Setelah Bu Ratna menginterupsi, Luna, dengan hati yang bergejolak antara ketakutan dan rasa bersalah yang menusuk, tidak langsung mengikuti Anastasya dan Bu Ratna ke ruang BK. Sebaliknya, ia memutar arah, langkahnya yang gemetar membawanya mencari Rafael. Ia butuh penjelasan, butuh kepastian, butuh setidaknya sedikit rasa kemanusiaan dari pemuda dingin itu.
Ia menemukan Rafael sedang berdiri santai di sudut koridor yang lebih sepi, seolah tidak ada kekacauan yang baru saja ia ciptakan. Senyum sinis masih terlukis di bibirnya. Luna mendekatinya, memberanikan diri, meskipun kakinya terasa seperti jeli.
"Rafael," panggil Luna, suaranya nyaris berbisik. "Kenapa... kenapa kau menyebarkan foto-foto itu? Dan kenapa... kenapa harus Anastasya?"
Rafael menoleh, tatapan matanya kosong, tanpa emosi. "Kenapa? Bukankah sudah jelas tujuanku sejak awal?" Nada suaranya datar, tanpa sedikitpun penyesalan. "Dia harus merasakan apa yang kurasakan. Dan kau, kau hanya pion, Luna. Ingat itu."
Rasa dingin merayapi tulang punggung Luna. Ia mencengkeram tangannya sendiri, berusaha menahan tangis. "Tapi... aku tidak bisa berbohong. Aku tidak bisa mengatakan foto itu asli di ruang BK. Itu tidak benar!"
Rafael menyeringai. "Tentu saja kau bisa. Kau akan pergi ke ruang BK, Luna. Dan kau akan mengatakan kepada Bu Ratna, kepada siapa pun, bahwa foto itu asli, bahwa kau melihat sendiri Anastasya berpose seperti itu, dan bahwa kau tahu beberapa teman lain yang juga menyaksikannya."
Luna terkesiap. "Tapi itu bohong! Aku tidak melihat apa-apa!"
"Apa itu penting?" Rafael menyela dengan nada mengejek. "Kau sudah berjanji, Luna. Atau kau ingin aku membocorkan rahasiamu, tentang sesuatu yang jauh lebih memalukan daripada sekadar foto palsu? Ingat, aku tahu segalanya tentangmu." Ancaman terselubung itu disampaikan dengan begitu tenang, namun menghantam Luna bagai pukulan telak.
"Lagipula," tambah Rafael, melipat tangannya di dada, "Aku sudah menyiapkan beberapa 'saksi'. Mereka akan mendukung ceritamu. Mereka akan bilang mereka melihat hal yang sama, atau setidaknya, mereka akan bilang foto itu asli dan Anastasya sendiri yang memotretnya atau meminta difoto. Mereka sudah kubayar. Jadi, kau tidak sendiri."
Dilema Luna di Pintu Ruang BK
Kata-kata Rafael bagai belati yang menusuk hati Luna. Ia terperangkap. Pilihan antara mengatakan kebenaran dan menghadapi kemurkaan Rafael yang tak terduga, atau berbohong dan menjadi bagian dari kehancuran Anastasya.
Ketakutan itu terlalu besar. Rafael tidak main-main.
Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Luna akhirnya berbalik dan berjalan menuju ruang BK. Setiap langkah terasa berat, seolah ia membawa beban ribuan kilo. Di satu sisi, ada wajah pucat Anastasya yang menuntut kebenaran. Di sisi lain, ada bayangan dingin Rafael yang mengancam. Ia tahu, di dalam ruang BK itu, ia harus memilih. Dan pilihan yang baru saja ia buat, di bawah tekanan Rafael, akan menentukan nasib Anastasya.
.
.
.
.
.
Ruang BK: Medan Perang Kebenaran
Ruang Bimbingan Konseling yang biasanya menjadi tempat aman untuk curhat kini terasa seperti ruang interogasi yang dingin dan menekan. Lampu neon di langit-langit memancarkan cahaya yang terlalu terang, menyoroti wajah-wajah tegang di dalam ruangan: Bu Ratna (guru BK) yang duduk di belakang meja, Anastasya di satu kursi, dan Luna di kursi lainnya, matanya menunduk dalam. Tak lama kemudian, tiga siswa lain—dua perempuan dan satu laki-laki—masuk dan duduk di kursi yang disediakan, dengan wajah datar namun sedikit tegang. Mereka adalah "saksi" bayaran Rafael.
Bu Ratna memulai dengan nada serius, "Baiklah, saya rasa kalian semua sudah tahu kenapa kita ada di sini. Pagi ini sekolah dihebohkan dengan peredaran foto-foto yang tidak pantas, dan ini menyangkut Anastasya. Anastasya, bisakah kamu jelaskan apa yang terjadi?"
Anastasya mengangkat kepalanya, mencoba mengumpulkan setiap sisa keberaniannya. "Bu, saya bersumpah, foto-foto itu bukan saya yang mengunggah. Dan... dan itu bukan foto yang sebenarnya. Saya tidak tahu siapa yang melakukan ini, tapi itu editan atau diambil di luar konteks." Suaranya bergetar, namun penuh keyakinan. Ia melirik Luna, berharap gadis itu akan berbicara.
Kesaksian Palsu Luna dan Para "Saksi"
Bu Ratna beralih ke Luna. "Luna, kamu terlihat sangat gelisah. Apakah kamu mengetahui sesuatu tentang ini? Kamu ada di dekat Anastasya tadi pagi, dan ada beberapa yang bilang kamu terlihat cemas."
Luna mengangkat kepalanya, menatap Bu Ratna dengan mata berkaca-kaca, namun kalimat yang keluar dari mulutnya adalah hasil dari tekanan Rafael. "Maaf, Bu... saya... saya memang melihatnya. Foto itu... itu asli. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan ini, tapi... saya pernah melihat Anastasya melakukan hal seperti itu... bukan di sekolah, tapi... di luar." Suaranya pelan dan terbata-bata, meyakinkan bahwa ia berbicara dengan berat hati. Air mata yang sudah tertahan akhirnya menetes, membuat kesaksian palsunya terlihat semakin meyakinkan di mata Bu Ratna, seolah Luna sedang menanggung beban kebenaran yang sulit diungkapkan.
Kemudian, Bu Ratna menoleh ke tiga siswa lainnya. "Kalian juga dipanggil karena ada informasi bahwa kalian mungkin tahu sesuatu. Apakah ada di antara kalian yang bisa memberikan keterangan?"
Salah satu siswi yang disuap Rafael, yang dikenal sebagai pembawa gosip, segera angkat bicara. "Iya, Bu. Saya juga... saya tidak sengaja melihat Anastasya di suatu tempat... dengan pose seperti di foto itu. Saya kira itu hanya kebetulan, tapi ternyata... sungguhan." Ia sengaja menambahkan detail-detail palsu yang samar untuk memperkuat kesan keaslian. Kedua siswa lainnya mengangguk setuju, menambahkan "Ya, Bu, saya juga pernah dengar gosipnya," atau "Kelihatannya memang mirip dia, Bu." Mereka menghindari tatapan Anastasya, menjaga raut wajah mereka agar terlihat seperti saksi yang enggan, bukan pembohong bayaran.
Dampak dan Keraguan Bu Ratna
Setiap kesaksian, meskipun disampaikan dengan ragu atau terpaksa, menusuk hati Anastasya seperti belati. Ia merasa dikepung, tidak ada celah untuk membela diri. "Itu bohong! Kalian semua berbohong!" teriak Anastasya, air mata akhirnya mengalir deras. Ia menoleh ke Luna, "Luna, kenapa kau melakukan ini? Kau tahu itu tidak benar!"
Namun, Luna hanya menunduk semakin dalam, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Kebisuan Luna dan konsistensi samar dari kesaksian palsu para siswa bayaran membuat situasi Anastasya semakin sulit.
Bu Ratna mengamati semuanya dengan saksama. Ada kerutan di dahinya. Meskipun kesaksian Luna dan teman-temannya terdengar meyakinkan karena kesan berat hati mereka, Bu Ratna merasakan ada sesuatu yang janggal. Luna yang biasanya pendiam tiba-tiba terlibat dalam masalah sebesar ini dan memberikan kesaksian yang begitu memberatkan? Dan mengapa tiga siswa lain itu begitu cepat muncul dan memberikan keterangan yang serupa? Kebetulan ini terlalu sempurna.
Namun, ia tidak punya bukti untuk membantah mereka. Foto-foto itu sudah tersebar, dan ada "saksi-saksi" yang menguatkan narasi bahwa foto itu asli.
"Baiklah," kata Bu Ratna, suaranya berat. "Anastasya, dengan adanya kesaksian ini, kami harus melakukan penyelidikan lebih lanjut. Saya akan memanggil orang tuamu. Sementara itu, kamu akan diskors untuk beberapa hari sampai masalah ini jernih." Ia menoleh ke Luna dan yang lainnya. "Kalian boleh kembali ke kelas. Luna, saya harap kamu bisa lebih terbuka lain waktu."
Anastasya terhuyung, dunia di sekelilingnya terasa runtuh. Ia diskors. Reputasinya hancur. Dan Luna, orang yang ia kira bisa memberinya jawaban, justru menjadi bagian dari mimpi buruknya. Rafael berhasil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi papa
Roman pour AdolescentsTidak pernah berbayang di dalam hidupnya. Kenzie kalau dirinya akan menjadi seorang ayah antagonis dan protagonis pria di novel yang dibuat oleh temen perkantorannya. "Jadi duda nih? Belum juga esek esek udah jadi duda aja monyet" *** Kenzie Agustin...
