Bagian 18

165 27 3
                                        

Weekend

Pagi itu udara masih sejuk, matahari belum naik sempurna, tapi suara gedoran keras dari pintu kamar Laksana sudah menggema memenuhi rumah kecil itu.

Tok

Tok

Tok

“San! Woy! Bangun! Jangan jadi fosil di kasur terus, hari ini kita mau pergi ke Villa, begooo!” teriak Danu dari luar kamar sambil terus mengetuk pintu kamar Laksana.

Dari dalam terdengar suara bergumam tak jelas.

“DANU ANAK SETAN” Laksana memekik pelan, masih setengah sadar. Ia menarik selimut sampai ke atas kepala, berharap bisa mengabaikan dunia.

Tapi Danu tidak menyerah.

“Bangun atau gue dobrak nih pintu!” ancamnya sambil menendang pelan pintu kayu itu

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dengan hentakan. Di ambang pintu berdirilah Laksana—berantakan, rambut acak-acakan, mata masih menyipit, kaos oblong kusut, dan ekspresi kesal yang tak tertutupi.

“sumpah ya Dan. Lo waras gak sih? Gedor-gedor pintu orang jam segini kayak tukang tagih utang!” serunya setengah berteriak

Danu malah tertawa terbahak “Lah, enak aja! Udah janjian mau berangkat jam tujuh pagi, ini udah setengah delapan, lo masih molor kayak mayat?”

Laksana mengerang, lalu mengucek matanya keras-keras “Gue lupa, Dan. Gue tidur jam dua semalem, ngerjain editan yang ketunda”

“Nah tuh! Makanya, hidup tuh jangan kerja mulu, San. Sesekali refreshing, makanya lo diajak sama Sari sama Laura! Biar gak pikun sebelum waktunya!”

Laksana melirik ke jam dinding “Gila juga ya. Kenapa gak sekalian lo bawa toa ha?”

Danu nyengir “Kalau gue bawa toa, lo gak bangun, gue lempar ke jidat lo”

Mau tak mau, Laksana tertawa kecil. Ia mundur ke dalam kamar “Ya udah, tunggu lima belas menit. Gue siap-siap”

“Lima belas? San, lo ngaca. Mandi aja udah lima belas menit, belum pilih baju, dan lainnya”

Laksana menyahut dari dalam kamar, “Lo kira gue mau ikut pemotretan? Ini cuma mau nginep sehari, Dan. Gampang”

Danu melipat tangan di dada, berdiri di depan pintu sambil berseru “Gue tungguin, jangan lama-lama!"

"Iye nyet!" Sahut Laksana seraya masuk ke kamar mandi

"Jangan bikin Laura dan Sari ngomel nunggu kita, yang ada kita dicakar habis-habisan sama mereka”

Dari dalam terdengar suara tertawa pendek, diikuti bunyi shower menyala.

Danu tersenyum puas. Ia tahu betul cara membuat sahabatnya itu cepat bangun—provokasi level sahabat sejati.

Beberapa menit kemudian, Laksana keluar kamar dengan tas ransel di punggung dan rambut basah.

“Gue udah siap, puas lo?” ucap Laksana kesal

Danu menjentikkan jarinya "nah, yaudah skuy kita jemput mereka”

Mereka pun berjalan keluar rumah, siap memulai akhir pekan yang mungkin akan penuh drama, tawa, dan kalau Laksana sial godaan tak henti dari Sari dan Danu.

***

Begitu Laksana dan Danu masuk ke rumah Anjani, suara cempreng langsung menyambut mereka.

“Woy! Dua jagoan kesiangan akhirnya muncul juga!” seru Sari dengan tangan di pinggang dan ekspresi penuh drama “Ini udah hampir siang, bukan pagi lagi”

Laksana (3rd)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang