Hari-hari setelah kejadian itu terasa kosong.
Di kantor, Anjani tetap bekerja seperti biasa—tersenyum, menyapa, hadir dalam rapat, dan menuliskan laporan. Tapi setiap kali lewat dekat studio, langkahnya melambat. Setiap sudut terasa hampa. Laksana tidak ada di sana lagi. Bahkan Yoga pun tak terlihat. Dia dirumahkan sementara karena "kasus kekerasan" yang masih diselidiki HRD
Tapi yang paling menusuk adalah ia dan Laksana tak lagi bicara
Padahal masih pacaran.
Masih punya kontak satu sama lain.
Masih saling tahu keberadaan masing-masing.
Masih... saling cinta
Tapi tidak ada yang membuka obrolan duluan.
Laksana kecewa karena saat ia melindungi, ia malah dianggap lepas kendali.
Anjani kecewa karena orang yang ia andalkan justru membuat kekacauan di tempat kerja.
Diam menjadi dinding tak terlihat yang semakin tinggi tiap hari.
Di kamar, Laksana sering memandangi chat kosong dengan nama "Anjani 🩷" tanpa berani menulis apa-apa.
Begitu pula Anjani, yang berkali-kali membuka galeri berisi foto mereka berdua tapi akhirnya menutupnya dengan napas berat.
Mereka belum putus. Tapi juga tidak benar-benar bersama.
Terjebak di antara cinta dan kecewa.
Antara ingin memeluk dan ingin menjauh.
Antara ingin dimengerti dan takut disalahkan lagi.
***
Tok
Tok
Tok
Anjani mengetuk pintu ruangan bu Diana sesaat setelah ia ditelepon oleh bu Diana melalu sambungan telepon paralel kantor di mejanya
“Silakan duduk Anjani” ucapnya tanpa menoleh.
Anjani duduk perlahan, gugup dan bertanya-tanya.
Barulah setelah beberapa detik, Bu Diana menutup map dokumen dan menatap Anjani
“kamu tau kan, Yoga masih dirumahkan. Kita tahu alasannya. Dan sekarang, Laksana juga mengundurkan diri”
Anjani hanya bisa mengangguk, hatinya mencelos “Saya minta maaf soal itu Bu”
“Bukan salahmu” potong Bu Diana cepat. “Ini keputusan yang mereka ambil sendiri”
Ada jeda sebelum ia melanjutkan. Suaranya lebih lembut
“Sejujurnya, saya menyayangkan kepergian Laksana. Anak itu punya potensi besar. Cara dia kerja, komunikasi dengan kru, cara dia memperlakukan model, semua rapi. Saya bahkan sempat berpikir dia bisa jadi kepala studio satu hari nanti”
Anjani menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.
“Tapi ya... nasi sudah jadi bubur. Mau bagaimana lagi.”
Bu Diana menyandarkan tubuhnya ke kursi, helaan napasnya terdengar berat
“Kita harus segera cari fotografer baru sebelum project akhir bulan jalan. Saya ingin kamu bantu cari kandidat secepatnya. Pakai koneksi kamu kalau perlu”
“Baik Bu. Saya usahakan” jawab Anjani pelan.
Mereka terdiam sejenak, lalu Bu Diana menambahkan “Kalau kamu masih bisa menghubungi Laksana, setidaknya bilang ke dia, saya berterima kasih”
Anjani menatap atasan itu, matanya berkaca-kaca namun ia hanya mengangguk.
“Baik Bu.”
Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah berat. Bukan hanya karena tanggung jawab baru, tapi karena satu nama yang masih tertinggal di hatinya, Laksana.
***
Setelah keluar dari ruangan Bu Diana, Anjani kembali ke mejanya. Tangan kirinya memeluk map dokumen sementara tangan kanannya menggenggam ponsel yang sejak tadi terasa berat di genggaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana (3rd)
FanfictionKetika Impian dan masa depan membuat hubungan Laksana dan Anjani selalu dalam masalah. Akankah hubungan mereka tetap bertahan?
