Hari-hari telah berlalu,
Pagi itu Anjani turun dari lantai dua dengan pakaian kerjanya yang rapi. Kemeja putih bersih dan celana bahan berwarna krem membuatnya terlihat profesional sekaligus elegan. Rambutnya dikuncir setengah, riasannya tipis tapi cukup menonjolkan keanggunannya.
Di meja makan, papa dan mamanya sudah duduk sambil menikmati sarapan. Aroma nasi goreng dan telur mata sapi menyambutnya.
"Pagi ma, pa" sapa Anjani sambil duduk.
"Selamat pagi sayang" sahut mamanya.
Papanya menurunkan koran, menatap Anjani sejenak “Gimana kerjaan Laksana selama beberapa hari ini di kantor kamu? Dia bisa menyesuaikan diri?”
Anjani menyendokkan telur ke piringnya sambil menjawab ringan, “San masih adaptasi, Pa. Namanya juga baru masuk kerja beberapa hari. Jadi masih perlu waktu untuk menyesuaikan diri”
Papanya mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada yang terdengar tenang tapi mengandung makna tajam “Kamu bilangin dia ya, kerja yang baik. Jangan sampai bikin kamu malu di kantor. Apalagi kalo orang tahu dia pacar kamu”
Anjani terdiam sesaat. Senyumnya menghilang. Dalam hatinya, ia tidak terima—seolah Laksana dianggap beban sejak awal.
"Baru juga mulai kerja Pa, udah ngomongnya begitu" Batinnya Anjani
Tapi Anjani hanya menjawab pendek “Iya, nanti aku sampaiin”
Mamanya segera menimpali, mencoba menyejukkan suasana “Kita doakan saja supaya Laksana cepat bisa beradaptasi. Dia kan memang orangnya serius, pasti nanti pelan-pelan bisa menyesuaikan diri”
Papanya hanya bergumam sebagai jawaban sambil kembali membaca korannya
Anjani menghela napas diam-diam, lalu kembali menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
Di dalam hatinya, ada kegelisahan kecil yang mulai tumbuh. Ia tahu dunia kerja tidak selalu adil, dan ia tahu Laksana bukan tipe orang yang bisa langsung menyatu dengan lingkungan baru—terutama yang penuh drama seperti tempat kerjanya.
Tetapi dia memiliki harapan bahwa Laksana akan membuktikan dirinya, tanpa harus berubah jadi orang lain.
***
Sedangkan itu di rumah Laksana.
Laksana turun dari kamarnya dengan mengenakan kaos polos dan jaket tipis, dipadukan dengan celana hitam yang nyaman namun tetap pantas untuk bekerja. Langkahnya melambat ketika ia melihat sosok kakak perempuannya sedang duduk di meja makan, sibuk menyuapkan nasi goreng sambil sesekali berbincang dengan sang ayah.
"Lho, lo di sini kak?" tanya Laksana sambil berjalan mendekat
Sasa menoleh dengan senyum cerah “Iya dong. Gue sengaja mampir, mau lihat Ayah. Masa nunggu ayah sakit dulu baru kesini?”
Ayah hanya tertawa kecil, meneguk teh hangatnya “Kamu tuh jangan terlalu sering mikirin Ayah, Sa. Udah punya suami, rumah sendiri. Hidup kamu sekarang di sana.”
Sasa meletakkan sendoknya, menatap ayah dengan mata penuh sayang “Sasa tau, Yah. Tapi kan gak berarti Sasa lupa sama Ayah. Lagian, kalau Ayah sehat, hati Sasa juga tenang. Penyakit jantung itu gak bisa ditebak”
Ayah tersenyum, meskipun lelah tampak dari garis wajahnya “Ayah masih kuat, kok. Gak usah terlalu dipikirin”
Laksana menarik kursi dan duduk sebentar di meja makan, ikut menyimak obrolan mereka sambil menatap jam di dinding.
Sasa meliriknya, lalu bertanya “Lo pagi-pagi gini udah rapi. Mau ke mana?”
Laksana menghela napas, lalu menjawab, “mau berangkat kerja"
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana (3rd)
FanfictionKetika Impian dan masa depan membuat hubungan Laksana dan Anjani selalu dalam masalah. Akankah hubungan mereka tetap bertahan?
