27.

3.4K 173 0
                                        


Kematian ibu Anastasya menjadi awal dari neraka yang nyata baginya. Ayahnya, yang selama ini menjadi sosok tegar dan penyayang, kini ambruk dalam duka dan kebingungan. Bisikan-bisikan yang disebarkan Rafael tentang "kelalaian" Anastasya, ditambah dengan "bukti" yang ditemukan di lokasi kejadian, perlahan mengikis akal sehat sang ayah. Ia melihat gunting dan sarung tangan itu, teringat bagaimana Anastasya sering kali ceroboh meninggalkan barang. Dalam kesedihan yang membutakan, ayah Anastasya mulai menuduh putrinya sendiri sebagai penyebab kematian istrinya.

"Kenapa, Anastasya? Kenapa kamu tidak hati-hati?" raung sang ayah di suatu malam yang dingin, matanya merah dan suaranya penuh kepedihan yang menusuk. "Ibumu... ibumu tidak akan pergi kalau bukan karena kamu!"

Kata-kata itu bagai panah beracun yang menembus jantung Anastasya. Ia mencoba menjelaskan, membela diri, tetapi setiap kalimat yang keluar darinya hanya dianggap sebagai upaya untuk mengelak. Ayahnya tidak lagi mendengarkan. Rumah yang tadinya hangat dan penuh cinta kini diselimuti aura dingin kebencian. Tangisan Anastasya, yang kini menjadi penghuni tetap rumah itu, tak mampu meluluhkan hati sang ayah yang terpukul.

Pukulan Beruntun yang Meremukkan
Keterpurukan sang ayah semakin menjadi-jadi. Ia mencari pelarian dalam alkohol. Botol-botol minuman keras menjadi teman setianya, dan setiap teguk hanya menambah kekacauan dalam pikiran serta hatinya. Ia semakin menjauh dari Anastasya, bahkan mengabaikan kebutuhannya. Anastasya mencoba merawat ayahnya, mencoba mengembalikan kehangatan yang hilang, tetapi ayahnya hanya melihatnya sebagai bayangan pahit dari kehilangan istrinya.

Tak lama kemudian, tubuh sang ayah menyerah. Hati yang terlalu rapuh untuk menanggung duka dan rasa bersalah yang tidak pada tempatnya akhirnya berhenti berdetak. Ia menyusul sang istri ke liang lahat, meninggalkan Anastasya sebatang kara di dunia ini.

Anastasya merasakan pukulan bertubi-tubi itu bagai gempa bumi yang meratakan seluruh kehidupannya. Pertama, reputasinya hancur di sekolah. Lalu ibunya meninggal dengan tuduhan palsu menimpanya. Dan kini, ayahnya menyusul, pergi dengan kebencian dan rasa sakit yang mungkin tidak pernah terjelaskan. Ia kehilangan segalanya: keluarga, rumah, nama baik, dan bahkan harapan. Ruang kosong yang ditinggalkan orang tuanya terasa begitu menyesakkan, membenamkan Anastasya dalam jurang keputusasaan yang tak berdasar.

.
.
.
.
.

Di sisi lain kota, Rafael, sang dalang dari semua kehancuran ini, merasakan kepuasan yang mendalam. Ia membaca berita tentang kematian ayah Anastasya, mengangguk pelan. Senyum puas terukir di wajahnya yang dingin.

"Sempurna," bisiknya pada diri sendiri. "Sekarang kau tahu rasanya, Anastasya."
Rencana busuknya telah berhasil dengan sempurna. Ia telah menghancurkan Anastasya dari dalam, menjadikannya kambing hitam untuk setiap tragedi yang menimpa keluarganya. Anastasya kini sendirian, benar-benar sebatang kara, tanpa dukungan, tanpa harapan, dan membawa beban tuduhan yang tidak adil. Dendam Rafael telah terbalaskan, namun dengan harga yang sangat mahal, jauh melampaui batas kemanusiaan.

.
.
.
.
.

Rafael duduk tegang di hadapan meja kerja kakeknya, aura dingin yang biasa menyelimutinya kini sedikit memudar, tergantikan oleh ketegangan yang nyata. Ini bukan ruang BK atau kantor kepala sekolah. Ini adalah ruang kerja sang kakek, tempat keputusan penting keluarga diambil, tempat rahasia disimpan, dan tempat di mana kebohongan sangat sulit disembunyikan. Udara di ruangan itu terasa berat, dipenuhi oleh tatapan mata yang tajam dan menghakimi dari para lelaki di keluarganya.

Di hadapannya duduk sang kakek, kepala keluarga yang disegani, dengan wajah keriput namun mata yang memancarkan kebijaksanaan dan ketegasan. Di sampingnya ada ayah Rafael, dan beberapa paman atau kerabat laki-laki senior lainnya. Mereka semua memiliki satu kesamaan: mereka tahu tentang insiden Anastasya, dan mereka tahu Rafael adalah dalang di balik semua kekacauan itu. Mereka mungkin tidak memiliki bukti konkret yang bisa dibawa ke pengadilan, tetapi mereka punya intuisi, informasi dari jaringan mereka, dan tentu saja, rekam jejak Rafael.

"Rafael," suara kakeknya memecah keheningan, dalam dan berwibawa. "Kami sudah mendengar semuanya. Mengenai foto-foto yang tersebar, skorsing Anastasya, dan yang terbaru... kematian orang tuanya yang tragis."

Rafael berusaha mempertahankan ekspresi datarnya. "Itu semua murni kecelakaan, Kek. Dan soal foto... itu memang tersebar."

Artur mencondongkan tubuh ke depan, matanya menatap tajam putranya. "Jangan pura-pura bodoh, Rafael. Kami tahu kau terlibat. Cara kau beroperasi, taktikmu... itu semua ciri khasmu."

Rafael menatap kakek dan paman-pamannya, senyum sinis tersungging di bibirnya. Ia muak dengan interogasi ini, muak dengan tuduhan yang sebenarnya ia akui dalam hati, tetapi tak mau ia ucapkan secara gamblang. Ia merasa keluarganya munafik, mengkhawatirkan nama baik dan bisnis alih-alih memahami "penderitaan" yang telah mendorongnya.

"Trus kalau diriku bilang itu memang ulahku, kalian mau apa?" ujar Rafael, memutar matanya malas, nadanya penuh tantangan dan sedikit provokasi. Kata-katanya, meskipun santai, memiliki bobot yang sangat berat, sebuah pengakuan tak langsung yang telanjang.

Namun, respons yang ia dapatkan justru di luar dugaan pembaca. Alih-alih marah, para lelaki di ruangan itu hanya tergelak. Tawa berat dan dalam memenuhi ruangan, seolah mereka baru saja mendengar lelucon terbaik. Wajah-wajah yang tadinya tegang kini diliputi ekspresi bangga yang aneh dan menyeramkan.
"Hahaha! Benar-benar darah daging kita!" seru salah satu paman, menepuk bahu Rafael.

Kakeknya,  tersenyum tipis. "Kau memang cerdik, Rafael. Rencana yang bersih. Tidak meninggalkan jejak yang berarti."

Kemudian, Abang sulung Rafael, Jonathan, yang sedari tadi diam mengamati, maju mendekat dan menepuk punggung adiknya. Matanya yang tajam memancarkan kekaguman yang dingin. "Jangan sampai papamu tahu kejadian ini semua ulahmu," ujar Jonathan, nadanya bukan peringatan karena marah, melainkan sebuah instruksi rahasia untuk menjaga aib keluarga tetap tertutup.

"Dia terlalu lunak dan akan menganggap ini sebagai kebodohan. Tapi kami tahu, ini adalah kecerdasanmu yang sebenarnya."
Makna Tersembunyi di Balik Kebanggaan
Pengakuan Rafael yang dingin dan sikap acuh tak acuhnya tidak memicu kemarahan, melainkan respek yang salah tempat dari para lelaki di keluarganya.

Transmigrasi papa Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang