33.

2.4K 117 1
                                        

Daren terhuyung masuk ke mansionnya, langkahnya gontai, dan sekujur tubuhnya dipenuhi lebam kebiruan. Ia bahkan sempat tersandung karpet mahal di ruang tamu, membuat Keandra dan ketiga anaknya yang sedang asyik berbincang hangat menoleh kaget. Suara tawa dan obrolan seketika lenyap, digantikan keheningan tegang.

"Daren! Astaga, kamu kenapa?!" Keandra berseru panik, langsung menghampiri Daren dengan raut wajah cemas. Ia melihat lebam di wajah dan lengan Daren, jantungnya berdegup kencang.

Deran, si kembaran, adalah yang pertama bereaksi setelah Keandra. Ia sigap menarik Daren agar duduk di sofa empuk. Matanya meneliti setiap luka di tubuh Daren dengan raut khawatir yang mendalam. Tak butuh waktu lama, Deran sudah kembali dengan kotak P3K di tangannya, dengan cekatan membersihkan dan mengobati luka-luka Daren. "Bang, ini sakit banget nggak?" tanyanya lembut.

Ravael, si bungsu, ikut berlari mendekat dengan mata membulat. "Abang kenapa bisa babak belur begini?" suaranya pecah, menunjukkan kepanikan yang nyata.
Jonathan, sang abang sulung, yang tadinya hanya memperhatikan dari jauh, kini mendekat. Ia melihat tatapan bingung Keandra dan kepanikan adik-adiknya. Dengan cepat, ia menyadari Daren pasti baru saja berurusan dengan balapan atau tawuran lagi. Jika Papa tahu, habislah riwayat Daren. Jonathan tahu ia harus bertindak.

Daren meringis saat Deran menempelkan plester di pelipisnya. Pikirannya berpacu cepat. Ia tahu ia tidak bisa jujur. "Tadi... Daren hampir kecelakaan, pa," ucap Daren, berusaha terdengar meyakinkan meski suaranya sedikit bergetar menahan perih. "Ada mobil nyelonong, terus Daren banting setir, jadi motornya oleng dan Daren jatuh."
Keandra menutup mulutnya, wajahnya memucat. "Ya Tuhan, hampir kecelakaan? Kamu baik-baik saja, Nak? Ada yang luka parah?" Rentetan pertanyaan keluar dari bibirnya, menunjukkan kepanikannya yang melampaui rasa marah.

Jonathan menahan senyum tipis. Ia tahu adiknya itu pandai berbohong. Jonathan melirik Daren dengan senyum jail. "Makanya kamu kalau bawa motor itu hati-hati, atau kau memakai motornya dengan kecepatan tinggi?" godanya sedikit.

Daren yang awalnya merasa lega dan senang karena Jonathan membantunya, kini mendelik kesal mendengar kalimat terakhir abangnya. Sialan! batin Daren. Memang sih, papanya akan lebih khawatir dengan alasan "hampir kecelakaan" daripada "tawuran," tapi kini Jonathan malah membuat percikan api baru agar dirinya dimarahi oleh sang abang sulung.

Deran yang masih sibuk mengobati, tak bisa menahan senyum geli. Daren, sesekali mengangguk membenarkan. "Makanya, Abang kalu makek motor itu santai aja jangan sampai ngebut lihat sekarang keadaanmu sampai lecet-lecet begini" timpal Deran, berhasil menyembunyikan senyum geli di balik ucapannya.

Sementara Ravael, si bungsu, dengan polosnya ikut memanasi suasana. "Iya, Abang Daren suka ngebut!" seru Ravael, matanya berbinar polos.

"Benar begitu, Daren?" Suara Keandra terdengar menyelidik, tatapannya beralih dari Jonathan ke Daren. Ada nada curiga yang tak bisa disembunyikan.

"Nggak ada kok, Ma! Abang Jo aja yang ngarang cerita!" sangkal Daren panik, sambil melotot ke arah Jonathan yang kini pura-pura tak melihat.

"Mana ada Abang pernah bohong sama papa, sih?" sahut Jonathan dengan wajah paling meyakinkan yang bisa ia buat, senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Dramanya semakin seru.

"Iya, papa! El sering kok ngelihat Abang Daren ngebut bawa motornya!" Ravael menyahut lagi, dengan semangat '45 membela Jonathan. Sepertinya si bungsu ini memang suka melihat Daren dalam kesulitan.

"Nggak kok, Pa! Abang Jo sama El bohong!" Daren tiba-tiba berseru, berusaha memutarbalikkan fakta dengan segenap kemampuannya. "Malahan mereka berdua yang sering ngebut-ngebutan kayak kesetanan di jalan! Ano kan anak baik, jadi nggak mungkin lakuin itu!" Ia menunjuk Jonathan dan Ravael bergantian, wajahnya mendadak polos tak berdosa, seolah baru saja menemukan kebenaran dunia.

Transmigrasi papa Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang