Bagian 26

157 31 5
                                        

Studio itu masih kosong. Dindingnya baru dicat putih, lantainya masih berdebu, dan lampu-lampu belum semuanya terpasang. Tapi bagi Laksana, tempat itu lebih dari sekadar ruang kosong—itu adalah awal dari sesuatu yang nyata.

Dengan uang hasil balapan dan bantuan dari ayahnya, Laksana menyewa sebuah ruko mungil dua lantai di pinggir kota. Lokasinya cukup strategis, tidak terlalu ramai tapi tetap mudah dijangkau. Lantai bawah akan jadi ruang studio dan tempat foto, sedangkan lantai atas disulap menjadi ruang editing sekaligus tempat istirahat.

Danu nyaris selalu ada di sana. Sejak awal pembangunan, dia yang bantu pasang lampu, ngangkut peralatan, bahkan ikut menyusun properti. Dia rela ninggalin restorannya, karena baginya, ini adalah proyek sahabatnya dan itu sepadan.

“Lo sadar gak San” kata Danu saat mereka sedang menyusun backdrop di ruang foto “dulu kita berdua cuma ngumpul buat ngisep rokok dan nonton balapan. Sekarang kita bikin tempat kayak gini”

Laksana menoleh, lalu tersenyum kecil “Gue bersyukur banget punya lo, Dan”

Danu melirik “Ya iyalah. Tanpa gue, lo pasti udah pingsan ngerakit lampu ini sendirian”

Laksana tertawa “Bangsat”

Mereka tertawa bersama. Keringat dan debu menempel di wajah, tapi di dalam hati, ada rasa bangga yang tidak bisa diukur.

***

Di tempat lain, kantor itu seperti biasa sibuk. Anjani berjalan menyusuri koridor dengan membawa dokumen yang akan ia antarkan ke bagian desain. Tapi langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan seseorang

Yoga. Pria itu baru saja keluar dari ruang Bu Diana. Wajahnya lesu, matanya merah, dan langkahnya tak lagi congkak seperti dulu.

Saat melihat Anjani, ia berhenti sejenak, lalu menunduk pelan.

“Anjani” sapanya lirih

Anjani diam, tak menjawab.

Yoga menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada berat “Gue mau minta maaf”

Anjani menoleh dengan ekspresi datar.

“Gue tahu, mungkin semua udah telat. Tapi gue cuma mau bilang kalau gue nyesel” lanjut Yoga, suaranya serak.

“Semua yang terjadi waktu itu, itu salah gue. Laksana, dia bener. Dia marah karena gue ngatain lo, gue kelewatan”

Mata Anjani sedikit melebar “Apa maksud lo?”

“Gue ngomongin lo seenaknya. Ngejelekin lo dan jadikan lo bahan objek yang gak pantas. Dan dia gak bisa nerima itu. Makanya dia mukul gue” jelas Yoga

Yoga menunduk dalam “Dan lo tahu? Dia bener. Gue pantes digituin”

Anjani terdiam. Kata-kata Yoga menusuk ke dalam hatinya. Rasa bersalah yang sempat ia tekan, kini muncul lagi ke permukaan.

“Dia sabar banget. Gue ngerendahin dia tiap hari, tapi dia tahan. Sampai akhirnya gue sentuh hal yang dia gak bisa maafin” tambah Yoga pelan

Anjani menatap lantai. Suaranya nyaris tak terdengar saat ia bertanya “Kenapa lo baru bilang semua ini sekarang?”

Yoga menghela napas “Karena gue baru sadar sekarang. Gue dipecat barusan. Dan gue pikir ini semua karma dari gue sendiri. Jadi, sebelum gue pergi, gue pengen lo tahu yang sebenernya”

Hening sejenak. Lalu Yoga melangkah pergi, meninggalkan Anjani yang masih berdiri terpaku.

Matanya berkaca-kaca.

Ternyata semua benar. Ternyata Laksana tak pernah salah. Ia hanya terlalu cepat menilai dan terlalu lambat untuk mempercayai.

Dan sekarang, Laksana sudah tidak ada di sisinya lagi.

Laksana (3rd)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang