29.

3.3K 196 8
                                        

Lembutnya cahaya matahari pagi menyusup melalui celah-celah pepohonan yang rimbun, menari di atas rumput hijau yang tampak tak pernah tersentuh musim gugur. Di sekelilingnya, bunga-bunga berwarna cerah tumbuh dengan anggun, seolah-olah mereka sedang menari mengikuti irama alam yang tak terucapkan.

Udara terasa sejuk, tetapi penuh kehidupan. Suara burung berkicau lembut, melodi yang membangunkan jiwa dari tidur panjang.

Keandra membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa ringan, tubuhnya terasa bebas, seolah-olah segala rasa sakit yang pernah dia rasakan hilang begitu saja.

Pandangannya masih kabur, tetapi saat fokusnya mulai jelas, ia melihat dirinya terbaring di atas padang rumput yang tak pernah terlihat lebih hijau. Tanpa tahu mengapa, ada rasa ketenangan yang luar biasa mengalir dalam dirinya.

"Di mana ini?" gumam Keandra, suaranya lembut seperti angin yang berbisik, menyuarakan kebingungan yang bercampur takjub.

Dia bangkit perlahan, merasakan setiap otot tubuhnya seolah baru terlahir kembali. Dunia di sekelilingnya memancarkan aura kedamaian yang mendalam, sebuah ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dengan satu gerakan anggun, tubuhnya berdiri tegak, memancarkan aura percaya diri yang baru. Saat pandangannya menyapu sekeliling, ia menyadari bahwa ia berada di sebuah taman yang tak terhingga luasnya, dipenuhi pohon-pohon raksasa yang daunnya berkilauan bak emas di bawah sinar mentari.

Awan-awan tipis menggantung rendah di langit biru yang cerah, tanpa sedikit pun bayangan gelap yang menandakan kekhawatiran. Langit itu sendiri tampak seperti lukisan sempurna, mencerminkan ketenteraman yang merasuk ke dalam jiwanya.

Di kejauhan, siluet seseorang menarik perhatiannya. Sosok itu berdiri tegak, seolah menunggunya. Wajahnya bersinar dengan senyum lembut yang menenangkan, memancarkan aura kedamaian yang menghangatkan hati Keandra.

Perlahan, Keandra melangkah maju, setiap langkahnya terasa ringan, seolah tanah di bawah kakinya membisikkan cerita kedamaian yang tak terbantahkan.

"Apakah... aku sudah tiada?" tanya Keandra, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, dipenuhi keheranan.

Sosok di hadapannya menatapnya dengan pandangan penuh kasih, seolah telah menanti kedatangannya sejak lama. "Engkau tidak meninggal, Keandra. Engkau hanya kembali ke asalmu. Ini adalah rumah sejatimu, tempat yang dipenuhi ketenangan abadi."

Keandra terdiam, berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan. Seketika, seluruh beban kegelisahan, ketakutan, dan rasa sakit yang selama ini membelenggunya seolah lenyap, terhapus tak berbekas.

Keandra menatap lamat wajah orang di depannya hingga sebuah kalimat memecahkan keheningan. "Kau Keandra, pemilik tubuh asli, yang tega menelantarkan anaknya."

Sebuah senyum pahit terukir di bibir Keandra. "Ya, aku Keandra yang asli. Tapi aku minta tolong kepadamu, rawat anak-anakku seperti anakmu sendiri, karena waktuku di dunia telah berakhir. Dan sampaikan kata maafku kepada mereka." Suaranya terdengar lirih, namun penuh dengan beban penyesalan yang mendalam. Matanya berkaca-kaca, memancarkan keputusasaan sekaligus harapan.

Sosok di hadapannya terdiam, menatap Keandra dengan ekspresi campur aduk antara terkejut dan sedih. Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hanya suara angin yang berdesir pelan di antara pepohonan yang memecah kesunyian. Keandra menunggu, dadanya terasa sesak, menanti jawaban yang akan menentukan segalanya.

"Apa maksudmu dengan 'waktuku telah berakhir'?" tanya sosok itu akhirnya, suaranya pelan, seolah takut mengganggu ketenangan yang rapuh. Ada keraguan dalam nada bicaranya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Keandra menghela napas panjang, seolah melepaskan semua beban yang selama ini menghimpitnya. "Aku... aku sudah meninggal. Jiwaku ada di sini, di antara dimensi ini, karena ada hal yang belum terselesaikan. Aku tidak bisa kembali ke tubuh itu lagi. Tubuh itu... sudah menjadi milikmu sekarang." Ia menunjuk ke arah dirinya sendiri, ke arah tubuh yang kini ditempati oleh sosok di depannya. Sebuah kebenaran pahit yang tiba-tiba terungkap, mengguncang fondasi pengertian mereka tentang keberadaan.

Air mata mulai menetes di pipi Keandra, namun ada ketenangan yang terpancar dari tatapannya. "Aku tahu ini sulit diterima. Tapi aku mohon, jangan biarkan mereka menderita lagi. Mereka pantas mendapatkan cinta dan kebahagiaan yang tidak bisa kuberikan." Ia menatap sosok di depannya dengan tatapan memohon, seolah seluruh harapannya kini bertumpu pada orang itu. Cahaya di sekelilingnya tampak sedikit meredup, seolah mengikuti emosi yang membanjiri suasana.

"Tidak terima kasih. Aku tidak ingin hidup lagi. Jika kau ingin hidup, hiduplah sendiri!" timpal Keandra dengan nada tak ingin dibantah, menolak gagasan untuk kembali ke kehidupan yang penuh penyesalan.

Sosok di depannya, duduk sembari menatap danau yang luas nan indah itu, tanpa tertarik lebih jauh penjelasan Keandra. Ia mencoba mengalihkan pandangan dan pikirannya dari beban yang baru saja disampaikan.

Pemilik tubuh yang kesal diacuhkan, ikut duduk di sebelah Keandra, mencoba menjelaskan kembali tujuannya—apa yang membawanya (?)

"Kau adalah aku, dan aku adalah kau!" Ucap pemilik tubuh bersikeras, mencoba menjelaskan koneksi spiritual yang mendalam.

"Tidak! Kau adalah kau, dan aku adalah aku!" Keandra membantah keras, menolak untuk menerima kenyataan bahwa ada keterkita llln yang begitu erat di antara mereka, terutama setelah pengakuan pahit tentang masa lalunya.

"Kau takkan mengerti, intinya aku mohon padamu untuk merawat mereka. Mereka masih membutuhkanmu. Waktuku sudah habis. Selamat tinggal," bisik pemilik tubuh, dan saat itu pula cahaya putih menyilaukan memenuhi pandangan Keandra.

Keandra tersentak dalam tidurnya. Jantungnya berdebar kencang, napasnya terengah-engah seolah baru saja menempuh lari maraton. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, familiar dengan siluet furnitur di kamarnya yang temaram. Ketika matanya menangkap jam yang tertempel di dinding, angka digital menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ingatan akan bisikan terakhir dan cahaya menyilaukan itu begitu nyata, bukan sekadar mimpi.






































Hey gaes Mimin mintol dong sama kalian, kalau kalian baca karya Mimin tolong tinggalkan jejak. Biar Mimin tetap semangat buat lanjutin ceritanya.  Mimin lihat banyak banget yang baca tapi yang like atau komen gak seberapa. Karena itu juga Mimin jarang update, karena cuman 10% orang yang like dari yang baca.

Transmigrasi papa Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang