Di atas motor, angin pagi menerpa wajahnya, tapi tidak menyegarkan pikirannya. Otaknya penuh. Setiap lampu merah terasa lebih lama dari biasanya. Setiap klakson terasa lebih keras. Tapi bukan karena jalanan, tapi karena pikirannya yang sedang tidak tenang.
Sampai di kantor, ia langsung masuk lewat pintu depan menuju studio. Sepi. Belum ada kru yang datang.
Tapi langkahnya terhenti saat melihat seseorang berdiri membelakangi cahaya lampu studio. Rambut panjang tergerai rapi, rok kerja di atas lutut, dan sepatu heels yang masih baru
"Anjani" Panggil Laksana pada wanita itu. Wanita itu menoleh lalu tersenyum lembut
Laksana terkejut sejenak, lalu segera mengubah raut wajahnya. Ia tak mau membawa beban rumah ke hadapan perempuan yang paling ia cintai.
“Hei... pagi banget kamu” sapa Laksana ringan, mencoba terdengar ceria.
“Iya. Hari ini aku harus nemenin sesi pemotretan buat endorse. Katanya penting banget buat brand” jawab Anjani
“Jam segini belum ada yang dateng, kamu gak takut sendirian?” goda Laksana, berusaha mencairkan suasana.
“Ada kamu kan” jawab Anjani cepat, lalu menunduk malu.
Laksana terkekeh kecil, tapi matanya yang sembab tersamar oleh senyumnya yang dibuat-buat.
Sebelum percakapan mereka lanjut, pintu studio terbuka kasar. Yoga masuk dengan wajah malas, rambut acak-acakan, dan ekspresi sok penting.
Laksana dan Anjani langsung jaga jarak berakting seolah-olah mereka tidak ada kedekatan spesial.
Begitu melihat Anjani, langkah Yoga berhenti. Ia mengedarkan pandangan, lalu bertanya tajam “Kamu nona PR. Ngapain di sini?”
Anjani menoleh dengan sopan “saya ditugasin bu Diana buat nemenin sesi ini. Modelnya penting. Baru pertama kali kerja sama juga”
“Jadi bu Diana gak percaya lagi sama gue?” nada suara Yoga menekan.
“Bukan gitu” jawab Anjani tenang, “ini soal profesionalitas. Public Relation wajib nemenin kalau modelnya dari pihak luar”
Yoga mendengus pelan. Lalu tanpa komentar lebih lanjut, ia berjalan ke arah belakang. Tapi tak sebelum sempat melirik tubuh Anjani dari belakang, sorotan matanya terang-terangan dan tak sopan.
Laksana melihat itu. Napasnya tercekat. Rahangnya mengeras. Tapi ia menggigit bibir dalam diam, menahan semua yang berkecamuk di dada.
Emosinya masih digantung dari pagi dan kini ditambah oleh pandangan laki-laki brengsek itu terhadap perempuan yang ia sayang.
Tapi ia tahu, sekarang bukan saatnya meledak. Masih banyak yang harus ia selesaikan.
"Bentar ya, modelnya udah dateng" Pamit Anjani
Anjani turun ke lobby untuk menjemput model yang sudah ditunggu-tunggu oleh tim.
Seorang gadis tinggi dengan rambut panjang dikuncir rapi dan kacamata hitam sudah menunggu sambil memainkan ponselnya. Ia memakai coat putih dan boots cokelat, tampak fashionable meski tanpa usaha keras. Saat melihat Anjani menghampirinya, ia langsung berdiri.
“Jizzy?” sapa Anjani ramah
Gadis itu menurunkan kacamatanya dan tersenyum “Yup, that’s me”
“Saya Anjani, Public Relations dari perusahaan ini. Saya akan mendampingi kamu selama sesi pemotretan hari ini”
“Nice to meet you Anjani” jawab Jizzy sambil berjabat tangan “Senang akhirnya bisa kerja sama sama brand ini”
Anjani mengajak Jizzy naik ke lantai atas menuju studio. Mereka berbincang santai selama perjalanan di lift, membahas sedikit soal konsep pemotretan dan gaya busana yang akan dikenakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana (3rd)
FanfictionKetika Impian dan masa depan membuat hubungan Laksana dan Anjani selalu dalam masalah. Akankah hubungan mereka tetap bertahan?
