30.

3.2K 166 5
                                        


Pagi hari di mansion megah, aroma masakan sarapan tercium harum dari ruang makan. Keandra duduk di meja panjang, menatap piring di hadapannya. Di sekelilingnya, ketiga putranya—Deran, Daren, dan Rafael—sibuk dengan sarapan mereka, sesekali melontarkan candaan kecil yang membuat suasana terasa hangat. Namun, pikiran Keandra jauh melayang. Mimpi dini hari tadi masih membekas kuat di benaknya, menghadirkan kebingungan yang mendalam.

"Papa, kenapa diam aja?" tanya Deran, si sulung, dengan mulut penuh nasi. Daren dan Rafael mengangguk, menatap Keandra dengan pandangan penasaran.

Keandra hanya tersenyum tipis. "Enggak apa-apa, sayang. Papa cuma... lagi mikir sedikit," jawabnya, berusaha menyembunyikan ganjalan di hatinya.

Bagaimana bisa ia menjelaskan bisikan aneh itu? "Kau adalah aku, dan aku adalah kau!" Kalimat itu terus terngiang, menimbulkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Ditambah lagi, sosok "Keandra yang asli" yang mengaku telah tiada dan menitipkan ketiga anak ini padanya. Sungguh mimpi yang terasa terlalu nyata untuk diabaikan.

Mata Keandra sesekali melirik ke sekeliling. Mansion ini memang familiar, tempat ia tinggal selama beberapa waktu terakhir. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda sejak ia kembali. Pengamanan di gerbang depan tampak lebih ketat. Para penjaga yang berjaga terlihat asing, bukan wajah-wajah yang biasa ia lihat. Bahkan beberapa asisten rumah tangga yang berlalu-lalang pun terasa baru baginya. Semuanya terasa lebih teratur, lebih... profesional.

Ia berusaha mengusir pikiran-pikiran itu dan fokus pada anak-anaknya. Deran, Daren, dan Rafael. Mereka adalah anak-anak yang luar biasa. Ia mencintai mereka dengan sepenuh hati, seolah-olah ia memang ayah kandung mereka.

Setelah sarapan, Keandra memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan di sekitar mansion. Ia ingin memastikan perasaannya. Di setiap sudut, ia melihat hal-hal kecil yang berubah. Taman yang biasanya dipenuhi pekerja kebun yang ramah, kini dijaga oleh dua orang berbadan tegap. Ruang kerjanya yang biasanya terbuka, sekarang tertutup rapat dengan pintu baru yang kokoh. Semua ini terasa begitu asing, seolah ia telah kembali ke tempat yang sama, namun dengan lapisan realitas yang berbeda.

Keandra mengernyit. Perasaan ini begitu kuat. Ia merasa seperti ada jaring-jaring misteri yang mulai terkuak. Ia tidak bisa lagi mengabaikan keanehan yang ia rasakan.

.
.
.
.
.

Siang itu, setelah ketiga putranya berangkat sekolah dan Keandra kembali bersantai di perpustakaan mansion yang megah, ponselnya berdering nyaring. Sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal. Keandra mengangkatnya dengan perasaan tidak enak. Suara kepala sekolah Rafael terdengar di ujung sana, nadanya tegang dan mendesak. "Tuan Keandra, kami butuh Bapak datang ke sekolah sekarang juga. Rafael terlibat perkelahian serius."

Degup jantung Keandra berpacu. Ia langsung tahu ada yang tidak beres. Jarang sekali pihak sekolah menghubungi, apalagi dengan nada setegang itu. Tanpa membuang waktu, Keandra segera memacu mobilnya menuju sekolah Rafael.

Sesampainya di sana, ia menemukan Rafael, yang masih duduk di bangku kelas 8 SMP, berdiri di hadapan kepala sekolah dan seorang anak laki-laki lain yang tampak lebam di wajahnya. Rafael sendiri hanya berdiri tenang, pandangannya lurus ke depan, tanpa menunjukkan ekspresi ketakutan atau penyesalan yang berarti.

"Ada apa ini?" tanya Keandra, mencoba mempertahankan ketenangannya, meskipun hatinya bergemuruh.

"Rafael berkelahi, Tuan Keandra," ujar kepala sekolah dengan nada lelah, menghela napas panjang. "Dan masalahnya cukup serius. Anak ini, Malik, menuduh Rafael dengan hal yang... mengerikan."

Pandangan Keandra beralih ke anak laki-laki yang lebam itu. Malik. "Nak, bisa jelaskan apa yang terjadi?" desak Keandra, mencoba bersikap seobjektif mungkin.
Malik menatap Rafael dengan mata penuh dendam yang membara. "Dia... dia pembunuh!" serunya, suaranya pecah menahan emosi. Ia menudingkan jari telunjuknya ke arah Rafael, nyaris menyentuh dada anak itu. "Rafael sudah membunuh Luna! Dia pacarku! Dia yang mendorong Luna dari tangga gedung olahraga dan menggantungnya di koridor! Aku melihatnya! Aku tahu!"
Seketika, ruangan kepala sekolah menjadi hening mencekam. Udara terasa dingin, seolah membeku. Keandra terhenyak, menatap Rafael, mencari jawaban di mata putranya. Rafael tidak menunjukkan reaksi terkejut berlebihan. Ia hanya menatap Malik dengan tatapan datar, seolah tuduhan itu hanya angin lalu. Bahkan ada sedikit senyum sinis yang tersungging di bibirnya.

"Hentikan omong kosongmu, Malik," balas Rafael, nadanya tenang, hampir membosankan, namun ada kekuatan dingin di baliknya. "Kau menuduhku membunuh? Apa buktimu? Kau tidak melihat apa-apa saat itu, kau hanya muncul setelah semuanya terjadi." Rafael mengangkat bahu, seolah tidak peduli.

"Kau sendiri kan yang sering mengganggu Luna, dia berkali-kali mengeluh padaku kalau kau sering mengganggunya. Mungkin dia kesal padamu dan soal dia terjatuh di tangga itu tidak ada sangkut pautnya dengan diriku. Lagipula, kau yang memulai perkelahian ini hanya karena nilai ulangan matematikamu lebih rendah dariku dan kau tidak bisa menerima kalau Luna... yah, dia memang lebih suka berdiskusi denganku tentang pelajaran, bukan denganmu. Atau jangan-jangan kau yang melakukan itu semua dan menuduh diriku" Ia bahkan tersenyum tipis, senyuman yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dituduh melakukan kejahatan serius.

Malik mengepalkan tangannya, urat lehernya menonjol. "Pembohong! Kau tahu kau yang melakukannya! Kau tidak akan pernah bisa menyembunyikan kebenaran, Rafael!" Ia mengambil langkah maju, seolah ingin menyerang Rafael lagi. Kepala sekolah dan seorang guru segera menahan Malik agar tidak terjadi perkelahian lanjutan.

"Sudah cukup!" perintah kepala sekolah. "Tuan Keandra, saya rasa kita perlu memanggil orang tua Malik juga untuk membicarakan ini lebih lanjut. Situasinya sangat serius." Keandra yang mendengar ucapan kepala sekolah menyetujuinya.

Kurang dari setengah jam orang tua Malik sudah hadir. Suasana tegang menyelimuti ruangan kepala sekolah. Malik bersikeras pada tuduhannya, Rafael tetap tenang dengan penyangkalan. Keandra mengamati setiap ekspresi, setiap detail. Ia melihat ketakutan di mata Malik, dan ketenangan yang mencurigakan pada Rafael.

Setelah diskusi panjang yang penuh ketegangan, di mana kedua belah pihak tetap pada pendiriannya, kepala sekolah akhirnya mengusulkan sebuah solusi. "Karena tidak ada bukti konkret yang bisa membuktikan salah satu pihak, dan demi menjaga nama baik sekolah serta psikologis kedua siswa, kami mengusulkan untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan."

Orang tua Malik, yang tampak lelah dan putus asa, akhirnya menyetujui. "Baiklah," kata ayah Malik, suaranya berat. "Tapi kami ingin Rafael meminta maaf secara langsung dan berjanji tidak akan mengganggu Malik lagi. Dan kami ingin biaya pengobatan Malik ditanggung sepenuhnya."

Keandra menatap Rafael. Ia tahu Rafael tidak akan mudah meminta maaf jika ia merasa tidak bersalah. Namun, demi menutupi misteri yang lebih besar, Keandra mengangguk. "Rafael," panggilnya, "minta maaflah pada Malik. Apapun yang terjadi, perkelahian itu tidak benar."

Rafael menatap ayahnya sejenak, lalu beralih ke Malik. Dengan nada datar, ia berucap, "Maafkan aku, Malik, jika perbuatanku membuatmu tidak nyaman. Aku tidak bermaksud melukaimu." Permintaan maaf yang dingin, tanpa sedikitpun penyesalan yang tulus.

Orang tua Malik menghela napas. Mereka tahu permintaan maaf itu tidak tulus, tetapi ini adalah satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan. Mereka menerima kesepakatan itu: Rafael akan menerima skorsing selama tiga hari, Malik akan diizinkan untuk mengambil libur demi pemulihan, dan semua biaya pengobatan Malik akan ditanggung oleh keluarga Keandra. Kasus kematian Luna, yang disebut-sebut Malik, diserahkan kepada pihak berwajib yang akan melakukan penyelidikan terpisah, terlepas dari perkelahian di sekolah.







































Miminkan lihat-lihat komenan dari kalian, trus Mimin ketemu sama satu komenan. Katanya cara penulisan Mimin meningkat, emang iya,ya?.

Transmigrasi papa Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang