu dalam sorot matanya—bukan takut, bukan pula rasa bersalah, melainkan semacam kekosongan yang dalam, bercampur dengan kelelahan yang tak berujung.

"Kau datang," suara sosok itu serak, nyaris berbisik, seolah kata-kata itu terasa berat untuk diucapkan. "Sudah kuduga."
Deran tidak bergeming. Seringai tipisnya sedikit melebar. "Tentu saja aku datang. Ada hal-hal yang perlu diselesaikan." Nada suaranya datar, tanpa emosi, namun tersirat ancaman yang jelas. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan tetesan embun beku yang jatuh di tanah tandus.
Sosok misterius itu menghela napas panjang, seolah membuang beban yang tak terlihat. "Untuk apa semua ini, Deran? Dendam?" Ada sedikit getir dalam suaranya, seolah ia sudah terbiasa dengan pertanyaan semacam itu, atau mungkin, ia sudah lelah menghadapinya.

"Bukan hanya dendam," balas Deran, matanya menyala dingin. "Ini tentang keadilan. Tentang semua yang telah kau renggut. Tentang semua janji yang kau ingkari." Jemarinya mengepal perlahan, buku-buku jarinya memutih, menunjukkan emosi yang berusaha ia tahan mati-matian di balik topeng ketenangan.

Sosok misterius itu terdiam sesaat, tatapannya menerawang jauh, seolah sedang mengingat kembali masa lalu yang kelam. Sebuah bayangan penyesalan singkat melintas di wajahnya, namun dengan cepat lenyap, digantikan oleh ekspresi tabah yang dingin. "Keadilan, kau bilang? Apa yang kau harapkan bisa kau dapatkan di tempat seperti ini, Deran? Aku sudah kehilangan segalanya."

"Tidak segalanya," jawab Deran cepat, suaranya kini sedikit menajam. "Kau masih punya rahasia. Dan aku akan memastikannya terungkap." Kata-kata itu menggema di lorong sempit, membawa serta ancaman yang tak terbantahkan, seolah setiap huruf adalah belati tajam yang siap menghujam.

Sosok misterius itu mengangkat wajahnya, menatap Deran lurus-lurus. Untuk pertama kalinya, ada sedikit kilatan emosi di matanya—rasa putus asa, mungkin, atau mungkin tantangan. "Kau tidak akan menemukan apa pun yang kau cari di sini, Deran. Semua sudah berakhir."

"Berakhir?" Deran tertawa kecil, tawa yang kering dan tanpa kehangatan. "Ini baru permulaan."

Tentu, ini kelanjutan ceritanya:
Deran melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke jeruji besi, seolah ingin memastikan setiap kata yang ia ucapkan meresap jauh ke dalam sanubari sosok misterius itu. "Kau mungkin berpikir tembok-tembok ini akan melindungimu, mengubur semua kebusukan yang kau lakukan. Tapi kau salah. Kebenaran punya cara untuk muncul ke permukaan, tidak peduli seberapa dalam kau menguburnya." Nadanya rendah, namun penuh ketegasan, seperti bisikan angin di tengah badai.

Transmigrasi papa Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang