Pagi itu, suasana rumah Anjani cukup hangat.
Ia duduk di meja makan bersama mama dan papanya, menikmati sarapan sebelum berangkat kerja. Di sela-sela menyuap nasi goreng ke mulutnya, papa bertanya, "Bagaimana kabarnya Laksana? Dia sudah dapat pekerjaan?"
Anjani tersenyum ringan. "Masih cari-cari, Pa. Tapi dia sudah apply ke beberapa perusahaan yang butuh fotografer atau content creator. Dia lagi usaha banget"
Mama menimpali lembut "Yang penting masih berusaha, ya. Jangan sampai menyerah"
Anjani mengangguk, ia tersenyum tenang mendengar respon kedua orang tuanya
Beberapa menit terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Anjani menoleh cepat. Dari balik jendela, ia bisa melihat sosok yang sangat ia kenal-Laksana, berdiri dengan helm di tangan, menatap tenang ke arah rumahnya
Anjani berdiri pelan, agak heran "Lho... dia jemput?"
Sang papa menurunkan koran "Tumben?"
Mamanya ikut tersenyum "Mungkin kangen"
"Apasih ma" Sahut Anjani malu-malu
"Yaudah ma, pa. Jani berangkat ya" Anjani menghabiskan segelas susunya lalu menyalami mama dan papa bergantian
"Hati-hati Jani. Bilang sama Laksana, jangan ngebut-ngebut bawa motornya" Seru Papa
"Iya pa" Sahut Anjani seraya berjalan keluar
Anjani keluar rumah, masih menyimpan sedikit keheranan. Ia melangkah menghampiri Laksana yang tetap tenang menunggu di samping motornya
"Kenapa tiba-tiba jemput?" tanyanya pelan, nyaris tidak percaya
Laksana mengangguk. "gapapa, aku pengen tau rasanya nganter kamu kerja. Emangnya kenapa?"
Anjani tersenyum kecil, hatinya hangat walau tidak digombali. Ia menerima helm dari tangan Laksana "gapapa, tumben aja. Tapi makasih ya"
Tanpa banyak kata, ia naik ke boncengan dan memeluk pinggang Laksana.
Di sepanjang perjalanan, Anjani diam-diam tersenyum sendiri. Mungkin bukan karena kata-kata manis, tapi karena perhatian sederhana seperti ini terasa lebih tulus dari siapa pun yang pernah ia kenal
***
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan gedung tempat Anjani bekerja-sebuah kantor fashion retail modern bertingkat tujuh. Laksana berhenti tepat di depan lobi, lalu turun dan membuka helmnya.
Anjani ikut turun, melepas helm dan menyisir rambutnya dengan jari.
"Thanks ya San, udah nganterin aku" ucapnya.
Laksana mengangguk. "Nanti aku jemput lagi"
Anjani mengangkat alis, setengah bercanda "Serius?"
"Ya. Kecuali kamu gak mau"
Anjani tersenyum, lalu menggeleng. "Mau"
Ia masuk ke gedung, tapi sempat menoleh ke belakang. Laksana masih berdiri di sana, menyender sebentar di motornya sebelum berbalik dan pergi. Sejenak, Anjani lupa bahwa pagi ini ia harus menghadapi email bertumpuk dan jadwal meeting yang padat.
***
Begitu masuk kantor, Anjani langsung tenggelam dalam rutinitas: mengecek email, mengatur jadwal event, dan menjawab telepon. Sebagai seorang Public Relation di perusahaan fashion ternama, ia sudah terbiasa dengan tekanan tinggi.
Menjelang siang, ia mengetuk pintu ruang direktur dan masuk saat dipersilakan.
"Selamat pagi, Bu Diana"
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana (3rd)
FanfictionKetika Impian dan masa depan membuat hubungan Laksana dan Anjani selalu dalam masalah. Akankah hubungan mereka tetap bertahan?
