Bagian 24

125 28 4
                                        

Sudah hampir dua minggu sejak kejadian di studio itu. Sejak hari itu, Laksana dan Anjani benar-benar tak saling bicara. Tidak ada pesan, tidak ada telepon, bahkan tidak pernah bertemu. Seperti orang asing yang pernah dekat.

Bukan karena mereka tidak peduli. Tapi karena masing-masing masih menyimpan luka. Anjani kecewa, Laksana juga. Keduanya memilih diam karena tidak tahu harus memulai dari mana.

Anjani kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ia tetap profesional, tetap terlihat tenang. Tapi dalam hati, ia masih sering kepikiran tentang Laksana.

Sementara itu, Laksana juga fokus dengan rencana-rencana barunya. Ia mulai menyusun ide untuk membangun studio foto sendiri, sesuatu yang sudah lama ia impikan. Ia tahu, satu-satunya cara untuk bangkit adalah bergerak maju.

***

Siang itu, suasana di Strong Brew cukup sepi. Hanya ada dua atau tiga pengunjung yang tenggelam dalam laptop dan kopi masing-masing.

Di sudut jendela besar yang menghadap ke jalan, Laksana duduk sendiri di meja kayu. Laptop terbuka di depannya, ditemani sebuah buku catatan yang penuh coretan, dan segelas es kopi yang tinggal separuh.

Dia menghitung-hitung ulang dengan dahi berkerut. Biaya sewa tempat, alat lighting dasar, kamera tambahan, interior studio, bahkan untuk papan nama. Semua dijumlahkan ulang, namun hasilnya tetap sama, kurang. Bahkan terlalu jauh dari cukup, jika hanya mengandalkan tabungan ayah dan sisa uangnya.

Danu duduk di seberangnya, menyedot kopi dengan santai, lalu mengangkat alis saat melihat wajah frustasi Laksana

"San, lo mau punya studio, tapi kalau kayak gini, yang ada lo hanya bisa bangun tenda dulu di parkiran" celetuk Danu, mencoba mencairkan suasana

Laksana hanya mendesah frustasi “Gue tahu... Tapi semuanya mahal, Dan. Tempat aja udah setengah dari total dana gue. Belum alat. Belum operasional”

Danu mengangguk-angguk, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia terlihat berpikir sejenak, sebelum akhirnya bersuara pelan.

“Lo inget gak sama Bang Jordy?”

Laksana mengernyit “Yang suka gelar balapan?”

“Yup. Gue masih ada kontaknya dan aktif. Gue juga sering lihat statusnya kalo dia masih sering bikin balapan, dan taruhannya lumayan, cukup lah buat tambahan lu beli alat-alat yang lu butuhin"

"Kalo lu mau, gue akan minta bang Jordy masukin lo jadi peserta buat ajang balapan minggu depan” tawar Danu

Laksana menoleh pelan "Dan"

“Dengerin dulu” potong Danu cepat “Lo cuma ikut satu kali San. Bukan berarti lo balik ke masa lalu lo. Ini cuma jalan pintas biar lo bisa ngejar studio lo”

Laksana terdiam lama. Matanya menatap kosong ke arah jendela. Jalanan luar tampak biasa saja, namun pikirannya jauh lebih ribut dari lalu lintas manapun.

“Gimana kalau Anjani tahu gue balik balapan?” tanyanya lirih

“Loh, kalian udah semingguan gak saling kontak kan?” ujar Danu agak hati-hati

“Dia juga sibuk. Lo juga sibuk. Lo gak lagi nyakitin siapa-siapa San. Lo cuma lagi ngejar mimpi lo dan ini caranya” bujuk Danu meyakinkan

Laksana menunduk. Hatinya bimbang. Dia tahu ini bukan hal yang Anjani sukai. Tapi dia juga tahu, mimpi membangun studio bukan mimpi yang bisa digantung selamanya. Dia harus mulai, harus bergerak.

“Cuma satu kali” gumamnya akhirnya.

Danu tersenyum miring “Satu kali. Dan lo dapet alat lighting paling keren buat studio lo”

Laksana menarik napas panjang. Dalam hatinya, ada rasa bersalah yang belum sempat diungkapkan pada Anjani, pada dirinya sendiri. Tapi ia memilih diam. Untuk sekarang, ia hanya ingin fokus pada satu hal, yaitu mimpinya

Tbc

Laksana (3rd)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang