Keesokan harinya, Laksana datang ke kantor seperti biasa, mengenakan hoodie hitam favoritnya. Tak lama setelah ia menaruh tasnya di sudut ruangan, seorang staf dari lantai atas menyampaikan pesan “Laksana, Bu Diana minta kamu ke ruangannya sekarang”
Laksana sedikit kaget, tapi segera melangkah menuju lift dengan kepala penuh tanda tanya.
Sesampainya di ruangan Bu Diana yang bergaya minimalis namun elegan, ia mengetuk pintu pelan.
Tok
Tok
Tok
“Masuk” suara Bu Diana terdengar tegas dari dalam.
Laksana membuka pintu dan masuk. Bu Diana duduk di balik meja kerjanya, tampak serius namun tidak menyiratkan amarah apa pun.
“Silakan duduk Laksana”
Laksana menurut. Ia duduk tegap, menunggu.
“saya cuma mau kasih kabar baik” ucap Bu Diana sambil melipat tangan di meja. “Klien kita sangat puas dengan hasil fotomu kemarin. Bahkan mereka bilang ini jauh lebih menyenangkan dan profesional dibanding sesi sebelumnya”
Mata Laksana membulat sedikit “Serius Bu?”
“Sangat serius. Dan karena itu, kamu bukan hanya resmi pegang project ini, tapi juga dapat bonus”
Bu Diana menyodorkan amplop putih ke arahnya “Anggap ini bentuk apresiasi awal”
Laksana menerimanya dengan kedua tangan, masih agak tidak percaya.
“Terima kasih banyak, Bu. Saya nggak nyangka”
“Jangan terlalu rendah hati, kamu memang berbakat. Dan kamu bisa lebih dari ini, asal tetap jaga etika dan kerendahan hati”
Laksana mengangguk mantap “Saya akan berusaha terus bu”
Bu Diana tersenyum singkat “Baik. Kamu boleh kembali”
Setelah keluar dari ruangan Bu Diana, langkah kaki Laksana terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, dia merasa dihargai bukan karena kenal siapa, tapi karena benar-benar diakui dari karyanya.
Sesampainya di studio, ia duduk sebentar di bangku dekat jendela, memandangi amplop di tangannya. Bukan soal bonusnya, tapi pengakuan yang menyertainya itu yang paling membuat semangatnya kembali menyala.
“Gue bisa. Gue beneran bisa di dunia ini” gumamnya dalam hati
***
Studio kembali sibuk. Para kru sudah sibuk membereskan alat-alat dan mendiskusikan sesi pemotretan berikutnya. Laksana duduk di sudut studio, sedang memeriksa hasil editing fotonya di layar.
Tiba-tiba, pintu studio dibuka keras. Yoga datang dengan langkah tergesa, jaket disampirkan di bahu, wajahnya seperti biasa, songong dan sok penting.
“Gue datang, mana semua orang?!” serunya “Siapin alat, kita mau bahas project kemarin”
Para kru saling pandang, canggung.
“Project kemarin udah jalan, Yog” jawab salah satu kru sambil membereskan tripod.
“Hah? Jalan gimana? Model kemarin kan drama banget tuh, pasti batal kan? Gak ada gue, siapa juga yang bisa handle?”
Seorang kru lain, agak gugup, menjawab pelan,
“Yang megang Laksana, Yog. Dan projectnya berhasil. Klien suka”
Yoga terdiam sesaat, ekspresinya berubah tegang.
“Laksana?” katanya seperti tidak percaya “Itu anak baru?!”
Ia langsung menghampiri komputer editing, mengklik file hasil pemotretan yang tersimpan. Wajahnya mulai memucat saat melihat hasil jepretan Laksana, bersih, artistik, dengan mood yang kuat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana (3rd)
FanficKetika Impian dan masa depan membuat hubungan Laksana dan Anjani selalu dalam masalah. Akankah hubungan mereka tetap bertahan?
