Bagian 22

126 25 5
                                        

Pagi-pagi sekali di rumah Anjani

Langit masih pucat ketika aroma tumisan dan nasi hangat menyelimuti dapur kecil keluarga itu. Anjani berdiri di depan kompor, memakai apron biru muda miliknya sambil sibuk mengaduk telur dan menata kotak bekal dengan rapi. Di dalamnya, sudah ada potongan chicken katsu buatan sendiri, nasi berbentuk hati kecil, dan sedikit catatan manis

“Semangat ya, sayang. Jangan lupa makan –A” dengan gambar senyum kecil di ujungnya

Mama lewat dari ruang makan sambil membawa gelas teh, lalu melirik isinya. “Wah, ada yang masak pagi-pagi. Tumben”

Anjani hanya tersipu malu. “Hehe… buat San Ma.”

Mama mendekat, mencolek pipi anak gadisnya. “Ciye, romantis banget sih. Pasti Laksana langsung semangat tuh kerjanya”

“Maaah..” keluh Anjani, pipinya merah padam

Anjani hanya tersenyum malu. Setelah semuanya siap, ia sarapan cepat lalu berpamitan pada kedua orang tuanya. Ia membawa bekal itu dalam tas kanvas kecil, dengan hati yang penuh harap agar hari Laksana lebih ringan hari ini.

***

Di Studio Pagi Itu

Laksana sudah tiba lebih dulu. Ia memeriksa kamera, tripod, dan set pencahayaan. Tangannya cekatan, meski wajahnya masih menyimpan sisa letih dan bayang-bayang amarah dari hari-hari sebelumnya.

Tiba-tiba, suara langkah berat terdengar mendekat. Yoga. Entah ada angin apa dia datang sepagi itu

“Wah, rajin banget lo, pagi-pagi udah nyampe” sapa Yoga sok akrab

Laksana tidak menjawab, hanya mengangguk singkat

Yoga menyandarkan tubuh ke meja kerja, lalu mulai membuka pembicaraan, “Gue liat-liat lo sering ngobrol ya sama si Anjani?”

Laksana menoleh sekilas "gak juga"

Yoga berjalan mendekati Laksana “Nah, Anjani tuh susah dideketin San. Tapi lo bisa? Mantep juga”

Masih belum ada tanggapan dari Laksana. Yoga makin berani.

“Gue sih dari dulu udah naksir dia. Badannya...asli, tipe idaman banget. Mukanya manis, bodynya aduh, montoknya itu gak main-main. Lo pernah liat nggak dia kalau jalan dari belakang? Wah, pinggulnya tuh—minta dipegang banget”

Wajah Laksana mulai berubah. Tangannya menggenggam erat alat di depan meja

Yoga belum selesai. Ia mencondongkan badan, suaranya makin rendah dan cabul.

“Kalau dia lagi jalan, gue selalu ngikutin dari belakang. Ya buat nikmatin pemandangan aja lah. Mikirin gimana rasanya narik dia ke ruang gelap, terus—”

“haha Lo pasti tahu lah,” lanjut Yoga sambil tertawa kecil yang menjijikkan, “itu cewek... montok banget. Seksi parah. Gimana ya rasanya—”

Buggggghh

Satu bogem telak mendarat di wajah Yoga sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat cabulnya. Tubuhnya terhuyung ke belakang, menabrak kursi.

“JANGAN PERNAH LO BERANI MACEM-MACEM SAMA ANJANI!!” teriak Laksana, matanya menyala oleh amarah.

Yoga bangkit, membalas pukulan, namun tidak berarti apa-apa bagi Laksana. Bekas anak geng motor sekaligus mantan atlet taekwondo itu langsung menghajarnya dengan ganas. Satu, dua, tiga pukulan mendarat di tubuh Yoga yang mulai panik.

Buggghhh

Buggghhh

Buggghhh

Beberapa kru berlarian masuk, mencoba melerai. Namun tubuh Laksana seperti tak bisa dihentikan—marahnya sudah menumpuk dari hari ke hari

Laksana (3rd)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang