Setibanya di mansion, Rafael langsung menuju kamarnya, langkahnya cepat dan pasti. Keandra yang melihat tingkah putranya itu hanya bisa memijit pelipisnya yang berdenyut. Perasaan campur aduk antara kebingungan, kecurigaan, dan ketakutan menyelimutinya. Keandra mendapati dirinya berada di persimpangan jalan. Ia bertekad. Kasus pembunuhan Luna harus diusut tuntas. Ia harus mencari tahu kebenaran mutlak: apakah putranya, Rafael, adalah pelaku sebenarnya, atau apakah ada dalang lain di balik tuduhan mengerikan itu. Tekad itu menguat, sebuah api kecil menyala di dalam hatinya yang dipenuhi misteri.
Sementara itu, di balik pintu kamarnya yang tertutup, Rafael tidak membuang waktu. Segera setelah masuk, ia meraih ponselnya. Jari-jarinya dengan cepat mengetik nomor yang ia hapal di luar kepala.
"Kakek," suara Rafael terdengar lebih tegas sekarang, tanpa jejak kepanikan yang sempat ia tunjukkan saat menelepon sebelumnya. "Kasus di sekolah sudah beres. Papa tidak terlalu curiga, tapi Malik... dia tetap kekeh. Dia punya firasat. Kita harus menyingkirkannya. Kakek harus memastikan semua bukti yang mungkin mengarah padaku di tempat kejadian Luna menghilang itu bersih. Tidak boleh ada jejak sedikitpun. Dan, Kakek," nada suara Rafael menjadi lebih dingin dan menyeramkan, "pastikan Malik ditetapkan sebagai tersangka tunggal. Buat seolah-olah dia yang membunuh Luna karena cemburu. Dia yang menemukan Luna, itu bisa jadi alibi yang kuat untuk Kakek gunakan."
Di ujung telepon, suara serak seorang pria terdengar mengiyakan, "Sudah Kakek bilang, Rafael. Jangan khawatir. Semua akan beres. Kakek akan mengurusnya. Kau hanya perlu fokus pada sekolahmu dan bertindak seperti biasa. Papa-mu tidak akan tahu apa-apa."
Rafael tersenyum puas. Senyuman tipis dan penuh perhitungan, yang sama sekali tidak mencerminkan anak SMP pada umumnya. Ia menutup telepon, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Mata itu tampak dingin, penuh rahasia. Ia tahu ia aman.
Keandra, di sisi lain, masih berdiri di ruang tamu, pandangannya kosong. Ia merasakan ada sesuatu yang sangat gelap di dalam keluarganya, sesuatu yang melampaui mimpi anehnya. Misteri mengenai dirinya sendiri dan "Keandra yang asli" kini terasa semakin terkait dengan rahasia kelam putranya.
Keandra tak bisa lagi menahan diri. Firasat kuat yang terus menghantuinya, ditambah dengan tingkah laku aneh Rafael, mendorongnya untuk bertindak. Sebagai seorang hacker ulung di masa lalunya, Keandra tahu cara menemukan kebenaran yang tersembunyi. Dengan tekad membara, ia memutuskan untuk menggunakan keahliannya demi mengungkap misteri pembunuhan Luna.
Ia menuju ruang kerjanya, menyalakan komputer, dan jemarinya mulai menari di atas keyboard. Kode-kode rumit bermunculan di layar, mencari jejak digital, log komunikasi, dan rekaman pengawasan yang mungkin terhubung dengan kasus Luna. Berjam-jam ia larut dalam pencariannya, menembus lapisan-lapisan keamanan, menggali informasi yang tak kasat mata bagi orang awam.
Lalu, sebuah nama muncul. Malik. Data-data yang Keandra temukan secara mengejutkan menunjuk ke arah Malik. Ada komunikasi mencurigakan, transaksi tersembunyi, bahkan indikasi keberadaan Malik di tempat kejadian saat Luna menghilang, yang lebih dari sekadar "penemu mayat" seperti yang ia klaim. Semakin dalam ia menggali, semakin kuat bukti yang mengarah pada Malik sebagai dalang di balik semua ini. Motifnya, meskipun belum sepenuhnya jelas, mulai terlihat samar-samar dalam jejak digital yang ditinggalkan.
Keandra terpaku di kursinya, memandangi layar dengan perasaan campur aduk. Terkejut, tentu saja. Ia tidak pernah menduga bahwa Malik, yang selama ini terlihat sebagai korban atau setidaknya saksi, adalah dalang di balik kematian Luna. Namun, di tengah keterkejutannya, ada rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya. Putranya, Rafael, bukanlah pelakunya. Setidaknya, itulah yang ditunjukkan oleh bukti-bukti yang ia temukan. Beban berat yang menimpanya perlahan terangkat. Ia tak perlu lagi dihantui pikiran bahwa darah Luna ada di tangan putranya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi papa
Fiksi RemajaTidak pernah berbayang di dalam hidupnya. Kenzie kalau dirinya akan menjadi seorang ayah antagonis dan protagonis pria di novel yang dibuat oleh temen perkantorannya. "Jadi duda nih? Belum juga esek esek udah jadi duda aja monyet" *** Kenzie Agustin...
