34.

2.8K 125 2
                                        

Terselip senyum tipis di bibir Keandra, menikmati setiap detik kebersamaan yang hangat bersama anak-anaknya di ruang tamu. Riuh rendah tawa dan canda gurau menjadi melodi indah yang memenuhi penjuru ruangan, menciptakan sebuah orkestra kebahagiaan yang tak ternilai. Hari Minggu ini adalah kanvas sempurna, di mana setiap goresan kebersamaan terasa begitu berarti, menyulam ikatan keluarga yang semakin erat. Mereka berbagi cerita, saling melempar lelucon yang disambut gelak tawa renyah, seolah waktu berhenti berputar, hanya untuk merayakan kehangatan abadi ini.

Di tengah kebahagiaan yang melingkupi, seorang bodyguard muncul dengan langkah pelan, tak ingin mengusik harmoni yang tercipta. Ia mendekati Keandra dengan senyum hormat.

"Tuan Keandra," sapa bodyguard itu lembut, "ada paket yang baru saja diantarkan oleh kurir untuk Anda." Ia menyodorkan sebuah kotak kardus kecil yang terbungkus rapi.

Keandra, dengan hati yang masih berbunga-bunga, menerima kotak itu. Rasa penasaran yang menghangatkan menyelimuti dirinya, seolah paket itu membawa misteri yang akan menambah warna dalam kebersamaan mereka hari ini. Ia memegang kotak itu dengan lembut, bersiap untuk mengungkap isinya di tengah pelukan hangat keluarganya.

Tepat saat Keandra membukanya perlahan, tubuhnya tiba-tiba membeku, seolah seluruh kehangatan yang tadi memenuhi ruang tamu lenyap dalam sekejap. Di dalam kotak itu, terhampar pemandangan yang membuat jantungnya mencelos: seekor bangkai tikus yang masih baru, dengan genangan darah segar menyebar di dasar kardus, seolah sengaja dipertontonkan. Di sampingnya, sebuah pisau tajam berkilat dingin di bawah bias lampu ruang tamu, memancarkan aura mengancam.

Keandra terpaku kaku, matanya tak berkedip menatap isi kotak yang mengerikan itu. Tangannya yang memegang tutup kardus sedikit bergetar hebat, seolah menahan gejolak rasa takut dan jijik yang mendalam. Sementara itu, anak-anaknya, yang mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari perubahan ekspresi ayah mereka, berdiri dari tempat duduk mereka dan perlahan mendekat.

"Papa? Papa kenapa? Itu apa yang Papa pegang? Kenapa wajah Papa pucat sekali? Ada apa di dalam kotak itu, Pa? Apa itu sesuatu yang menakutkan? Kenapa Papa diam saja, Pa?" tanya salah satu anaknya bertubi-tubi dengan nada khawatir dan kebingungan yang jelas.

Ketika anak-anaknya ikut melihat isi kotak itu, alis mereka mengernyit dalam, mata mereka membulat sempurna, dan bibir mereka terkatup rapat menahan napas. Namun, sesaat kemudian, ekspresi ketakutan itu berubah menjadi geram. Rahang mereka mengeras, dan tangan mengepal erat.

"Apa-apaan ini, Pa?! Siapa yang berani mengirimkan benda menjijikkan dan menakutkan seperti ini?! Ini tidak lucu sama sekali! Siapa yang lancang mengganggu kita di hari Minggu ini?! Apa maksudnya mengirimkan bangkai tikus dan pisau?! Apa mereka ingin menakut-nakuti kita?! Ini keterlaluan, Pa! Siapa orang kurang ajar yang melakukan ini?!" seru mereka hampir bersamaan, nada suara mereka penuh kemarahan dan amarah yang mendidih.

Dalam benak mereka, terbersit keinginan membara untuk membuat seseorang yang telah membuat keluarga mereka menderita, dan membuat papa mereka yang perkasa merasakan ketakutan, merasakan hal yang jauh lebih menakutkan dari ini, berkali-kali lipat.

Keandra termenung, tatapannya kosong menembus dinding di hadapannya, seolah ada tabir tipis yang memisahkan dirinya dari realitas yang baru saja ia saksikan. Dalam lamunannya, bayangan bangkai tikus berlumuran darah dan kilatan pisau tajam itu kembali berputar, menusuk benaknya. Ia, Keandra, seorang mafia. Nama yang tersemat itu seharusnya memancarkan aura kegelapan dan kekejaman. Namun, sejatinya, dunia yang ia geluti adalah labirin kode dan algoritma, medan perang digital yang jauh dari hiruk pikuk darah dan jerit kematian.

Ia adalah seorang hacker kelas kakap, sang dalang di balik layar, mengendalikan arus informasi dan membongkar rahasia dengan sentuhan jari. Tugasnya adalah meruntuhkan sistem, bukan merenggut nyawa. Ia terbiasa dengan ancaman yang abstrak, virus yang tak terlihat, bukan horor yang nyata, berdarah, dan mengancam langsung di depan mata. Selama ini, ia hidup dalam bayang-bayang, sang "tukang kunci" yang membuka pintu-pintu terlarang, memanipulasi data, dan menciptakan kekacauan tanpa pernah mengotori tangannya. Area operasinya adalah ruang virtual, medan perang yang sunyi, tempat otaknya menjadi senjata paling mematikan.

Transmigrasi papa Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang