Bagian 28

136 25 6
                                        

Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi ketika pintu studio terbuka perlahan. Danu masuk sambil menguap, mengenakan hoodie tipis dan sandal jepit, lalu memicingkan mata ke arah dalam studio.

Begitu melihat sofa, langkahnya terhenti.

“San?!” serunya setengah kaget.

Di sana, Laksana masih tergeletak, tertidur di sofa. Tidak seperti biasanya. Biasanya jam segini dia sudah bangun, nyapu studio, atau nyusun barang-barang kecil. Tapi sekarang, tubuhnya meringkuk dengan jaket menyelimuti sebagian badan. Rambutnya acak-acakan, dan yang paling bikin Danu heran, matanya sembab. Seperti habis menangis semalaman.

Danu pelan-pelan mendekat, lalu menepuk bahunya “San! bangun, woy! Udah pagi”

Laksana menggerak-gerakkan bahunya pelan, lalu perlahan membuka mata. Sorot matanya lelah.

Danu duduk di pinggiran meja sambil menatapnya penuh tanya, tapi tetap tenang.

“Lo sakit?” tanya Danu pelan

Laksana hanya menggeleng, lalu duduk perlahan sambil menarik napas berat.

Danu menatapnya sesaat, lalu berdiri. “Yaudah. Gue bikinin kopi dulu. Lo diem di sini”

Beberapa menit kemudian, Danu datang lagi dengan dua cangkir kopi dan dua mangkok mie instan yang masih mengepul.

“Minum kopi dulu. Terus sarapan. Lo butuh tenaga” katanya sambil menyodorkan cangkir.

Laksana hanya tersenyum tipis. Diterimanya kopi itu dan diseruput pelan.

Suasana hening sejenak. Lalu, Laksana akhirnya angkat suara, suaranya rendah dan nyaris serak

“tadi malam, Jani dateng ke studio”

Danu menoleh, diam. Memberi ruang.

“Dia nyariin gue. Bilang nyesel udah nyalahin gue waktu itu. Dia juga cerita bu Diana minta gue balik kerja” kata Laksana lirih

“Gue ngerti sih dia maksudnya baik. Tapi kenapa ya… gue ngerasa diremehin. Kayak dia gak percaya gue bisa bangun studio ini, Dan”

Danu menyumpit mie-nya pelan “Terus lo bilang apa ke dia?”

“gue usir dia pulang.”

Danu ngelirik sebentar, lalu mengangguk “lo kecewa, San. Gue ngerti.”

Laksana menatap lantai kosong “Gue sayang sama dia. Tapi ya itu… gue juga pengen dianggap mampu. Gue pengen buktiin, Dan”

Danu meletakkan sumpitnya. Ia menatap Laksana lama sebelum berkata “lo bakal buktiin suatu saat nanti. Tapi bukan buat dia atau siapa pun. Tapi buat diri lo sendiri”

Lalu ia tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana “Tapi sebelum lo buktiin apa-apa, lo mandi dulu deh. Gila, San, muka lo tuh udah kayak pembalap kalah taruhan. Rambut gondrong gak keruan, kaos apek, celana ngelipet kayak abis guling-guling di got”

Laksana hanya diam dengan candaan Danu. Sudah malas berekspresi

“Temen gue bentar lagi nyampe, dia mau liat studio ini. Calon klien pertama kita, inget?” Danu bangkit berdiri sambil mengangkat mangkuk

“Gue butuh lo tampil kayak orang bener. Bukan kayak zombie gagal move on”

Laksana hanya mengangguk, menatap sahabatnya dengan mata yang lebih tenang

“Thanks, Dan”

“Udah biasa, San. Keren kan penyelamat lo ini?” kata Danu sambil nyengir songong

"Terserah lu mau ngomong apa" Sahut Laksana malas sehingga membuat Danu mengerucut kan bibirnya

Laksana berdiri pelan

Laksana (3rd)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang