Suasana studio mendadak kacau setelah Yoga menyatakan keluar dari proyek. Para kru berkumpul berbisik-bisik dengan raut gelisah.
“Gila! dia beneran ninggalin proyek segede ini?” gumam salah satu kru.
“Mana kliennya demanding pula. Kita bisa kacau kalau gak ada fotografer pengganti” tambah kru lainnya.
“Tanpa Yoga, siapa yang mau mimpin sesi fotonya?”
Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari luar studio. Semua menoleh saat Anjani masuk dengan langkah mantap dan ekspresi serius.
“Semua, tolong tenang ya” kata Anjani, suaranya tegas namun menenangkan. “Proyek ini belum batal. Kita akan cari solusi, dan sekarang kita butuh semua orang tetap profesional dan fokus”
Para kru saling pandang, lalu mengangguk pelan.
Anjani mengarahkan pandangannya ke Laksana yang berdiri di sudut studio, masih diam.
“Laksana” panggilnya “Bisa ikut saya sebentar?”
Laksana mengangguk tanpa bicara dan mengikuti Anjani keluar dari studio, menyusuri koridor sepi menuju ruang kecil di dekat pantry.
“Ada apa Jani?” tanya Laksana pelan.
Anjani menarik napas “Aku baru dari ruangan Bu Diana. Yoga beneran keluar dari proyek. Bu Diana minta aku bantu komunikasi ke klien buat nge-hold semuanya dulu”
“Terus?”
Anjani menatap Laksana “Aku nyaranin kamu buat gantiin posisi Yoga”
Laksana mengerutkan alis “Hah? Aku?”
“Iya, aku bilang ke Bu Diana kalau kamu punya kemampuan yang oke. Awalnya beliau ragu, tapi aku yakinin. Akhirnya dia setuju. Besok kamu harus datang lebih pagi buat uji coba langsung”
Laksana terdiam “Tapi, Jani... Aku bukan siapa-siapa di kantor ini. Aku takut ngecewain”
Anjani tersenyum, pelan tapi yakin. Ia menatap mata Laksana dalam-dalam.
“San, aku tahu kemampuan kamu. Kamu punya mata yang bisa liat hal-hal yang orang lain lewatin. Kamu punya feeling. Dan yang paling penting, kamu pekerja keras”
“Jangan takut gagal duluan. Kamu cuma perlu nunjukin apa yang kamu bisa”
Laksana menatap Anjani. Rasa ragu masih ada, tapi kata-kata Anjani seperti angin sejuk yang meredakan panas dalam dadanya.
Laksana menatap Anjani. Rasa ragu masih ada, tapi kata-kata Anjani seperti angin sejuk yang meredakan panas dalam dadanya.
“Kamu yakin aku bisa?”
Anjani tersenyum lebih lebar lalu memegang lengan Laksana “Aku yakin sayang. Aku selalu ada di belakang kamu kok”
Laksana mengangguk pelan, lalu menghembuskan napas panjang. “Oke. Aku akan berusaha untuk besok”
Anjani mengulum senyuman tenang "bagus! Aku percaya kamu bisa, San”
Mereka saling menatap beberapa detik sebelum akhirnya kembali ke studio. Laksana melangkah dengan lebih ringan—keyakinan perlahan menggantikan keraguan.
***
Keesokan paginya, Laksana sudah tiba lebih awal di studio, bahkan sebelum petugas kebersihan selesai menyapu lorong. Ia mengenakan jaket hitam sederhana dan celana jeans gelap, rambutnya dikuncir rapi ke belakang. Wajahnya tampak serius, namun sorot matanya penuh tekad.
Ia mulai menyiapkan peralatan dengan cekatan—membersihkan lensa kamera, menyusun lighting, mengecek baterai, hingga memastikan latar belakang sudah sesuai brief. Semua disiapkan sendiri tanpa banyak bicara, hanya ditemani suara musik metal dari ponselnya yang diletakkan di pojok ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana (3rd)
FanfictionKetika Impian dan masa depan membuat hubungan Laksana dan Anjani selalu dalam masalah. Akankah hubungan mereka tetap bertahan?
