25.

3.4K 137 0
                                        

Kemarahan Anastasya meledak di tengah koridor. "Luna!" teriaknya, suaranya pecah karena amarah dan kepedihan. "Kenapa kamu bohong di ruang BK? Kenapa kamu bilang foto-foto itu asli? Kamu tahu itu tidak benar!"

Luna hanya bisa menangis, menunduk dalam-dalam, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Tubuhnya bergetar hebat, terperangkap antara rasa bersalah pada Anastasya dan teror yang ditanamkan Rafael. Kerumunan siswa semakin padat, bisikan-bisikan dan tatapan menghakimi memenuhi udara, sebagian ditujukan pada Anastasya, sebagian lagi pada Luna.
Melihat Luna yang terpojok dan Anastasya yang histeris, para "saksi" bayaran Rafael mulai bergerak. Mereka tidak bisa membiarkan Luna goyah dan mungkin membongkar kebenaran. Rafael pasti sudah memberi instruksi khusus untuk situasi seperti ini.

Salah satu siswa perempuan yang tadi bersaksi di BK melangkah maju dengan ekspresi prihatin yang dibuat-buat. "Anastasya, sudah! Kenapa kamu malah marah-marah sama Luna? Luna itu cuma jujur dengan apa yang dia lihat. Kamu harusnya terima konsekuensinya, bukan malah menyalahkan orang lain!"

Siswa laki-laki lainnya ikut menimpali, suaranya sengaja dibuat lantang agar didengar banyak orang. "Iya, nih! Jangan-jangan Anastasya panik karena kebohongannya ketahuan! Luna itu saksi mata, lho. Kamu mau memutarbalikkan fakta?"
Serangan Balik dari "Saksi" Rafael
Serangan balik dari para "saksi" ini sangat efektif.

Mereka memutarbalikkan keadaan, menjadikan Anastasya yang awalnya korban menjadi pihak yang "panik" dan "menyerang saksi". Narasi ini langsung memengaruhi opini publik di koridor. Beberapa siswa yang tadinya bersimpati pada Anastasya mulai ragu, "Benar juga, ya? Kenapa Anastasya malah marah-marah begitu kalau dia tidak salah?"

"Kalian semua bohong! Kalian dibayar, kan?!" teriak Anastasya putus asa, menyadari taktik mereka. Ia menatap salah satu "saksi" dengan tajam, namun mereka hanya menyeringai sinis.

"Dibayar apa? Kamu menuduh sembarangan, Anastasya!" sahut siswi lainnya dengan nada tinggi. "Kita semua prihatin sama Luna yang harus melihat hal itu dan jujur!"
Luna, yang awalnya menangis terisak, semakin tertekan dengan situasi ini. Ia tahu Anastasya benar, tetapi ia tidak punya kekuatan untuk melawannya. Ia hanya ingin menghilang.

Kedatangan Otoritas Sekolah
Suara gaduh dan keributan di koridor akhirnya menarik perhatian Kepala Sekolah, Bapak Wijaya, dan Bu Ratna yang baru saja keluar dari ruang BK setelah mendengar keributan. Wajah Bapak Wijaya menunjukkan kekecewaan dan kemarahan melihat keributan publik semacam ini.
"Ada apa ini?!" gertak Bapak Wijaya, suaranya menggema di koridor, membuat semua siswa terdiam. "Anastasya! Luna! Kalian berdua! Dan kalian semua yang terlibat!" Ia menunjuk para "saksi" bayaran Rafael. "Ke kantor Kepala Sekolah sekarang! Kita selesaikan masalah ini di sana!"

Anastasya menatap Bapak Wijaya dengan tatapan memohon, berharap ada keadilan. Luna yang masih menunduk hanya bisa pasrah. Rafael, yang mungkin masih mengawasi dari kejauhan, tersenyum tipis. Ia telah berhasil menciptakan kekacauan sempurna, dan kini, semua mata tertuju pada Anastasya yang terpojok.

Pergeseran Simpati Publik
Keributan di koridor telah menarik perhatian seluruh penjuru sekolah. Ketika Kepala Sekolah, Bapak Wijaya, melerai dan menggiring semua yang terlibat ke kantornya, pemandangan yang tersisa adalah Anastasya yang tampak histeris dan menuduh, berbanding terbalik dengan Luna yang terlihat rapuh, menangis, dan membisu.

Para "saksi" bayaran Rafael semakin memperkeruh suasana dengan kalimat-kalimat provokatif mereka yang memutarbalikkan fakta.
Di mata sebagian besar siswa yang menyaksikan, simpati kini bergeser sepenuhnya kepada Luna. Mereka melihat Luna sebagai gadis pendiam yang menjadi korban, terpaksa berhadapan dengan fakta memalukan tentang Anastasya, dan kini harus menanggung amarah Anastasya di depan umum. Bisikan-bisikan seperti "Kasihan Luna, dia cuma jujur," atau "Lihat Anastasya, dia benar-benar panik," terdengar di mana-mana. Citra Anastasya sebagai gadis lugu dan baik hati hancur lebur, digantikan oleh citra seorang pembohong yang marah dan tidak bisa menerima kenyataan.
Rafael, yang dari kejauhan menyaksikan seluruh adegan itu, menyeringai puas. Ini adalah hasil yang lebih baik dari dugaannya. Ia tidak hanya berhasil menjebak Anastasya, tetapi juga membuat seluruh sekolah memihak pada narasi palsu yang ia ciptakan. Anastasya kini sendirian, benar-benar terisolasi.
"Sidang" di Kantor Kepala Sekolah
Di kantor Kepala Sekolah, suasana jauh lebih tegang. Bapak Wijaya duduk di belakang mejanya, ekspresinya keras. Bu Ratna (guru BK) duduk di sampingnya, mencatat.

Anastasya duduk di satu sisi, wajahnya sembap dan matanya bengkak karena tangis. Luna duduk di sisi lain, masih menunduk dan terisak pelan. Di belakang mereka, berdiri ketiga "saksi" bayaran Rafael, dengan ekspresi yang dipaksakan seolah mereka adalah korban keadaan.
"Baiklah, saya tidak ingin ada lagi keributan di sekolah ini," Bapak Wijaya memulai dengan nada otoriter. "Anastasya, kamu dituduh menyebarkan foto-foto tidak pantas tentang dirimu sendiri, dan sekarang kamu menyerang temanmu di koridor. Apa pembelaanmu?"

Anastasya mengangkat kepalanya, suaranya serak. "Pak, saya tidak pernah mengunggah foto-foto itu! Itu editan! Dan Luna... Luna tahu itu bohong! Dia disuruh seseorang, Pak! Dia tidak mau bilang siapa!" Anastasya menatap Luna dengan putus asa, berharap Luna akan menemukan keberanian.

Namun, Luna hanya gemetar dan menggumamkan, "Saya... saya tidak bisa, Bu..." Isakannya semakin keras, yang oleh para "saksi" dan bahkan Bu Ratna mungkin diartikan sebagai tekanan karena harus mengungkap kebenaran yang menyakitkan.
Para "saksi" Rafael segera memanfaatkan kesempatan ini. "Pak, kami semua melihat foto itu, dan itu sangat mirip Anastasya," kata salah satu dari mereka. "Luna juga bilang dia melihatnya."

"Iya, Pak. Rasanya aneh saja kalau Anastasya malah menyalahkan Luna padahal Luna sudah jujur," tambah yang lain, menatap Anastasya dengan pandangan meremehkan.
Bapak Wijaya menghela napas berat. "Luna, apakah kamu sungguh melihat atau tahu bahwa foto itu asli?" tanyanya lembut, mencoba mendorong Luna untuk berbicara, berharap gadis itu tidak tertekan.

Luna mengangkat wajahnya, menatap sekilas ke arah Bu Ratna, lalu ke Bapak Wijaya, dan kembali menunduk. Teror dari Rafael begitu kuat, membekukan setiap kata di tenggorokannya. Ia hanya bisa mengangguk lemah, air mata kembali mengalir deras. Anggukan itu menjadi pukulan telak terakhir bagi Anastasya. Itu adalah konfirmasi kebohongan di hadapan otoritas tertinggi sekolah.

Melihat anggukan Luna dan konsistensi kesaksian palsu yang "meyakinkan" dari siswa lain, Bapak Wijaya mengambil keputusan. "Anastasya, dengan bukti yang ada, dan kesaksian yang diberikan, saya tidak punya pilihan lain. Kamu diskors selama satu minggu penuh, dan nama baikmu akan tercatat dalam buku catatan pelanggaran sekolah. Kami juga akan mengundang orang tuamu untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut."

Dunia Anastasya benar-benar hancur. Ia tidak bisa membela diri. Ia merasa dikhianati oleh teman yang ia harapkan bisa membantunya. Ia ditinggalkan sendirian di tengah badai kebohongan yang Rafael ciptakan. Permainan Rafael telah mencapai puncaknya. Ia berhasil membuat Anastasya menjadi kambing hitam, dan kini Anastasya harus menanggung semua konsekuensinya.

Transmigrasi papa Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang