Malam pun turun perlahan, menutupi villa dengan udara dingin dan aroma tanah basah khas pegunungan. Tapi bukannya tidur, justru malam itu jadi puncak keseruan mereka.
Ruang tengah villa berubah jadi arena karaoke. Sari dengan semangat bak biduan dangdut membuka sesi dengan suara lantang dan ekspresi dramatis yang bikin semua orang terpingkal. Laura ikut naik panggung, lebih tepatnya sofa—membawakan lagu cinta tahun 2000-an sambil melenggak-lenggok, padahal suaranya serak-serak kelelahan. Tapi bukannya dihentikan, malah disoraki seisi ruangan.
Danu bahkan merekam pakai ponsel dan bilang “Ini gue upload ke TikTok pasti viral hahahaha”
“Awas lo Dan!” teriak Sari sambil tetap nyanyi, tidak mau kalah volume dari lagu yang diputar
Setelah puas berteriak-teriak sampai tenggorokan kering, mereka semua pindah ke halaman belakang villa. Lampu-lampu taman kecil menyala temaram, dan mereka menyalakan bara untuk barbeque. Aroma sosis, ayam, dan jagung bakar mulai menyebar, bercampur dengan suara tawa dan gemerisik api.
Laksana duduk agak menjauh, di pinggir rerumputan, menikmati langit malam yang bersih dari polusi. Tangannya memegang cangkir berisi teh hangat, matanya menerawang.
Tak lama, Anjani datang menghampirinya sambil membawa sepiring jagung bakar yang masih hangat.
“Untuk kamu, fotografer kesayanganku” ucapnya pelan sambil menyodorkan piring itu dengan senyum hangat.
Laksana menerimanya dengan senyuman dan anggukan kecil “Makasih, sayang”
Anjani duduk di sebelahnya, menyender sedikit ke lengan Laksana. Udara dingin membuat mereka saling mendekat, tapi kehangatan di antara mereka lebih dari cukup untuk menepis angin malam.
“Kamu capek?” tanya Anjani sambil menggigit jagungnya.
“Capek sih iya. Tapi lihat kamu kayak gini, jadi lupa” jawab Laksana, menatapnya sekilas lalu kembali menatap langit.
Anjani tertawa pelan “Gombalan kamu meningkat ya sejak kerja bareng aku. Apa jangan-jangan kamu diajarin Yoga?”
Laksana menyunggingkan senyum tipis. “Itu bukan gombal. Itu pengakuan”
Mereka pun larut dalam percakapan ringan tentang mimpi, pekerjaan, tentang betapa mereka bersyukur bisa duduk di bawah langit malam seperti ini bersama.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
“Hei! Jangan berduaan terus, nanti yang ketiganya setan!” seru Sari dari dekat api barbeque
“Astagaaaaa... Sari mulai ceramah” timpal Laura
“udah gausah didengerin San, Sari sirik tuh begitu" Celetuk Danu sambil membalik sosis di panggangan
"Enak aja, sembarangan" Sahut Sari
Laksana hanya nyengir, sementara Anjani makin salah tingkah. Tapi bukannya menjauh, ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Laksana.
“Biarin. Yang penting setannya bahagia” balas Anjani santai
“UWWWOOOHHHHHHH!!” semua bersorak menggoda.
“Udahlah, pada ngumpul sini semua! Ayo foto bareng!” ajak Laura, mengganti suasana
Mereka pun berkumpul di bawah lampu taman, saling merapat, tertawa dan membuat pose paling absurd yang bisa dibayangkan. Sari berpose cantik dan anggun supaya keliahatan bagus, Danu mengangkat sosis ke arah kamera, sementara Laksana dan Anjani hanya tersenyum—cukup satu pandang, satu kehadiran, dan satu momen yang diam-diam mereka simpan dalam hati.
Malam itu penuh kehangatan, candaan, dan cinta. Mungkin mereka tidak tahu apa yang menunggu esok hari, tapi saat itu semuanya terasa cukup.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana (3rd)
FanficKetika Impian dan masa depan membuat hubungan Laksana dan Anjani selalu dalam masalah. Akankah hubungan mereka tetap bertahan?
