Bagian 12

138 27 0
                                        

Pagi itu Laksana sudah berdiri di depan rumah Anjani dengan motor yang sudah menyala. Ia mengenakan jaket jeans hitam, rambut disisir rapi, dan wajahnya meskipun datar—ada semacam harapan kecil. Ia ingin memulai hari pertamanya dengan seseorang yang paling berarti baginya.

Anjani keluar dari rumahnya, sedikit terkejut melihat Laksana di sana.

“Kamu ngapain di sini?” tanyanya lembut, meski ada sedikit bingung di nada suaranya

“mau bareng. Sekalian jalan ke kantor” jawab Laksana singkat

Anjani terdiam sesaat, lalu menunduk.

“San, aku pikir lebih baik jangan dulu bareng ke kantor. Aku nggak mau orang-orang curiga. Gimana pun kita harus jaga profesionalitas”

Laksana menahan napas. Tak ada yang salah dari permintaan Anjani, tapi ada bagian dalam dirinya yang terasa diremuk pelan-pelan.

“Oh” jawabnya pendek. “Yaudah. Kamu hati-hati di jalan. Aku berangkat dulu”

Anjani menatapnya sejenak, ingin menjelaskan, tapi akhirnya hanya berkata, “Semangat hari pertamanya ya”

Laksana mengangguk, mencoba tersenyum. “Iya. Makasih”

***

Sesampainya di kantor, belum sempat ia duduk, Yoga sudah berteriak dari ujung ruangan

“Laksana! Sini bentar!”

Laksana menghampiri dengan cepat.

“Ambil tripod, reflektor, sama softbox. Buru. Hari ini kita photoshoot jam sembilan. Lu bantu angkat semua alat dan properti. gak bisa telat”

“Baik Mas” jawab Laksana datar, menahan nada

Tanpa diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri atau duduk sebentar, ia langsung sibuk mengangkut barang-barang. Studio sudah setengah jadi, dan model sudah mulai datang satu per satu.

Yoga berdiri di balik kamera, memberi arahan ke model dan kru lain dengan nada tinggi. Laksana hanya bisa berdiri di belakang, kadang diminta betulin kabel, kadang dimarahin karena reflektornya miring.

“Laksana! Lu jangan bengong. Ganti backdrop yang biru!”

“Iya Mas.”

Laksana menarik napas dalam-dalam sambil mengganti kain backdrop. Hatinya panas, tapi pikirannya tetap dingin. Dia butuh kerjaan ini. Dia butuh bukti.

***

Waktu istirahat tiba. Laksana masuk lift dari lantai studio ke kantin. Di lantai tiga, pintu lift terbuka, dan Anjani masuk. Ia kaget saat melihat Laksana di sana, berdiri dengan wajah letih, namun masih tegap.

“Eh, San! Kamu mau kemana?”

"Mau makan siang"

"Kamu belum makan?"

“Belum” jawab Laksana singkat.

“Gimana hari pertama kerjanya?” tanya Anjani dengan suara lirih.

Laksana menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis “Aman. Semua baik-baik aja”

Anjani hendak bicara lagi, tapi di lantai berikutnya, teman-temannya masuk ke lift.

“Nah, Anjani!” sapa salah satu dari mereka pada Anjani.

Mereka semua lalu menoleh pada Laksana yang berdiri di sisi kiri lift.

“Eh, kamu kenal dia Jani?”

Anjani sempat melirik Laksana sejenak, lalu menjawab dengan canggung, “Oh ini? Baru kenal sih, di sini”

Laksana (3rd)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang